Dampak buruk terlalu khusyuk membaca Seratus Tahun Kesunyian adalah beberapa peristiwa jadi terasa magis, bahkan saat kita tidak mempersiapkan diri untuk itu. Dalam novel bergenre realisme magis ini, segala macam hal dideskripsikan dengan sangat, sangat, sangat liar sampai-sampai saya menduga Gabriel Garcia Marquez menulis cerita panjang tentang keluarga Buendia ini sambil teler. Sampul belakang ini sudah 'memperingatkan' calon pembaca bahwa membaca Seratus Tahun Kesunyian akan terasa seperti masuk ke dalam mimpi yang panjang--dan memang benar, rasanya keseharian yang tampak normal kini terpecah-pecah menjadi mimpi dengan caranya sendiri.
Suatu ketika dalam sebuah bus, seraya satu tangan berpegangan dan tangan lainnya memegang buku ini, saya berhenti membaca sejenak karena bus yang saya tumpangi melewati terowongan. Kontras dengan cahaya matahari yang terik, terowongan tersebut jadi terkesan sejuk karena lampunya berwarna oranye redup. Saya menutup mata untuk menyesuaikan diri dari terang ke remang. Saya tutup Seratus Tahun Kesunyian karena cerita tentang Rebeca yang memakan tanah bercacing dan kapur dinding menjadi sangat visual di dalam kepala saya. Ketika membuka mata, tembok terowongan bertuliskan kata-kata "Life is Beautiful", dan entah mengapa sejenak saya merasakan kekhusyukan momen tersebut: bus yang penuh sesak namun hening, di siang hari yang terik, seperti ada rehat dari satu kebisingan ke kebisingan lainnya dalam terowongan pendek tersebut, yang juga mengingatkan bahwa hidup itu indah (biar bagaimanapun).
Berjarak hanya beberapa hari, saya ada di stasiun Pasar Minggu. Cuaca terasa sangat terik hingga kulit dan titik di atas kepala terasa perih. Saya membaca Seratus Tahun Kesunyian lagi dan sampai kepada bagian pembantaian buruh pabrik pisang besar-besaran yang lalu lenyap tanpa bekas. Konon seluruh mayat dilempar ke dalam kereta untuk dibuang di kota lain. Pembantaian tersebut tak berbekas, tak terlacak, dan satu-satunya saksi hidup menjadi gila karena tak ada yang percaya kata-katanya. Saya menutup lembaran buku, merasa adegan tersebut lagi-lagi menjadi terlalu visual di kepala. Mungkin karena saat itu saya juga berada di tempat kereta datang dan pergi, mungkin karena saya juga berada di tempat yang sangat asing bagi saya sendiri. Saya diam dan duduk di ujung salah satu bangku besi panjang, menatap matahari yang tanpa ampun memancarkan panasnya siang itu. Hampir lima belas menit tak ada satu pun kereta lewat. Saya memperhatikan para calon penumpang yang juga menunggu, ada yang berjongkok di tempat teduh, ada yang diam menatap rel, dan entah mengapa bahkan para penjual makanan dan minuman pun tak tergerak untuk menjajakan dagangan mereka. Stasiun siang itu, saat itu, sungguh hening. Dalam terang, dalam sunyi, entah mengapa saya merasa momen itu magis sekali.
Macondo, nama kota di dalam novel Marquez yang ditulis selama dua tahun itu, terguyur hujan terik selama empat tahun, hujan yang terus menerus turun tanpa ampun. Ikan-ikan berenang lewat jendela rumah, kulit para penghuni kotanya berwarna hijau lumut dan pucat karena tak pernah kena sinar matahari, dan punggung nenek Ursula tua dipenuhi lintah karena ia berbaring setiap hari. Entah mengapa, dibandingkan dengan keadaan itu (yang juga sangat visual di kepala saya), saya mensyukuri matahari yang telah menjadi terlalu terik beberapa hari ini.
-M O O N Y
Salah satu peristiwa dalam novel yang juga sangat, sangat visual, hampir-hampir saya nobatkan jadi peristiwa paling menakutkan dalam novel, adalah bagian ketika warga Dukuh Paruk yang keracunan tempe bongkrek menyerbu rumah Santayib, lantas Santayib makan tempe bongkreknya sendiri dan mati sambil memeluk istrinya. Judul novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, dan dalam Sang Penari, Ifa Isfansyah tidak menghilangkan adegan ini. Wajib baca, wajib tonton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar