hujan membersit, memuntahkan asin tetesannya. jatuh ke bumi menjadi ibu. ibu menjelma bidadari yang melukis larik pelangi yang membuatku paham warna-warni: biru untuk segenggam dura, abu-abu untuk seberkas ragu, nila untuk secangkir rindu. hujan berkelok di sudut jalan. geraknya bias pada awas mataku bagai kelok hitam dan putih yang menyatu di garis kelabu. bagai diri dan sepi yang menyatu di batas sunyi. sunyi menyisakan kidung hujan beriring tabuhan rintik dengan daun, tiang listrik, dan aspal jalanan. dam, dam, dam. apa yang kaupaham dari hujan? tangis langit bagi bumi yang mendurhakai dirinya sendiri? pagelaran agung tanpa harmonisasi ketuk dan irama, buaian bagi jiwa melankolia? sering mataku kupakai untuk mendengar, kupingku untuk melihat. aku jadi tak bisa membedakan tubuhku sendiri.
Senin, 01 Desember 2008
Kamis, 13 November 2008
Unfinished Thought #1
Julie Delpy, dalam perannya sebagai Celine di Before Sunset, pernah bilang kalau dia curiga bahwa ide feminisme sebenarnya berasal dari kaum pria. Kira-kira begini, the very idea of women to liberate themselves sebenernya menguntungkan pria. Mohamad Sobary, dalam Kang Sejo Melihat Tuhan menjelaskan bentuk subordinasi kaum wanita oleh kaum pria, misalnya saja, dalam hal dimana anak perempuan harus pandai-pandai merawat diri untuk menyenangkan suami kelak. Sementara, kasarnya, anak laki-laki mau ngapain aja terserah...
Nah, menurut si Celine, dengan adanya ide feminisme dan ide pembebasan perempuan dari dominasi kaum pria, muncullah ide untuk tidak 'menjaga' diri untuk menyenangkan suami kelak dan walhasil perempuan merasa berhak untuk ikut 'bersenang-senang' seperti laki-laki. Dan siapa yang untung kalau perempuan 'bersenang-senang'? Yah, laki-laki juga kan?
Weelllll...
Membuat saya jadi berpikir, free sex dan kohabitasi, yang sering dianggap mutual bagi kedua pihak baik laki-laki maupun perempuan, sebenernya juga ngerugiin perempuan. Kecuali kalau perempuan menolak untuk menganggap dirinya merasa rugi. Cuma tetep aja nih ya, setidakpeduli apapun, let's say, misalnya pasangan yang berkohabitasi, apa kata masyarakat?
"Dasar perempuan gak bener.."
Pernah gak kita denger "Laki-laki gak bener.."?
Hardly--malah mungkin gak pernah sama sekali.
-M O O N Y
Jumat, 31 Oktober 2008
Seminar Politik dan Film Korea
Judul posting kali ini sama sekali tidak saya maksudkan untuk "meng-up-to-date" kan blog saya dengan dunia politik. Kalau untuk itu, maaf-maaf saja, rasanya saya bukan orang yang tepat. Bahkan untuk sekadar berspekulasi tentang calon mana yang paling memiliki prospek untuk menang. Judul ini juga bukan untuk menunjukkan bahwa ada hubungan antara seminar politik dengan film korea, kecuali memang benar-benar ada seminar politik tentang "Pengaruh Film Korea terhadap Hubungan Diplomatik Indonesia-Korea" (hahaha, imagine it!).
Judul posting ini, sadly, adalah bagaimana saya menghabiskan hari libur pada Kamis (29/10) kemarin. Jadi dengan niat yang mulia untuk menjadi mahasiswi FISIP yang lebih baik, saya datang ke sebuah seminar tentang perumusan agenda politik kaum muda pada pemilu 2009. Seminar yang diisi orasi dua tokoh 'muda' yang hendak maju menjadi Presiden pada pemilu 2009. Dua tokoh yang memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan Indonesia yang lebih baik, bla bla.
Tidak ada yang baru. Mau apa? Yang dijanjikan itu-itu saja, titik. Yang membuat saya terkesan adalah kemasannya. *Mungkin memang benar saya orangnya sugestif, hahaha* Mungkin memang perdebatan soal usia 'tua' dan 'muda' harus berhenti pada pembahasan secara politis dan substantif. Semua ingin persaingan yang adil kan?
Yang jelas, saya tertular semangat dan optimisme dari salah satu orator. Clearly, public-speaking or a so-called retoric ability really matters, my friends. Mau maju? Tunjukkan niat untuk maju. Lagi kampanye? Akui saja kalau memang sedang berkampanye. Apa susahnya? Kan, apa yang tadinya tampak seperti kampanye yang terlalu agresif sekarang jadi tampak seperti sebuah kegigihan bagi saya. Menurut saya tidak ada yang salah untuk maju dengan kekuatan sendiri, sekecil apapun kekuatan yang dimiliki. Dibanding dengan menunggu sokongan dari kekuatan yang lebih besar baru berani unjuk gigi. Hei, ini bedanya yang tua dan yang muda! Yang muda tidak menggembar-gemborkan hal-hal seperti "sudah saatnya yang tua tut wuri handayani" atau "biarkan yang muda maju". Maju aja dulu, lalu buktikan kalau kita mampu!
Note: ini bukan kampanye terselubung, bukan ;)
Inilah cara menghabiskan hari libur yang paling produktif. Brilian. Pelajaran moral yang saya dapat amat berharga dan menginspirasi. Sungguh. Saya merasa selangkah lebih maju menuju kriteria mahasiswi ideal. Meskipun jarang nonton TV dan baca majalah Tempo hanya pada halaman terakhirnya saja tiap minggu, saya merasa hari ini saya akhirnya melakukan sesuatu yang membuat otak saya produktif di luar jam kuliah.
Berbekal keyakinan itu, sesampainya di rumah, saya memutuskan untuk sedikit bersenang-senang. Dan siapa sangka, kegiatan bersenang-senang saja mampu memberikan pelajaran moral? Hari itu penuh dengan inspirasi-inspirasi yang menggantung di udara (tsah). Masih di hari yang sama, pelajaran moral nomor dua adalah: Jangan Pernah Nonton Film Korea.
So I watched a korean movie. Gak usah tau judulnya (saking oh-my-it's-so-typically-korean-dramas). Yang jelas, pengalaman saya menonton film korea sebelumnya tidak pernah berujung menyenangkan. Sekali waktu ada film korea yang sumpah-mati, lucu gak ketulungan! Setengah film berjalan bahagia sekali, lalu di tengah-tengah film...err... KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH? Geez.
Tanpa kapok dan niat yang sungguh mulia untuk tidak menjustifikasi semua film korea menyebalkan melalui pengalaman sebelumnya, saya nonton film korea lagi. Korea itu bagus ya? Pemeran-pemeran ceweknya punya rambut lurus (yang tampak) alami dan karakter-karakter yang lemah lembut, hmmmph, sangat menginspirasi. Oh, setengah filmnya bagus sekali, sangat romantis dan...
KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH (LAGI)???
Kalau sinetron-sinetron Indonesia bisa ditebak dari plot ceritanya yang (tiba-tiba) bisa ada peri, nenek sihir, atau ibu tiri yang keji, maka korea punya plot kena-sakit-parah-lalu-mati. Bagaimanapun awal ceritanya. Which explains like, a lot. Kalau orang Indonesia itu mistis, orang Korea..mmm..tragedic?->*btw ada gak sih kata ini di kamus?*
Mending mana tuh? Disantet atau kena Alzheimer?
-M O O N Y
besok-besok, sebosan apapun, saya akan kembali kepada 90's teen-flicks. korea? nehi, thanks.
Judul posting ini, sadly, adalah bagaimana saya menghabiskan hari libur pada Kamis (29/10) kemarin. Jadi dengan niat yang mulia untuk menjadi mahasiswi FISIP yang lebih baik, saya datang ke sebuah seminar tentang perumusan agenda politik kaum muda pada pemilu 2009. Seminar yang diisi orasi dua tokoh 'muda' yang hendak maju menjadi Presiden pada pemilu 2009. Dua tokoh yang memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan Indonesia yang lebih baik, bla bla.
Tidak ada yang baru. Mau apa? Yang dijanjikan itu-itu saja, titik. Yang membuat saya terkesan adalah kemasannya. *Mungkin memang benar saya orangnya sugestif, hahaha* Mungkin memang perdebatan soal usia 'tua' dan 'muda' harus berhenti pada pembahasan secara politis dan substantif. Semua ingin persaingan yang adil kan?
Yang jelas, saya tertular semangat dan optimisme dari salah satu orator. Clearly, public-speaking or a so-called retoric ability really matters, my friends. Mau maju? Tunjukkan niat untuk maju. Lagi kampanye? Akui saja kalau memang sedang berkampanye. Apa susahnya? Kan, apa yang tadinya tampak seperti kampanye yang terlalu agresif sekarang jadi tampak seperti sebuah kegigihan bagi saya. Menurut saya tidak ada yang salah untuk maju dengan kekuatan sendiri, sekecil apapun kekuatan yang dimiliki. Dibanding dengan menunggu sokongan dari kekuatan yang lebih besar baru berani unjuk gigi. Hei, ini bedanya yang tua dan yang muda! Yang muda tidak menggembar-gemborkan hal-hal seperti "sudah saatnya yang tua tut wuri handayani" atau "biarkan yang muda maju". Maju aja dulu, lalu buktikan kalau kita mampu!
Note: ini bukan kampanye terselubung, bukan ;)
Inilah cara menghabiskan hari libur yang paling produktif. Brilian. Pelajaran moral yang saya dapat amat berharga dan menginspirasi. Sungguh. Saya merasa selangkah lebih maju menuju kriteria mahasiswi ideal. Meskipun jarang nonton TV dan baca majalah Tempo hanya pada halaman terakhirnya saja tiap minggu, saya merasa hari ini saya akhirnya melakukan sesuatu yang membuat otak saya produktif di luar jam kuliah.
Berbekal keyakinan itu, sesampainya di rumah, saya memutuskan untuk sedikit bersenang-senang. Dan siapa sangka, kegiatan bersenang-senang saja mampu memberikan pelajaran moral? Hari itu penuh dengan inspirasi-inspirasi yang menggantung di udara (tsah). Masih di hari yang sama, pelajaran moral nomor dua adalah: Jangan Pernah Nonton Film Korea.
So I watched a korean movie. Gak usah tau judulnya (saking oh-my-it's-so-typically-korean-dramas). Yang jelas, pengalaman saya menonton film korea sebelumnya tidak pernah berujung menyenangkan. Sekali waktu ada film korea yang sumpah-mati, lucu gak ketulungan! Setengah film berjalan bahagia sekali, lalu di tengah-tengah film...err... KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH? Geez.
Tanpa kapok dan niat yang sungguh mulia untuk tidak menjustifikasi semua film korea menyebalkan melalui pengalaman sebelumnya, saya nonton film korea lagi. Korea itu bagus ya? Pemeran-pemeran ceweknya punya rambut lurus (yang tampak) alami dan karakter-karakter yang lemah lembut, hmmmph, sangat menginspirasi. Oh, setengah filmnya bagus sekali, sangat romantis dan...
KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH (LAGI)???
Kalau sinetron-sinetron Indonesia bisa ditebak dari plot ceritanya yang (tiba-tiba) bisa ada peri, nenek sihir, atau ibu tiri yang keji, maka korea punya plot kena-sakit-parah-lalu-mati. Bagaimanapun awal ceritanya. Which explains like, a lot. Kalau orang Indonesia itu mistis, orang Korea..mmm..tragedic?->*btw ada gak sih kata ini di kamus?*
Mending mana tuh? Disantet atau kena Alzheimer?
-M O O N Y
besok-besok, sebosan apapun, saya akan kembali kepada 90's teen-flicks. korea? nehi, thanks.
Sabtu, 25 Oktober 2008
Mainmain Gambar dan Lirik #1
Aduh-duh!
Seperti biasa, serangan UTS dan tugas-tugas menyumbat otak saya. Walhasil niat buat posting jadi enggak ada. Maklum, saya seorang pisces. Pisces itu moody. Silogisme: saya itu moody. *bukan gara2 FB juga kok, Mba Astrid, hahaha*
Bagaimanapun juga...
Pikiran-pikiran tidak harus selalu tertuang dalam bentuk tulisan. That's why I'm keeping my sketch book, though it's more like a diary. Bedanya, diary ini gak bisa sembarangan dibaca orang. Oke, dibaca bisa, dimengerti enggak, karena saya membuat emosinya setersamarkan mungkin melalui gambar-gambar tadi. Hahahahaha.
Sembari menunggu inspirasi (dan lewatnya 'badai' UTS dan tugas), majang gambar aja ya kali ini?
(ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau bahasa Indonesia-nya upload ternyata unggah. Lucu ya, unggah dan unduh, tapi kenapa saya jadi ingat jenis-jenis serangga?)
Ini adalah fragmen-fragmen beberapa lirik lagu yang saya buat saat mendengarkan CD KLa Project. CD itu sampai baret, parah sekali. Mulai track 6 sudah macet kalau dimainkan di player, hehehe. Tapi saya, lewat kesempatan ini, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KLa Project, yang telah menjadi (salah satu) sumber kewarasan dan juga mind-tickler bagi saya--berdampingan dengan pensil mekanik dan selembar kertas putih kosong--beberapa tahun belakangan ini.
Kenapa saya pilih gambar ini? Karena oh karenaaaaaa, the original KLaProject is back! It's, again, like one of my wildest dreams come true!
-M O O N Y
Seperti biasa, serangan UTS dan tugas-tugas menyumbat otak saya. Walhasil niat buat posting jadi enggak ada. Maklum, saya seorang pisces. Pisces itu moody. Silogisme: saya itu moody. *bukan gara2 FB juga kok, Mba Astrid, hahaha*
Bagaimanapun juga...
Pikiran-pikiran tidak harus selalu tertuang dalam bentuk tulisan. That's why I'm keeping my sketch book, though it's more like a diary. Bedanya, diary ini gak bisa sembarangan dibaca orang. Oke, dibaca bisa, dimengerti enggak, karena saya membuat emosinya setersamarkan mungkin melalui gambar-gambar tadi. Hahahahaha.
Sembari menunggu inspirasi (dan lewatnya 'badai' UTS dan tugas), majang gambar aja ya kali ini?
(ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau bahasa Indonesia-nya upload ternyata unggah. Lucu ya, unggah dan unduh, tapi kenapa saya jadi ingat jenis-jenis serangga?)
Ini adalah fragmen-fragmen beberapa lirik lagu yang saya buat saat mendengarkan CD KLa Project. CD itu sampai baret, parah sekali. Mulai track 6 sudah macet kalau dimainkan di player, hehehe. Tapi saya, lewat kesempatan ini, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KLa Project, yang telah menjadi (salah satu) sumber kewarasan dan juga mind-tickler bagi saya--berdampingan dengan pensil mekanik dan selembar kertas putih kosong--beberapa tahun belakangan ini.
Kenapa saya pilih gambar ini? Karena oh karenaaaaaa, the original KLaProject is back! It's, again, like one of my wildest dreams come true!
-M O O N Y
Rabu, 24 September 2008
Can I Call It a "Mudik Inspiration"?
Yippie!Akhirnya oh akhirnya, setelah hampir setahun menanti, film Laskar Pelangi rilis juga... Dan yang buat saya salut, pertama, adalah tanggal rilisnya yang tepat waktu (gak pake delay2 kayak Lion Air), hehehe. Kedua, filmnya pun sangat bagus. AMAT sangat bagus. What's not to like? Cut Mini sebagai Bu Mus dengan akting yang sangat brilian? Alam Belitong yang (ternyata) sangat indah? Ikal, Lintang, dan Mahar kecil yang sangat ekspresif? Wuiih.. saya rasanya mau2 aja kalau disuruh nonton 5 kali berturut-turut.. :)
Mau gak mau, film ini juga ngingetin saya sama mata kuliah Sosiologi Pendidikan. Pak Paulus sang pengajar ngasih tau bedanya aliran fungsional dan konflik dalam memandang pendidikan. Kalau fungsionalis beranggapan pendidikan sebagai Human Capital, sebagai sarana untuk memperoleh status individu yang lebih baik dalam masyarakat, aliran konflik menganggap pendidikan pun didominasi oleh kaum ekonomi kelas atas, dan pendidikan akhirnya hanya jadi alat untuk reproduksi kelas.

Singkatnya, beliau juga bilang bahwa salah satu pemecahan terbaik dalam bidang pendidikan ini adalah Affirmative Action, tindakan mendiskriminasi negatif (dalam hal ini kelas ekonomi atas) agar kelas bawah juga memiliki kesempatan yang sama dengan kelas atas dalam mengakses pendidikan. Misalnya dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) buat sekolah2 negeri, atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Nyatanya tindakan afirmatif ini juga tidak efektif... gimana mo efektif, wong dana BOSnya dikorup sana-sini, dana BLT nyasar nyampenya, dan kalopun BLT dikasi ke orang yang berhak juga duitnya dibakar (baca: buat beli rokok!). Saya merasa ada sesuatu yang terlewat, dan faktor-faktor yang menghambat pemerataan kesempatan pendidikan jadinya bukan hanya faktor struktural dan kultural..
Something's missing til I think of Lintang. I think of Denias. Dan mungkin juga beribu-ribu orang hebat lainnya yang lahir di tengah-tengah kondisi ekonomi keluarga yang kurang beruntung. Dan hal itu adalah: Motivasi. Ya, masalah merata atau tidaknya pendidikan tidak selalu harus dianalisa secara makro. Bagaimana kita menumbuhkan motivasi belajar, mungkin itu yang sebenarnya terlewat...*Bagaimana kita melihat bangsa kita yang selalu "diinjak-injak" bangsa lain (bahkan ama sodara kita yang katanya serumpun..), bagaimana kita melihat sumber daya alam kita yang dengan bodohnya kita jual ke luar terus kita beli lagi dengan harga yang jauh lebih mahal, bagaimana kita melihat carut-marutnya pemerintahan yang selalu dan selalu merugikan rakyat...*
Masalahnya, saya bisa bicara begini karena lewat pendidikan pula saya memperoleh motivasi seperti itu. (See? Motivasi datang melalui pendidikan, bukan sebaliknya). Lantas melihat spirit yang dimiliki Lintang, Denias, dan anak-anak Laskar Pelangi lainnya? Saya jadi malu sendiri..
Mungkin begitulah cara membedakan orang hebat dengan orang biasa lainnya. Mengetahui darimana motivasi itu berasal..
-M O O N Y
Kalo kata Nidji "Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia", and I'm a daydream believer! :D
Ehm, saya juga mau numpang ngucapin "Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin!" Akhirnya mudik juga nih saya tahun ini! Hehehehe... :)
Ehm, saya juga mau numpang ngucapin "Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin!" Akhirnya mudik juga nih saya tahun ini! Hehehehe... :)
Kamis, 07 Agustus 2008
Gandhi VS Joker
"When I despair, I remember that all through history the way of truth and love have always won. There have been tyrants, and murderers, and for a time they can seem invincible, but in the end they always fall. Think of it...always."
-Mahatma GandhiEuh.
Gandhi emang salah satu source of wisdom terhebat yang pernah lahir di muka bumi. Saya jadi ingat Umar Kayam dengan slogan High Thinking, Plain Living-nya yang disebut berulang-ulang di seri Mangan Ora Mangan Kumpul. High Thinking, Plain Living, juga salah satu filosofi Gandhi, saya anggap jenius karena cuma dengan empat kata (empat!) dia berhasil merumuskan filosofi hidup yang paling tepat dalam menggambarkan hidup dia sendiri dan orang-orang hebat lainnya. The greatest idea is the one that explained with the simplest words, iya gak sih?
Tapi..
Quotation itu naif banget gak siiih? Saya gak pengen sok skeptis atau apapun sih :p
Jadi inget juga, kira-kira dua mingguan yang lalu, saya nonton Meet Dave, film tentang robot luar angkasa yang datang ke bumi buat nyari sumber tenaga baru lewat air laut. Ide itu bisa ngehancurin peradaban umat manusia, tapi orang-orang planet laen ini gak peduli. Mereka menganggap manusia toh cepat atau lambat akan menghancurkan bumi juga. Why bother?
Aaah. Saya gak bisa berhenti muter bola mata saking klisenya tema film itu. Yang jelas tema film itu lagi-lagi tentang 'oh-betapa-menariknya-manusia' dan 'oh-ternyata-pada-hakikatnya-manusia-bumi-itu-masih-baik'. Hehe, adek gue sampe sebel gara-gara aksi sok kritikus film saya hari itu.
Teman saya, yang juga suka sebel kalo saya udah mulai sok skeptis, lantas menyindir. "Bukannya loe dulu nangis parah banget waktu nonton Armageddon ya?"
Hahahahahaha. Iya sih. Apa coba yang kurang norak di film itu? Perjalanan luar angkasa? Cek. Persatuan umat manusia? Cek. Cinta sejati? Cek. Mustahil? Klise? Double cek.
So I used to be so cliche. So?
Tapi apa pada akhirnya semua film, novel, bahkan sinetron akan selalu ber-doktrin pada quote Gandhi tadi? Bahwa mau ada Voldemort, Joker, Ibu Tiri, bahkan Hantu Suster Ngesot, yang baik akan selalu menang, bahwa manusia pada dasarnya berbudi luhur dan altruistik?
*Ehm. Halooo? Homo homini lupus? Zoon economicon? Sumanto, Imam Samudra, bahkan Ryan?*
Saya memutar bola mata lagi (kali ini sampai pusing).
Pusing dengan apa yang saya pikir, apa yang saya tulis.
-M O O N Y
Selasa, 05 Agustus 2008
What I've Been Doing
Routinity actually brings you much more inspirations.
Wah, udah sebulan ga ngepost. Hehehe :)
Ki-ka : Nessa, Icha, Acha (gemeeees!), saya, Shera (yang suaranya bisa bikin orang merinding), Dhira, Kak Livvie, Vira (Hmm, minus Meffy nih!)
Wah, udah sebulan ga ngepost. Hehehe :)
Ki-ka : Nessa, Icha, Acha (gemeeees!), saya, Shera (yang suaranya bisa bikin orang merinding), Dhira, Kak Livvie, Vira (Hmm, minus Meffy nih!)And here (yep, this purple-ish picture) is a picture taken from an event called Malam Indojalito: Perempuan dan Budaya. Sebuah pagelaran teater tari karya Boi Gumarang Sakti (putra dari Gusmiati Suid, sang maestro tari Indonesia) yang kental nuansa Minang.
*Woops, did I just say Minang?*
Hehehehehehe. Emang semakin kita sebel, semakin kita 'touche' melulu kali ya? Kali ini lengkap dengan baju kurung dan kembang ungu super-besar di kepala. Oh, belum kepangan duanya. Gee, i did look like a complete idiot. :')
But what a moment, anyway.
- M O O N Y
to all the singers that nite: kpn sushi tei? :)
But what a moment, anyway.
- M O O N Y
to all the singers that nite: kpn sushi tei? :)
Langganan:
Postingan (Atom)


