Dalam Memories of My Melancholy Whores, Gabriel Garcia Marquez berkisah tentang seorang laki-laki tua yang, pada ulang tahunnya yang ke-90, bertekad merayakan hidup dengan cara tidur bersama seorang perempuan muda. Seperti lazim ditemukan dalam novel-novel Marquez, si tokoh utama hidup melajang sepanjang hidupnya setelah beberapa kisah cinta yang gagal--salah satunya dengan perempuan yang ia tinggalkan di altar karena ketiduran di hari pernikahannya sendiri. Novel ini pendek saja, 115 halaman, dan diam bertengger di lemari buku saya selama hampir dua tahun sebelum saya mulai membacanya. Entah apa yang menahan saya begitu lama untuk membaca buku ini, barangkali karena masih ada sisa "trauma" saat terakhir kali membaca cerpen Marquez tentang perempuan dengan kutu-kutu imajiner di kepala dan seluruh badannya. Namun, seperti sebelum-sebelumnya, saya selalu menemukan diri saya terpikat sejak paragraf pertama. "Morality, too, is a question of time", tutur Rosa Cabarcas, nama tokoh pemilik rumah bordil ketika meledek si laki-laki tua yang meneleponnya pagi-pagi saat usianya berganti 90 tahun, terletak persis di kalimat keempat di halaman pertama. Seketika saya pun lebur ke dalam semesta Marquez yang ajaib, semesta yang di dalamnya manusia seperti diperbolehkan untuk hidup dalam kendali hasrat-hasrat mereka yang paling jujur dan liar. When does he become aware of being old? (Cuando tome conciencia de ser viejo?) Saya kini merasakannya, meski karena sebab-sebab yang konyol, terutama setiap kali rasanya saya butuh tidur berjam-jam setiap akhir pekan untuk mengganti jam-jam yang terpakai untuk terjaga di hari kerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar