Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2017

Buku Wajib

Pekan lalu, seorang teman mengajak saya ke toko buku Post di Pasar Santa, Jakarta, untuk mampir membeli buku. Dia berniat membelikan saya buku Howl karangan Allen Ginsberg. Kami tiba di sana di tengah hujan lebat, toko yang terlambat buka, dan penjaga toko hari itu yang bilang bahwa stok buku Howl sudah habis (lagi). Teman saya menawarkan saya untuk membeli buku lain, dan saat itu, saya tidak ragu-ragu untuk minta dibelikan Hidup di Luar Tempurung-nya Benedict Anderson. Sudah agak lama, buku ini direkomendasikan oleh beberapa orang yang saya kenal, tapi saya tergerak untuk membaca ini segera setelah saya bertemu teman saya di Pamflet, Fahmi, salah satu pembaca buku sejarah tergiat yang pernah saya kenal.

Saya tahu buku ini akan segera jadi buku favorit saya setelah saya membaca halaman pertamanya. Sampai di halaman 105, persis di tamatnya bab "Kerja Lapangan", saya tahu buku ini akan jadi salah satu buku wajib saya setelah Catatan Seorang Demonstran dan Motorcycle Diaries. Ada banyak buku yang suka saya baca berulang-ulang, tapi dua buku tadi adalah dua buku yang paling saya sayang--dalam arti saya bawa ke mana-mana dan saya coreti dan saya lipat-lipat sampai kelihatan jelek. Yang pertama semacam 'tuntunan' masa SMA dan kuliah, yang kedua 'tuntunan' di tahun-tahun pertama bekerja.

Membaca Hidup di Luar Tempurung saat ini jadi terasa seperti semacam cambukan untuk memikirkan banyak hal secara lebih serius. Saya belum selesai membacanya, tetapi bagaimana Ben Anderson mengartikulasikan sejarah hidup dan pikirannya betul-betul membuat saya terkesan. Sekarang ini saya baru selesai membaca bab Kerja Lapangan yang membuat saya sulit tidur. Setelah selesai, saya akan cerita kenapa.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Gelombang

Dua belas tahun setelah Akar terbit pertama kali, dua minggu setelah terakhir kali pembahasan tentang imata diulangi lagi di hari Minggu sore, beberapa jam setelah seorang kawan bertanya melalui Whatsapp, "Emang kamu nggak takut kawin?" dan kujawab "Aku lebih takut mati", dan dia bertanya "Kenapa?", yang kujawab "Bukan matinya, tapi setelahnya", dan dia bilang "Emang hidup abis mati betulan ada ya?", yang kujawab lagi setelah beberapa menit terdiam "Harusnya sih, kalau enggak hidup jadi pointless, kan?", aku menutup halaman terakhir novel berjudul Gelombang. Novel yang, tentu saja, bicara tentang mimpi, yang lupa, yang ingat dan yang ingin semua manusia tetap lupa. 

Jangan terkejut kalau pada halaman terakhirnya Kell muncul lagi dan bernyanyi: I am the eye in the sky, looking at youuu.. I can read your mind, karena dalam hidup ini memang tidak pernah ada yang kebetulan. Iya, kan, Tuhan? (Atau siapapun yang baca ini?)


-M O O N Y


Selasa, 12 November 2013

"Awam Hakiki"



Minggu, 01 September 2013

Justifikasi

"Aku tidak butuh tokoh nyata untuk kukagumi," dia menjawab sederhana. "Sebesar-besarnya tokoh hidup, dia tetap manusia. Kita harus menyediakan maaf untuk kemanusiaannya. Bagiku memaafkan tokohku berarti menurunkan dia satu anak tangga. Tidak bisa. Dia tidak lagi di puncak kagumku."

Kembang Manggis (1985: 30)

Minggu, 20 Januari 2013

Galau a la Gie

Aku tidak percaya akan sesuatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa. Aku tak percaya apa-apa. Tetapi aku sekarang masih mau hidup. 
Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri. 
Bagaimana bila memang hidup adalah keruntuhan demi keruntuhan? Apakah kita harus berpaling dari fakta-fakta ini?

Soe Hok Gie, 30 Maret 1962, dengan sedikit perubahan.

Sabtu, 01 September 2012

Supernova

Supernova, saya mulai malas pergi melayat. Saya sedih melihat orang-orang berdukacita akan sesuatu yang seharusnya membahagiakan.  
>> Saya juga malas, dengan alasan yang sama. Tapi pergilah untuk orang-orang yang merasa ditinggalkan itu. Anggaplah mereka menangis karena diri mereka belum terbangun dari mimpi sementara yang mati sudah. Sama malasnya saya pergi ke resepsi pernikahan. Kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan orang-orang malah turut bersukacita. Yang jelas mereka memang membutuhkan doa. Banyak doa. Datanglah untuk berdoa. 
Supernova, saya suka sekali membaca artikel Anda tentang budaya pop dan post-modernisme. Dari artikel-artikel Anda selama ini, apakah Anda sadar bahwa Anda adalah seorang post-strukturalis? Anda menentang semua struktur. 
>> Saya post terhadap apa pun yang Anda pegang tahun lalu, kemarin, bahkan detik yang barusan lewat. Kita sedang berevolusi. Anda bisa memperlancar prosesnya dengan berhenti menggolong-golongkan. Jangan repot-repot.
Supernova, kebencian dan ketakutan saya pada ortu saya tidak tertolong lagi. Saya tidak tahu mesti ngapain. Saya baru sadar, saya TIDAK TAHU APA-APA. Tidak bertujuan. Tidak punya cita-cita. Bertahun-tahun saya dibesarkan dan saya cuma bisa menghabiskan oksigen. Entah apa saja yang mereka jejalkan dalam otak saya. Mungkin cuma kentut. Jangan salahkan saya kalau saya lebih doyan drugs. Mereka yang marah-marah itu tidak tahu enaknya drugs dan sucks-nya hidup. Bisanya cuma masukin anak ke RSKO. Bolehkah saya ketemu kamu, Supernova? Saya mau kerja apa saja untuk kamu. Saya ingin jadi bermanfaat. 
>> Di Supernova, pikiran kamu didisinfeksi. Infeksi pertama yang harus kamu sembuhkan adalah: kebencian dan ketakutan kamu. Bukan pada orang tua kamu. Tapi pada diri kamu sendiri. Satu-satunya yang tidak diajarkan padamu adalah mengenal diri sendiri. Karena itu kamu benci dan takut kepada hidup. Satu-satunya hal yang dilakukan drugs untuk kamu adalah meminjamkan seremah surga dengan bayaran segumpal sel otak. Transaksi yang sama sekali tidak sepadan. Solusi yang benar-benar destruktif. Otak kamu dapat disegarkan tanpa harus dirusak fungsinya. Tergantung apa yang kamu pikirkan--yang MAU kamu pikirkan. Satu-satunya manfaat yang bisa kamu berikan pada Supernova adalah meledak bersama. Ledakkan pikiranmu. Segarkanlah ia dari virus-virus yang membuat arus hidup ini mampat. Supernova ada di mana-mana. Saya, kamu, kita lebih LUAS dari yang kamu duga. Jadi, percayalah, kehadiranmu di sini adalah manfaat terbesar. Tanpa kita harus bertemu muka. 
Supernova, kamu adalah VIRUS!! 
>> Memang. Baru sadar?


Re-reading all Supernovas and finding out that this paragraph pretty much sums up what I feel toward these books.  

Senin, 04 Juni 2012

Di Tengah Sekian Milyar Dunia Diam

"Pernahkah anda bertanya diri, darimana anda dapat bertanya diri? Betapa menakjubkan makhluk yang dapat berpikir, merefleksi, mengambil keputusan sendiri, merdeka dari kepastian nasib, merancang, berkreasi, bahkan semakin mencerdaskan kecerdasannya sendiri. Sampai seolah-olah tiada tabir dan rahasia semesta yang akhirnya tidak jatuh dalam daya tangkap si dia yang disebut manusia itu. Namun dari pihak lain, manusia yang gilang-gemilang itu, yang bangga menyatakan diri abdullah bahkan putra-putri angkat Tuhan, yang hanya dalam 500 tahun tradisi sains dan teknologi telah berhasil menjangkau jauh ke sekian milyar tahun-cahaya titik awal dan batas-batas luar kosmos makro, dia yang menyusup ke dalam se-per-sekian-milyar mikromilimeter sub-atom, pada waktu yang sama harus menanggalkan busana kebesarannya lapis demi lapis. "

Dari dulu saya punya kebiasaan untuk menilai bagus atau tidaknya buku dari paragraf pertamanya. Paragraf di atas membuka bab pertama dari Putri Duyung yang Mendamba, yang ditulis oleh Romo Mangun di tahun 1987. Judul bab-nya saja langsung membuat bola mata saya kepincut setengah mati: Di Tengah Sekian Milyar Dunia Diam. Buku ini tidak tebal, cukup untuk dicolong pinjam dari seorang teman dan dibaca selama perjalanan dari Jakarta ke Jogja dengan kereta. Sisa waktunya? Lebih dari cukup untuk dipakai bengong dan memandang kosong kepada langit.

"Jangan-jangan, ya, jangan-jangan semesta canggih ini bukan semacam mesin, tetapi sebentuk intelegensi."

Senin, 14 Mei 2012

Another Note on Eat, Pray, Love (366)


"The Balinese believe we are each accompanied at birth by four invisible brothers, who come into the world with us and protect us throughout our lives. When the child is in the womb, her four siblings are even there with her--they are represented by the placenta, the amniotic fluid, the umbilical cord, and the yellow waxy substance that protects an unborn baby's skin. The child is taught from earliest consciousness that she has these four brothers with her in the world wherever she goes, and that they will always look after her. The brothers inhabit the four virtues a person needs in order to be safe and happy in life: intelligence, friendship, strength, and poetry."

The Balinese could have taught John Keating one thing or two about poetry, no? We don't read poetry because it's cute, nor because we are the members of the human race. 

We read poetry in order to be safe and happy in life. 

Selasa, 20 Maret 2012

Jakarta, Macondo, Dukuh Paruk

Dampak buruk terlalu khusyuk membaca Seratus Tahun Kesunyian adalah beberapa peristiwa jadi terasa magis, bahkan saat kita tidak mempersiapkan diri untuk itu. Dalam novel bergenre realisme magis ini, segala macam hal dideskripsikan dengan sangat, sangat, sangat liar sampai-sampai saya menduga Gabriel Garcia Marquez menulis cerita panjang tentang keluarga Buendia ini sambil teler. Sampul belakang ini sudah 'memperingatkan' calon pembaca bahwa membaca Seratus Tahun Kesunyian akan terasa seperti masuk ke dalam mimpi yang panjang--dan memang benar, rasanya keseharian yang tampak normal kini terpecah-pecah menjadi mimpi dengan caranya sendiri.

Suatu ketika dalam sebuah bus, seraya satu tangan berpegangan dan tangan lainnya memegang buku ini, saya berhenti membaca sejenak karena bus yang saya tumpangi melewati terowongan. Kontras dengan cahaya matahari yang terik, terowongan tersebut jadi terkesan sejuk karena lampunya berwarna oranye redup. Saya menutup mata untuk menyesuaikan diri dari terang ke remang. Saya tutup Seratus Tahun Kesunyian karena cerita tentang Rebeca yang memakan tanah bercacing dan kapur dinding menjadi sangat visual di dalam kepala saya. Ketika membuka mata, tembok terowongan bertuliskan kata-kata "Life is Beautiful", dan entah mengapa sejenak saya merasakan kekhusyukan momen tersebut: bus yang penuh sesak namun hening, di siang hari yang terik, seperti ada rehat dari satu kebisingan ke kebisingan lainnya dalam terowongan pendek tersebut, yang juga mengingatkan bahwa hidup itu indah (biar bagaimanapun).

Berjarak hanya beberapa hari, saya ada di stasiun Pasar Minggu. Cuaca terasa sangat terik hingga kulit dan titik di atas kepala terasa perih. Saya membaca Seratus Tahun Kesunyian lagi dan sampai kepada bagian pembantaian buruh pabrik pisang besar-besaran yang lalu lenyap tanpa bekas. Konon seluruh mayat dilempar ke dalam kereta untuk dibuang di kota lain. Pembantaian tersebut tak berbekas, tak terlacak, dan satu-satunya saksi hidup menjadi gila karena tak ada yang percaya kata-katanya. Saya menutup lembaran buku, merasa adegan tersebut lagi-lagi menjadi terlalu visual di kepala. Mungkin karena saat itu saya juga berada di tempat kereta datang dan pergi, mungkin karena saya juga berada di tempat yang sangat asing bagi saya sendiri. Saya diam dan duduk di ujung salah satu bangku besi panjang, menatap matahari yang tanpa ampun memancarkan panasnya siang itu. Hampir lima belas menit tak ada satu pun kereta lewat. Saya memperhatikan para calon penumpang yang juga menunggu, ada yang berjongkok di tempat teduh, ada yang diam menatap rel, dan entah mengapa bahkan para penjual makanan dan minuman pun tak tergerak untuk menjajakan dagangan mereka. Stasiun siang itu, saat itu, sungguh hening. Dalam terang, dalam sunyi, entah mengapa saya merasa momen itu magis sekali.

Macondo, nama kota di dalam novel Marquez yang ditulis selama dua tahun itu, terguyur hujan terik selama empat tahun, hujan yang terus menerus turun tanpa ampun. Ikan-ikan berenang lewat jendela rumah, kulit para penghuni kotanya berwarna hijau lumut dan pucat karena tak pernah kena sinar matahari, dan punggung nenek Ursula tua dipenuhi lintah karena ia berbaring setiap hari. Entah mengapa, dibandingkan dengan keadaan itu (yang juga sangat visual di kepala saya), saya mensyukuri matahari yang telah menjadi terlalu terik beberapa hari ini.

-M O O N Y
Salah satu peristiwa dalam novel yang juga sangat, sangat visual, hampir-hampir saya nobatkan jadi peristiwa paling menakutkan dalam novel, adalah bagian ketika warga Dukuh Paruk yang keracunan tempe bongkrek menyerbu rumah Santayib, lantas Santayib makan tempe bongkreknya sendiri dan mati sambil memeluk istrinya. Judul novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, dan dalam Sang Penari, Ifa Isfansyah tidak menghilangkan adegan ini. Wajib baca, wajib tonton.

Rabu, 29 Februari 2012

Hear, hear.

"To create a family with a spouse is one of the most fundamental ways a person can find continuity and meaning in American (or any) society. I rediscover this truth every time I go to a big reunion of my mother’s family in Minnesota and I see how everyone is held so reassuringly in their positions over the years. First you are a child, then you are a teenager, then you are a young married person, then you are a parent, then you are retired, then you are a grandparent—at every stage you know who you are, you know what your duty is and you know where to sit at the reunion. You sit with the other children, or teenagers, or young parents, or retirees. Until at last you are sitting with ninety-year-olds in the shade, watching over your progeny with satisfaction. Who are you? No problem—you’re the person who created all this. The satisfaction of this knowledge is immediate, and moreover, it’s universally recognized. How many people have I heard claim their children as the greatest accomplishment and comfort of their lives? It’s the thing they can always lean on during a metaphysical crisis, or a moment of doubt about their relevancy—if I have done nothing else in this life, then at least I have my children well.

But what if, either by choice or by reluctant necessity, you end up not participating in this comforting cycle of family and continuity? What if you step out? Where do you sit at the reunion? How do you mark time’s passage without the fear that you’ve just frittered away your time on earth without being relevant? You’ll need to find another purpose, another measure by which to judge whether or not you have been a succesful human being. I love children, but what if I don’t have any? What kind of person does that make me?

Virginia Woolf wrote, “Across the broad continent of a woman’s life falls the shadow of a sword.” On one side of that sword, she said, there lies convention and tradition and order, where “all is correct.” But on the other side of that sword, if you’re crazy enough to cross it and choose a life that does not follow convention, “all is confusion. Nothing follows a regular course.” Her argument was that the crossing of the shadow of that sword may bring a far more interesting existence to a woman, but you can bet it will also be more perilous."

Elizabeth Gilbert tells it like it is. (Eat, Pray, Love, 2006: Chapter 30)

Kamis, 20 Oktober 2011

Untuk Wina Adlina

"I've long ago dedicated myself to myself."
- Jack Kerouac

Wina,

Kerouac, dalam kumpulan surat-surat yang ia tulis untuk dan ia terima dari Allen Ginsberg, bisa saja tak hanya bicara atas nama orang-orang dari kumpulannya sendiri. Ia juga bicara untuk generasi-generasi yang akan datang, generasi yang ia tahu pasti punya kegelisahan yang sama dengannya. Kegelisahan itu tak punya nama tepat. Tak jitu untuk disebut dalam satu istilah. Kegelisahan itu terakumulasi. Pada satu titik ia seperti nonsens, tapi kalaulah iya, mengapa kita tetap membaca Kerouac dan Ginsberg yang seperti mabuk dalam kegegapgempitaan pikiran mereka sendiri?

Kalaupun ia bukan nonsens, sepertinya bahasa telah bertindak tiran terhadapnya.

Moli
PS: Eddie Vedder bisa dibilang berhasil membuat kegelisahan ini jadi audibel. Judulnya The Wolf.

Senin, 10 Oktober 2011

Bewildered 2.0

".. his egocentricity is different, he hates himself intensely, whereas we do not. Hating himself as he does, hating his humankindness, he seeks new vision, a post-human post-intelligence. He wishes more than Nietzsche proscribed. He wants more than the next mutation--he wants a post-soul. Lord only knows what he wants!"

tentang Lucien Carr, dalam selembar surat kepada Allen Ginsberg yang ditulis Jack Kerouac.

(dan merdeka, otonom, liberate, menjadi muskil karena kita tak pernah meminta lahir).