Menarasikan Ketololan
17/05/2010
Sudah berjam-jam mataku terpaku pada layar notebook sepuluh inchi. Sudah berjam-jam berkas-berkas sinarnya merusak mataku yang jarang berkedip jadinya karena sinar radiasi yang nyari menguarkan aura "TUGAS", seluruhnya kapital, ke setiap celah di otakku. Aku tahu seharusnya ancaman bahwa tugas ini harus dikumpulkan besok lusa dan setelah itu masih ada segunung tugas lainnya yang menanti untuk diselesaikan bisa membuatku ketar-ketir setengah mati dan mengetik secepat mungkin hingga jemariku terasa kebas dan aku tak lagi sadar apa yang tengah kuketikkan. Kadang kita hanya perlu membiarkan segalanya mengalir dan kita tidak perlu terlalu keras berpikir. Kasihan notebook ini. Ia sudah hampir dua belas jam bekerja keras dan aku baru menghasilkan separuh tugas. Aku berusaha keras untuk berkonsentrasi, sungguh. Hanya saja hatiku sedang tidak ingin diajak bekerja sama. Begitulah kalau kau menjadi makhluk yang bersenjatakan mood untuk menghadapi hari-harimu, sobat. Ia menjadi senjata yang memakan tuannya sendiri. Begitu banyak orang yang bisa berusaha keras demi satu tujuan tertentu. Begitu pula sebaliknya. Banyak orang yang bisa berusaha menjadi makhluk paling tidak produktif di muka bumi ketika tak ada satu pun tujuan dalam hidupnya. Aku tergolong yang mana, ya? Ada lima makalah yang menanti untuk diselesaikan. Prestasiku sejauh ini: setengah makalah. Dan alih-alih memicuku, hal itu membuatku malah semakin malas-malasan dan mengetik sesuatu yang sangat tidak penting seperti tulisan ini. Aku produktif? Ya, bisa dibilang. Produktif dalam menghasilkan sesuatu yang tidak penting. Sesuatu yang tidak akan meluluskanku dalam, katakanlah, mata kuliah Antropologi Gender. Tapi siapa peduli? Kenapa ada yang harus peduli kalau aku saja yang menjalaninya bahkan tidak peduli? ***
Dari sekian banyak kenangan dan tulisan yang berserak-serakan di notebook sepuluh inchi yang disebut-sebut di atas, tulisan ini yang paling membuat saya tertawa dan seketika merasakan kangen yang amat sangat pada kehidupan kampus. Pada rasa gugup dan ketar-ketir yang menyebar sampai ke ujung-ujung setiap jari di tangan dan kaki setiap kali tugas dan makalah harus dikumpulkan. Pada perjudian gila-gilaan dengan diri sendiri--bisa nggak sih aku nyelesein ini? Dan pada perasaan mengetik tanpa berpikir itu... dan terkagum-kagum, merasa diri sendiri sangat keren dan jenius karena tanpa berpikir, berlembar-lembar makalah bisa selesai! Mejik!
2010. Dan pada tahun itu, segala hal harus dikonversi ke dalam tulisan yang diunggah ke dalam sebuah blog bernama Mengapa Terlalu Serius, yang sekarang sudah almarhum. Dan penulisnya juga sudah almarhum mahasiswa juga--fakta yang mau tidak mau harus disyukuri meski terasa jadinya banyak hal yang hilang dari diri si penulis sendiri.
- M O O N Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar