Karena pekerjaanku dan naluri keingintahuanku, aku juga
membaca buku tentang beragam agama, juga tentang kepercayaan-kepercayaan Yunani
dan Romawi kuno. Maka kami pun mulai membandingkan pandangan-pandangan yang
baik dari semua keyakinan ini, meski tentu saja tak satu pun di antara kami
yang saling mengkritik agama kami masing-masing.
Namun, ketika di tengah pembicaraan kami kukatakan bahwa
salah satu pandangan orang Kristen yang paling indah adalah, "Cintailah
tetanggamu seperti kau mencintai dirimu sendiri", aku memerhatikan betapa
Maimoun tampak ragu. Aku mendesaknya untuk mengatakan padaku apa yang sedang
dipikirkannya, atas nama persahabatan kami dan untuk berbagi keraguan kami.
"Selintas," ujarnya, "ujaran itu tampaknya
tak mungkin dicela. Lagi pula, sebelum diambil alih Yesus, ujaran serupa juga
terdapat dalam Leviticus, bab 19, ayat 18. Meski demikian, aku memiliki
beberapa keraguan tentang itu."
"Apa itu?"
"Melihat bagaimana sebagian besar orang mencari
penghidupan dengan kepandaian mereka, aku tak ingin mereka mencintaiku seperti
mereka mencintai diri mereka sendiri."
Aku baru saja akan menjawab, tetapi ia lalu mengangkat
tangannya.
"Tunggu. Ada hal lain, sesuatu yang lebih
mengkhawatirkan, menurutku. Sebagian orang menerjemahkan ujaran ini dengan
sikap yang cenderung angkuh ketimbang dengan keluhuran budi. Mereka akan
menafsirkan ujaran itu seraya berkata: Apa yang bagus untukmu bagus juga untuk orang
lain. Andai kau mengetahui kebenaran, kau juga harus melakukan apa pun untuk
menyelamatkan domba yang tersesat dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar.
Dari situlah asal-muasal pembaptisan paksa yang dilakukan terhadap leluhurku di
Toledo pada masa lampau. Aku mendengar sendiri kalimat itu lebih sering dikutip
oleh para serigala-serigala daripada oleh domba-domba. Jadi, maafkan aku--aku
meragukannya."
"Kau mengejutkanku. Dan aku masih belum tahu apakah aku
sepakat denganmu atau tidak. Aku akan merenungkannya. Aku selalu menganggapnya
sebagai ujaran paling indah ...."
"Jika kau mencari ucapan terindah yang akan ditemukan
dari semua ajaran agama, ucapan terindah yang pernah keluar dari bibir seorang
lelaki, bukan yang itu. Yang kumaksud adalah perkataan yang juga diucapkan oleh
Yesus, meski tidak dikutip dari Alkitab. Ia hanya mendengarkan kata hatinya
sendiri."
Apakah ucapan itu? Aku menanti. Maimoun berhenti sejenak
untuk menekankan ketakziman pernyataannya.
"Biarlah yang tak berdosa di antara kalian yang pertama
kali melempar batu."
- Balthasar's Odyssey hal. 113-114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar