Kamis, 01 Mei 2008
Percakapan Aku dan Kuda #2
"Ah, tidak juga. Kalau aku tidak lihat-lihat kiri atau kanan, aku tidak rugi apa-apa. Aku toh tidak paham juga dengan konsep-konsep kiri dan kanan."
"Begitu? Kamu tidak merasa khawatir dengan apa-apa yang di depan dan belakangmu?"
"Tidak juga. Karena aku hanya tahu depan, aku bisa terus maju. Tidak seperti kamu, manusia, terlalu banyak menganalisa kiri kanan, atas bawah, depan belakang, segala tetek bengek semacam itu. Hidupku sederhana. Apa yang kulihat adalah apa yang nyata, yang ada di depan mata."
Kuda terus melaju, membiarkan manusia sejenak termangu-mangu, mengunyah kata demi kata yang dilontarkan si kuda satu persatu.
"Kamu sendiri, bagaimana? Lensa warna apa yang kamu gunakan sekarang?"
"Sekarang lensa kacamataku bening, gagangnya berwarna gading. Tak lagi berwarna."
"Oh, bening? Aku ingat dahulu kamu bercerita kamu gemar memakai warna-warna yang cerah."
"Kuning maksudmu ya, kuda? Itu dulu, saat kuning sedang trend. Saat itu warna lain tidak populer. Kau akan lihat dimana-mana orang memakai kacamata yang sama. Kuning itu tadi."
"Ah, masa? Lantas mengapa kau ganti warna, apa itu, merah?"
"Saat itu kuning sudah ketinggalan zaman, kuda. Memakai merah dianggap lebih gaya. Merah warnanya kaum muda, kaum yang membuat roda sejarah bergerak ke alur yang berbeda."
"Lantas?" tanya kuda lagi.
"Lantas merah mengingatkanku pada darah, pada saat-saat genting tanpa istirah. Kucopot lensa, kembali kulihat realita sarat warna. Ternyata benar, kuda, di luar sana tetap sama."
"Jadi sekarang kau pakai warna apa, manusia? Biru, hijau, atau oranye mungkin? Apa yang sedang populer saat ini?"
"Ah, peduli setan apa yang populer saat ini! Lebih baik aku pakai kacamata seperti kamu saja ya, kuda? Toh tidak ada bedanya dengan kacamata lensa berwarna. Yang dilihat juga itu-itu saja."
"Hoo, begitu? Mungkin bukan itu-itu saja yang dilihat, tapi begitu-begitu saja caramu melihat.."
-M O O N Y
Jumat, 11 April 2008
This is How Sapardi Creates a Poem
Ceritanya lagi, ia terkesan dengan pernyataan Pak Sapardi, "Saya ini penyair yang tugasnya hanya menulis puisi, jadi kalau diminta membaca puisi, saya bingung.." (atau kira-kira begitu deh, hehe).
Ceritanya lagi-lagi, ia tambah terkesan dengan gurauan Pak Sapardi, "Ah, saya jadi merasa seperti seorang selebriti.."--ketika ia minta foto bersama dan tanda tangan.
Hmm, disaat orang-orang lain mati-matian ingin jadi selebriti, atau bahkan merasa dirinya selebriti.. Saya tak habis-habisnya terkagum-kagum.***
..Malam itu seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun duduk di tengah pelataran rumahnya, usai bermain galasin. Ia biasa lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di luar dan hanya berada di dalam rumah jika harus makan, tidur, dan kadang-kadang belajar. Ketika itu teman-teman sebayanya sudah pulang ke rumah masing-masing dan karenanya suasana yang sejak sore ribut tiba-tiba menjadi senyap. Di tengah pelataran luas milik neneknya ia menengadah dan bertanya dalam hati apa gerangan yang ada di luar langit, dan apa pula yang
ada di luar-luar langit sana. Pertanyaan itu mungkin timbul karena ia dididik oleh masyarakat yang, di samping percaya akan adanya batas, telah menciptakan ungkapan "langit tidak terbatas"-- dan ia tentu saja tidak mampu memahami dua pengertian yang tampaknya bertentangan itu.
Pada tahun 1971, lebih dari 20 tahun sesudah "peristiwa" yang menimpanya itu ia menulis sebuah sajak sebagai berikut :
Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar-luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata "biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya."
--Diambil dari pidato penerimaan Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk Kesusastraan oleh Sapardi Djoko Damono.
- M O O N Y
"Ah, salah satu mimpiku terwujud sudah!"
Jumat, 04 April 2008
Antara Saya, Emha, Umbu, dan Wayan Tidak Ada Hubungan Apapun
tentang seorang penyair yang namanya sering muncul di novel-novel sastra, Umbu Landu Paranggi, tapi sosoknya 'gaib'. Kabarnya, dia juga guru spiritualnya Emha Ainun Nadjib waktu masih 'mbambhung' di Yogyakarta. Oke, tanpa banyak cingcong, happy reading! :)
Lelaki Tua dan Tas Kresek*
Cerpen Wayan Sunarta
Hampir semua penduduk di kota kecil itu, terutama kusir dokar dan penjaja batu akik, mengenal lelaki tua yang suka menenteng tas kresek itu. Di kalangan kusir dokar, lelaki tua yang tubuhnya masih sehat dan tegap itu, biasa dipanggil Landu. Sedangkan di kalangan penjaja batu akik, lelaki yang topinya hampir tidak pernah lepas dari kepalanya itu, suka dipanggil Ambu.
Begitulah, lelaki yang cenderung pendiam itu, memiliki dua nama kesayangan: Landu dan Ambu. Landu adalah Ambu, dan Ambu tiada lain adalah Landu. Namun, sesungguhnya tak seorang pun penghuni kota yang tahu nama asli lelaki tua yang berwajah bersih namun cenderung melankolis itu. Meski Landu sudah hampir setahun gentayangan di kota itu. Sebagaimana nama aslinya, tak seorang pun penghuni kota yang tahu apakah Landu memiliki keluarga atau sanak famili. Apakah ia punya anak atau cucu? Apa pekerjaannya? Bahkan rumah lelaki tua itu pun penghuni kota tidak tahu-menahu. Dan memang penghuni kota yang ramah-ramah itu tidak begitu mempersoalkannya. Yang penting Ambu tidak membuat keonaran atau mengganggu ketenteraman kota.
Namun kemisteriusan Landu bukannya tidak mengundang rasa ingin tahu dan penasaran. Mereka tahu lelaki tua yang sudah pantas disebut kakek itu termasuk orang yang sangat baik, ramah, sabar dan santun pada penghuni kota. Misalnya, ketika berpapasan di jalan dengan warga kota, Landu selalu senyum kecil, dan setelah itu dengan tergesa-gesa melanjutnya langkahnya yang panjang-panjang. Tidak banyak cakap, hanya senyum kecil saja. Dan warga kota sudah lama memakluminya. Namun rasa penasaran terhadap sosok Landu telah menghinggapi pikiran-pikiran anak-anak muda kota itu.
Namanya juga anak muda, seringkali suka pada hal-hal yang berbau petualangan dan misteri. Maka beberapa anak muda pernah melacak jejak Landu, untuk sekadar mengetahui di mana lelaki tua itu menghentikan langkahnya dan membuka daun pintu dan disambut oleh cucu-cucunya yang mungkin saja masih kecil-kecil. Namun sayang, kaki Ambu bukannya melangkah ke arah rumah atau yang menyerupai rumah. Dari kejauhan, dengan kecewa anak-anak muda itu melihat Landu menghentikan langkahnya pada sebuah tikungan, dan asyik bercengkerama dengan para kusir dokar.
Di pangkalan dokar itulah Landu biasanya menghabiskan waktunya, hanya dengan ngobrol, atau sekadar mengusap-usap kepala kuda. Dan biasanya, kuda-kuda itu selalu menanti belaian lembut tangan Landu. Pada saat-saat seperti itu tampak darah keayahan Landu mengalir memenuhi wajahnya yang bersih. Dan kuda-kuda itu lebih meyerupai anak-anak yang mengeluh pada ayah karena letih seharian bekerja.
Landu lebih memahami perasaan kuda ketimbang para kusir yang kerjanya hanya melecut dan memaksa kuda-kuda itu bekerja siang-malam. Namun Landu tidak terlalu berani, atau lebih tepatnya tidak sampai hati, menyampaikan keluhan kuda-kuda itu kepada kusirnya. Baginya, kuda dan kusir sama-sama menderita, hanya berbeda peranan saja. Apalagi ketika bemo dan tukang ojek mulai menggeser peranan dokar di kota kecil itu, pendapatan kusir menurun drastis, dan mereka sering pula mengeluh kepada Landu yang dianggapnya lebih bijaksana memandang suatu hal. Dan biasanya Landu akan menampung keluhan mereka dalam diam.
Beberapa anak muda yang masih memeram rasa penasaran belum mau menyerah, ingin mengetahui siapa sebenarnya Landu yang misterius itu. Maka suatu hari, mereka kembali mengikuti jejak Landu. Dan mereka kembali menemui kekecewaan. Mereka tidak pernah menemukan di mana rumah Landu sebenarnya. Mereka hanya melihat jejak Landu berakhir di kerumunan orang yang asyik meneliti batu-batu akik di sebuah pasar kecil.
Ambu sangat menyukai batu-batu akik. Ia suka menikmati warna-warninya, syukur-syukur di antaranya ada yang bertuah, misalnya bisa menyembuhkan suatu penyakit, mengusir roh jahat, atau membuat pemakainya bisa menghilang sesuai keinginan. Namun Ambu belum pernah menemui batu akik yang memiliki khasiat khusus itu. Ia lebih sering menikmati warna-warni batu-batu akik itu yang mengingatkannya pada lukisan-lukisan abstrak milik seorang kawannya.
Penjaja batu akik tidak pernah kesal, meski Ambu tidak pernah membeli sebutir akik pun. Beberapa penjaja batu akik sering mengajak Ambu berdiskusi tentang makna-makna batu akik yang dijualnya. Mereka mengira Ambu seorang tokoh atau penganut aliran spiritual tertentu yang telah mencapai tingkat ilmu tinggi karena wajahnya yang seakan bercahaya itu. Ambu berkali-kali menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Namun, justru sikap rendah hati yang dianggap berlebihan itu malah meyakinkan para penjaja batu akik bahwa Ambu bukan manusia sembarangan. Maka terpaksa Ambu harus meladeni pertanyaan-pertanyaan berbau magis penjual batu akik dengan menjawab sekenanya saja.
Ke mana pun Landu melangkah, tas kresek berwarna hitam selalu setia menemani tangannya. Tak seorang pun tahu apa isi tas kresek itu. Bahkan, ketika Landu lewat di depan segerombolan anak muda pengangguran yang asyik main gitar sambil minum arak, beberapa anak muda malah membuat tebak-tebakan mengenai isi tas kresek itu.
”Ayo, siapa yang tahu, apa isi tas kresek kakek itu!” anak muda setengah gondrong melontarkan tebakan itu.
”Mana kita tahu! Periksa saja sendiri!” jawab kawannya yang bermata sipit.
”Paling-paling juga sirih dan tembakau!” ujar yang bermain gitar.
”Jangan-jangan uang! Siapa tahu kakek itu orang kaya yang lagi menyamar!” ujar anak muda yang lengannya penuh tatto.
”Ya. Bisa jadi ia seorang investor, atau mungkin mantan koruptor yang bersembunyi di kota kita!” kata anak muda kurus berkacamata agak tebal.
Maka begitulah, tak seorang pun tahu apa isi tas kresek warna hitam yang suka ditenteng Landu ke mana-mana itu. Dan sungguh suatu pekerjaan yang tidak ada gunanya menebak-nebak isi tas yang dibawa seseorang. Namun, lambat laun rasa penasaran terhadap isi tas kresek itu sama kuatnya dengan keingintahuan perihal asal-usul lelaki tua aneh itu.
Di luar dugaan, beberapa anak muda yang terkenal bandel dan suka bikin onar di kota itu, merencanakan suatu niat jahat. Mereka akan mencegat lelaki tua itu di jalan sepi dan merampok tas kresek yang suka ditentengnya ke mana-mana itu. Dua anak muda bandel menguntit lelaki tua itu. Mereka mengawasi Landu yang bersiul-siul keluar dari sebuah bank kecil sambil menenteng tas kresek. Keyakinan mereka bertambah kuat bahwa tas kresek itu berisi uang, mungkin jutaan rupiah.
”Apa kubilang! Tas kresek itu pasti berisi uang!” ujar yang bertatto kepada kawannya yang setengah gondrong.
”Bila berhasil merebut tas kresek itu, kita akan kaya dan bisa minum berbotol-botol bir di kafe dengan ditemani beberapa wanita cantik!” sahut kawannya tak kalah seru.
Anak-anak muda bandel itu terus menguntit. Merasa ada yang mengikuti, Landu terus mempercepat langkahnya. Di sebuah pertigaan anak-anak muda bandel itu kehilangan jejak. Merasa buruannya hilang, mereka mengumpat tidak karuan. Yang lengannya bertatto merasa yakin kalau lelaki tua itu memiliki ilmu menghilang.
Namun keberuntungan tidak selamanya berpihak pada Landu.
Maka, pada hari yang naas, ketika Landu sedang asyik menikmati ayunan langkahnya di sebuah jalan kota yang sepi, dua pengendara motor menyambar tas kreseknya. Belum tuntas kagetnya, pengendara motor yang mengenakan helm cerobong telah tancap gas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, apalagi mata tuanya yang agak rabun. Beberapa menit Landu hanya bisa terpana di pinggir jalan yang meninggalkan kepulan debu dari motor yang ngebut itu.
Tubuh Landu merasa lemas. Sembari membetulkan letak topinya yang agak miring, tampak wajahnya penuh kemurungan. Sesuatu yang sangat berharga, seakan melebihi uang jutaan rupiah, telah dirampas oleh pengendara motor itu.
***
Sementara itu, di sebuah tegalan yang jauh dari keramaian, beberapa anak muda dengan harap-harap cemas membelalakkan mata pada tas kresek hasil rampasan. Anak muda yang lengannya bertatto tidak sabaran merobek tas kresek. Beberapa bendel kertas menyembul. ”Setan! Kita telah ditipu. Tidak ada uang!” umpatnya.
Anak muda yang setengah gondrong mencoba mengorek-orek isi kresek, kemudian menggerutu seraya menendang tas kresek hingga kertas-kertas berhamburan ke udara. ”Sialan! Hanya sebendel puisi! Agaknya kita telah merampok seorang penyair. Sialan!”
Kejadian dramatis itu diakhiri dengan lumayan indah oleh anak muda yang berkacamata tebal. Dengan sigap ia menangkap selembar kertas yang melayang-layang di udara, mencoba membaca isinya dengan gaya deklamasi: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan…sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.1***
1 Baris puisi itu berjudul ”Melodia” karya penyair legendaris Umbu Landu Paranggi. Ke mana pun berjalan, penyair ini suka sekali menenteng tas kresek warna hitam yang mungkin saja berisi kertas-kertas puisi.
* Judul ini diinspirasi dari judul novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway.
Gue suka banget cerpen ini lho, serius! Waktu pertama kali googling namanya Umbu Landu Paranggi, ( Yes i do love googling! xp ) dan menemukan cerpen ini, saya sampai merinding dan saya baca berkali-kali. Well, mungkin juga karena bacanya waktu itu malem-malem jam dua dini hari, hehehe, tapi tetap mungkin juga karena ceritanya yang sendu.
Kabarnya lagi, Umbu Landu Paranggi sekarang ada di Bali.
-M O O N Y
yang lagi bingung inspirasi buat ngepost kok belom datengdateng juga. mungkin karena belom purnama?
Kamis, 20 Maret 2008
Popperian
Semester ini gue dapet satu mata kuliah yang kalau diperibahasakan itu kurang lebih adalah "Bagai mengukir di atas air" saking gak mudengnya gue :( , dan mata kuliah itu adalaaah...... :
Betul. Filsafat Ilmu Sosial. Dan betul, belajar ilmu sosial aja udah sulit, ini ditambah lagi dengan kerangka pemikiran ilmu sosial. Istilahnya, kalau menurut saya, itu sama aja kayak belajar ilmunya ilmu. Atau akarnya ilmu.
Aah.. satu-satunya kegiatan menyenangkan dari kuliah ini, selain bebas ngebacot-sotoy *kalau kata dosennya*, adalah menemukan quotation yang sungguh ciamik dari para pemikir. Dan serius, kalau ada cabang ilmu yang gue kagumi sampai sekarang itu adalah filsafat, saking absurdnya ilmu itu. Bahkan rasanya lebih mudah memahami fisika ketimbang filsafat!
Oke. Satu hal yang menyenangkan dari filsafat ini adalah menganalisa bagaimana bentukan kata-kata tertentu bisa men-simplifikasi-kan NJELIMEETnya pemikiran manusia. Ingat materialisme dialektika Hegel? Dan betapa oh-shit nya Hegel karena bisa menjelaskan tahap menuju kesempurnaan pemikiran melalui proses tesis dan antitesis?
Jadi minggu ini ceritanya gue menemukan keajaiban-simplikfikasi-pemikiran-lewat-kata-kata itu dalam sebuah quote 'mantap' oleh Karl Popper.
"..we want more than mere truth, what we look for is interesting truth, truth which is hard to come by.."
Lanjuut. Interesting truth itu, kata Popper lagi, adalah truth yang punya "high degree of explanatory power" yang secara paradoksal mengimplikasikan tingginya probabilitas kekeliruan.
................................%^*(&^@!#?><)(~!!!!!
KENAPA YA ada ajaa orang-orang yang diberkahi kekuatan untuk mendayagunakan otak mereka lebih dari sekitar 3%, yang katanya kemampuan manusia normal? Kenapa ada manusia-manusia abnormal macam Popper begini?
Lebih-lebih lagi, keajaiban kata untuk menjelaskan sesuatu itu lho!! Ketika manusia lain bisa kehabisan kata untuk menjelaskan sesuatu yang besar, 'mereka' dengan enaknya tinggal menjelaskan hal besar itu dengan kata-kata sesimpel mungkin!
Kamis, 28 Februari 2008
Mungkin Tak Memungkinkan untuk Mungkin
“Mungkin”.
Pernahkah anda terperangah pada kemampuan sebuah kata untuk mendeskripsikan sesuatu? Seperti mungkin yang menunjukkan suatu keraguan, sama seperti kata pasti yang berarti mutlak. Nah, kalau dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu hal pun yang objektif, bahwa setiap hal memiliki dua sisi, maka kata-kata lah sebagai hal yang objektif. Apa yang subjektif adalah representasi bagaimana kata-kata membentuk makna.
Ketika dikatakan “sendok”, maka representasi kata tersebut adalah sendok itu sendiri. Bukan garpu maupun pisau. Namun bagaimana ketika dikatakan “alat makan”? Maka bisa jadi sendok, garpu, pisau, maupun piring. Semua hal itu relatif, tapi tidak dengan kata-kata.
Ah, saya selalu terpukau pada kata-kata. Bagaimana kata dapat membentuk makna, dan bagaimana makna dapat membentuk rasa. Bagaimana sebuah kata diciptakan. Bagaimana kata “kata” sendiri itu diciptakan.
Ketika sebuah kata berdiri sendiri, ia tidak relatif. Ketika sebuah kata bergabung dengan kata lainnya, ia tidak lagi tidak relatif.
Adakah begitu juga adanya seperti manusia, yang selalu dipengaruhi oleh manusia-manusia di sekelilingnya? Adakah manusia menjadi tidak relatif apabila ia sendiri? Adakah manusia menjadi konsisten dalam kesendiriannya? Adakah kompromi dalam kesendirian?
Adakah manusia diciptakan untuk menjadi relatif?
Tapi apakah, layaknya kata yang tidak relatif, setiap hal mampu berdiri sendiri?
“Ya, mungkin..”
Kamis, 31 Januari 2008
Google Search = Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur
Nah, bus yang rutenya sehari-hari adalah Lebak Bulus-Depok ini adalah bus yang, sayangnya, gue butuhkan keeksisannya di hari-hari ketika tidak-ada-tebengan, atau (sok) lagi pengen menikmati langit pagi yang mendung dan (sok) menolak tawaran tebengan. Kadang-kadang sok berfilosofi tuh rugi! Yang ada malah telat kampus, hahaha.
Bagaimanapun, si mbak Debbie ini punya salah satu fungsi lain selain sebagai transport, yaitu sebagai 'kotak-kaca' abnormalitas realita di Jakarta. Well, Jakarta-hampir-Depok sih. Mau merasakan kejamnya dunia? Penasaran gimana rasanya jadi ikan sarden? Pengen up to date soal modus pencopetan dan hipnotis? NAIKLAH DEBORAH.
Tapi gitu-gitu, Deborah lucu juga lho. Sekarang kan hampir TIDAK ADA kernet yang manusiawi. Nah, suatu kali, pernah gue menemukan kernet yang baik hati, ramah, dan hampir-tidak-punya kecenderungan untuk melakukan pelecehan seksual seperti kernet lainnya. Dan apa yang terjadi sama dia? Tidak lain dialah yang dilecehkan penumpang. Dan penumpangnya, si peleceh itu, tidak lain adalah seorang BAPAK-BAPAK!
Whack! Gue yang duduk di deret paling belakang cuma senyum-senyum goblok campur shock, ketika melihat si peleceh menyentuh bagian-bagian tubuh si kernet. Dan kayanya yang sadar emang cuma gue plus si kernet deh. Walhasil, yang ketawa-ketawa ngeliat gimana si kernet ngerjain balik si bapak-bapak peleceh (dengan mencolek-colek kepala si bapak, terus langsung berdiri di pintu belakang dan belagak gak ngapa-ngapain) ya cuma gue.
Hahaha.. Dunia kok jungkir balik?
Dan dua hari yang lalu, gue naik Deborah lagi, dan shock juga ketika menyadari kalau ada orang yang berdiri di depan gue, memakai setelan abu-abu seperti pegawai negeri, dengan topi pet warna biru tua, dan berwajah mirip PRAMOEDYA ANANTA TOER, sebelum gue inget kalau dia udah berpulang. Huhu. Nah, diliat-liat ini bapak-bapak kok jadi mirip Koesalah Soebagyo Toer? Gue lalu mencolek-colek temen gue, yang cuma dibales pandangan "apaan, sih?".
Lalu gue inget. Pramoedya kan rumahnya di Utan Kayu? Utan Kayu bukannya di Depok? BERARTI, jangan-jangan orang ini betulan Koesalah??
"Ngaco loe, mana mungkin dia naik Deborah?" kata temen gue, tapi kita berdua akhirnya jadi ngikutin bapak-bapak itu sih. Nah, kami berdua lalu pergi, ke rumah salah seorang sahabat baik, dengan senang hati, merasa si bapak-bapak tadi betul-betul Koesalah.
Bertemu Om Budi, Ayah sahabat kami itu, kami langsung heboh dan menceritakan pengalaman kami di Deborah tadi. Sayangnya, harapan kami hancur.
"Hei, Utan Kayu itu bukan di Depok. Di Jakarta Timur.."
&*%$#!(~#$@*&(*)
Deborah oh deborah...
Sebentar lagi aku kembali ke rutinitasku... Huhu..
- M O O N Y
