- Wandering aimlessly on Semarang's streets at night.
Tidak terhitung berapa kali Ibu mengajak saya dan adik-adik, dulu, menyusuri jalanan kota-kota (dan daerah pinggirannya) di sepanjang Jawa dalam perjalanan darat dari Bali ke Jakarta. Saya ingat bahwa saya suka sekali pom bensin karena perjalanan-perjalanan itu. Berhenti di pom bensin berarti kesempatan untuk turun ke toilet umum dan meluruskan kaki sejenak. Pom bensin selalu jadi tempat romantis karena ia tempat yang tak pernah tidur, tempat para pejalan rehat sejenak, tempat singgah yang sesungguhnya nyaris anonim tapi di dalam kenangan ia menjelma sebagai simbol suatu perjalanan, masa kecil, dan kota-kota di Jawa kala malam.
Saya biasanya terus terbangun setelah pemberhentian itu, tidak bisa tidur lagi karena asyik memperhatikan lampu. Kota-kota itu asing, hening, dan tampak seragam saat malam hari. Sepanjang pagi dan siang, saya dan adik perempuan saya suka bermain hitung bendera. Yang menang suit boleh memilih mau menghitung bendera partai apa: Golkar, PDI, atau PPP. Yang kalah tinggal terima nasib saja, karena yang menang pasti memilih Golkar. Bendera Golkar berjaya di sepanjang jalan-jalan utama, tapi tidak jarang ada daerah yang didominasi bendera hijau atau merah sepenuhnya. Permainan itu tidak ada hadiah atau hukumannya, tapi memberi saya ingatan tentang betapa hegemoniknya Golkar pada dekade 1990-an.
Barangkali telah lewat lima belas tahun berlalu dan saya kembali berada di salah satu kota di Jawa yang saya lintasi dulu. Nama kota ini Semarang. Entah mengapa, rasanya tak lagi sama seperti saat kecil dulu. Saya melihat bangunan besar toko perkakas Ace Hardware, Kentucky Fried Chicken, dan McDonalds di jalan utama, dan rasanya kota ini jadi tak terlalu berbeda dengan Jakarta. Memang ada beda yang mutlak--tidak ada orang saling mengklakson dan menerobos lampu merah. Masih ada becak di jalan utama yang trotoarnya amat bersahabat bagi pejalan kaki.
Sebuah memori masa kecil menyeruak kembali, kali ini saat melihat toko buku bernama Merbabu di jalan Pandanaran, dekat tempat saya menginap. Toko buku ini mirip toko buku Gunung Agung di dekat rumah saya di Denpasar dulu. Label harga di tiap produknya bukan label dengan barcode, tapi stiker yang dicetak sendiri. Bukunya disusun di rak-rak pendek sehingga kita harus berjongkok kalau buku yang dicari tidak ada di atas. Di lantai bawah, tidak hanya dijual alat-alat tulis, tetapi juga tempat makan dan minum plastik, alat-alat menjahit, mainan, kartu pos, perangko untuk kolektor (!), sampai badge Pramuka. Di lantai atas sepenuhnya buku, dan saya menahan diri untuk tidak berteriak seketika saat melihat rak buku-buku impor yang diobral hari itu. Saya yang hanya membawa satu buku dalam tas karena malas membawa tas yang berat akhirnya harus kembali ke Jakarta dengan membawa tambahan sepuluh buku. Saya menghabiskan hampir dua jam di toko buku ini, takjub dengan atmosfir di dalamnya yang begitu tenang tanpa harus terang benderang seperti toko buku di Mall.
Saat ini, barangkali, kesunyian adalah teman terbaik. John Mayer melagukannya dengan indah: "Nothing to do, nowhere to be. A simple little kind of free."
-M O O N Y

Ketemu buku ini di Toko Buku Merbabu. Waktu SD saya suka sekali cerita Grover menginap ini. Seperti manusia dan manusia, manusia dan tempat, juga manusia dan cita-cita, barangkali manusia dan buku juga saling menemukan jodohnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar