Sabtu, 18 Oktober 2014

Gelombang

Dua belas tahun setelah Akar terbit pertama kali, dua minggu setelah terakhir kali pembahasan tentang imata diulangi lagi di hari Minggu sore, beberapa jam setelah seorang kawan bertanya melalui Whatsapp, "Emang kamu nggak takut kawin?" dan kujawab "Aku lebih takut mati", dan dia bertanya "Kenapa?", yang kujawab "Bukan matinya, tapi setelahnya", dan dia bilang "Emang hidup abis mati betulan ada ya?", yang kujawab lagi setelah beberapa menit terdiam "Harusnya sih, kalau enggak hidup jadi pointless, kan?", aku menutup halaman terakhir novel berjudul Gelombang. Novel yang, tentu saja, bicara tentang mimpi, yang lupa, yang ingat dan yang ingin semua manusia tetap lupa. 

Jangan terkejut kalau pada halaman terakhirnya Kell muncul lagi dan bernyanyi: I am the eye in the sky, looking at youuu.. I can read your mind, karena dalam hidup ini memang tidak pernah ada yang kebetulan. Iya, kan, Tuhan? (Atau siapapun yang baca ini?)


-M O O N Y


Tidak ada komentar: