1. Ketika konsep rumah adalah sesuatu yang asing hingga tak ada yang dapat disebut rumah kecuali sepetak bumi yang kau injak, senantiasa bergerak, maka nyaris tak ada yang namanya perasaan yang disebut rindu rumah. Apakah ini yang namanya terbebas? Apakah ini yang sekaligus kutukan? Apa itu rumah? Temanku berkata rumah adalah suatu konsep yang mesianistik: yang diharapkan untuk datang pada akhirnya, meski entah kapan sehingga upayamu menanti kedatangannya menjadi ritual yang jauh lebih kau hayati dibanding kedatangan itu sendiri.
2. "It's not a house. It's a home. Begitu dalam Bob Dylan, The Ballad of Frankie Lee and Judas Priest, yang ditulis pada tahun 1968. Barangkali tak ada terjemahannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Namun ada dalam bahasa Indonesia-Jawa: Ini bukan rumah. Ini omah." - Ayu Utami dalam Omah, kolom Kodok Ngorek koran Seputar Indonesia, circa 2007.
3. Tarian Cokek itu disandingkan dengan tari ronggeng, dianggap erotis dan tabu oleh masyarakat, meski faktanya ketika sekolah dasar dahulu aku dan teman-temanku satu kelas diajari tarian tersebut di aula sekolah yang jika hujan atapnya bocor itu. Katanya tari itu mesti dilakukan berpasangan. Meski kami selalu dibagi ke dua kelompok bersisian, laki-laki dan perempuan, tak pernah kami benar-benar menarikan tarian tersebut berpasang-pasangan. Cokek, apakah solider apakah soliter? Tapi menari adalah menemukan, menemukan, menemukan. Dan penari cokek itu, barangkali takdirnya adalah menunggu? Barangkali kita semua juga begitu? Dan di bawah rembulan yang bulat dan bercahaya terang, penari cokek dan sang penyanyi hanya memandang, hatinya luka.
4. "Tuhan tahu, tapi menunggu," katanya menyitir Tolstoy sore itu saat aku bertamu ke rumahnya. Istrinya, seorang hajjah nyentrik yang senang mengenakan selendang hitam dengan motif palu dan arit kecil-kecil, ikut duduk di hadapanku dan berseloroh, "Nah, kau ingin tuntunan rohani macam apa hari ini? Kewarasan a la Gandhi atau Nietzsche?"
5. Aku pikir, para tokoh dalam cerita-cerita tradisional dan mitologi kuno itu lebih suka menyerahkan segala sesuatu kepada pertanda, karena mereka tahu menjadi bebas yang sesungguhnya bukanlah keleluasaan dalam membuat pilihan, melainkan membebaskan diri dari pilihan-pilihan dan membiarkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar