"Aku tidak butuh tokoh nyata untuk kukagumi," dia menjawab sederhana. "Sebesar-besarnya tokoh hidup, dia tetap manusia. Kita harus menyediakan maaf untuk kemanusiaannya. Bagiku memaafkan tokohku berarti menurunkan dia satu anak tangga. Tidak bisa. Dia tidak lagi di puncak kagumku."
Kembang Manggis (1985: 30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar