Rabu, 19 Mei 2010

Tercabik

: thx Mas YH for such contemplative moment.

"Saya mungkin bukan jenis orang kayak gitu."

"Kayak gimana?"

"Yang bisa tahu pasti apa yang jadi tujuan dalam hidup saya, gitu."

"Saya pikir dengan tahu apa yang kita tuju, kita tidak memboros-boroskan begitu banyak hal--waktu, tenaga, uang."

"Memang kamu tahu sejak awal apa tujuanmu?"

"Ya, saya memilih. Saya punya strategi untuk mencapai tujuan itu. Dan tentu, saya punya rencana cadangan jika tidak berhasil. Intinya adalah, selalu tahu apa tujuanmu sejak awal mula. Itu adalah salah satu kualitas yang dicari oleh banyak orang saat ini--tahu mau jadi apa dan hendak ke mana. Coba bayangkan kalau kamu ditanya apa tujuanmu dan kamu jawab tidak tahu."
*****

Ya, keteracakan sudah jadi suatu hal yang tidak pernah bosan-bosannya memukau saya. Tetapi sebuah percakapan di tengah hari yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tanpa diketahui, tiba-tiba terasa begitu menyentak. Berapa kali saya dan beberapa orang bercanda (atau serius) tentang betapa kami tidak tahu hendak jadi apa, hendak melakukan apa, dan hendak ke mana. Tetapi itu sesuatu yang asal lewat saja. Sesuatu yang dahulunya saya pikir menjadi sebuah privilese dari kemudaan--menjalani hidup yang penuh kejutan tanpa pikir panjang tentang masa depan.

Tetapi apa yang dahulu selalu terasa ada di depan dan harus dikejar, sekarang datang mendekat dan berbalik mengejar. Hei, siapa sangka kita sebenarnya tak pernah terlalu muda untuk mengira-ngira apa yang telah kita lewatkan dan apa yang akan datang? Saya ingat baris-baris lagu yang selalu saya nyanyikan dengan kegembiraan bersama teman-teman: 'cause we are so young now, we are so young now. and when tomorrow comes we just do it all again. Menjalani hidup yang berisi repetisi dan tanpa pernah terlalu banyak berpikir, hanya menjalani. Hanya menggelinding dari hari ke hari.

Ada dua pepatah berharga yang sama populernya untuk menggambarkan dua cara besar menjalani hidup: "Yesterday's a history, tomorrow's a mystery, but today's a gift. That's why we call it Present", atau "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".

Saya ingin merangkaikan keduanya menjadi satu pepatah. Any idea?


- M O O N Y

1 komentar:

Ana mengatakan...

wow.
saya juga bukan orang yang seperti itu. Selalu menjalani apa yang ada kaya air yang ngalir, itulah saya. tapi mungkin bener seperti katamu, kita ngga pernah sadar apa yang udah terlewat oleh diri kita sendiri.

eniwei, pepatahnya terkenal semenjak ada film kung fu panda, hehehe