Senin, 13 Februari 2012

"Hello, stranger."

Apa sesuatu yang bisa kita petik dari Closer, Little Children, dan beberapa waktu yang lalu, Laki-Laki yang Menikah dengan Perempuan (yang Ternyata Laki-Laki)?

Satu, ragu-ragu itu perlu. Selalu. Sebabnya (dua), setiap orang menyimpan kegilaan masing-masing. Bisa dibilang, inilah dua ketakutan terbesar saya dalam relasi dan interaksi antar individu saat ini. Bahkan dalam lingkup terdekat dan tersempit, bukan sekadar paranoia terhadap kriminitalitas jalanan atau tusuk-dari-belakang dalam lingkaran pergaulan. Kurang, tapi sekaligus lebih dari itu.

Mungkin kita tidak lagi berada dalam batasan kata-kata yang menghakimi manusia kepada kelemahannya sebagai makhluk yang ingin percaya bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Tidak perlu lagi mendefinisi orang lain untuk menentukan bagaimana kita berpikir. Kitalah tolak ukurnya. Seorang antropolog asal Jepang, Saya Sasaki Shiraisi, dalam catatan pengamatannya tentang Jakarta yang sangat menarik menulis tentang potensi bahwa siapa saja di jalanan Jakarta bisa menjadi rampok. Shiraisi mengutip sebuah cerita pendek dari majalah anak-anak tentang seorang remaja yang mengambil pistol dari dalam saku pencopet yang tadinya justru berniat mencopetnya. Siapa korban, siapa pelaku. Rancu. Yah, berapa kali sudah kita dengar komplotan garong dalam mikrolet kini tak hanya sejumlah laki-laki berwajah seram yang mengenakan jaket kulit, tetapi juga ibu-ibu bertampang sederhana yang memakai daster dan sandal jepit?

Adegan akhir dalam Closer memperlihatkan sosok Natalie Portman yang melengang melewati petugas imigrasi. Apa yang ia tinggalkan di belakangnya bukan hanya sebuah negara, tetapi juga sejarah dan identitas dirinya. Ia meninggalkan Alice Ayres, identitas yang ia curi dari sebuah nisan. Ia juga meninggalkan hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun. Dan kita mungkin ikut termangu, persis seperti ekspresi wajah Jude Law saat melihat nisan Alice Ayres asli, ekspresi yang sadar bahwa dia tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan yang menjadi kekasihnya selama beberapa tahun. Lewat Closer kita tahu bahwa diri bisa sepenuhnya terbentuk lewat kata, manusia mudah percaya, dan bagaimana keduanya menggiring pada bahaya.

Little Children membuat kita terhenyak karena kegilaan adalah bentuk kesadaran yang total—yang mengabaikan juga sejarah, identitas, dan memori dalam sekejap mata. Siapa yang duduk di hadapanmu, tetanggamu, pasangan rumah tanggamu, kau tidak pernah sepenuhnya tahu. Ia adalah orang yang dalam lima menit berikutnya bisa meninggalkanmu dengan mudah karena bertemu dengan perempuan asing di sebuah taman yang mengajaknya lari ke kota lain. Ia adalah orang yang sepenuhnya tampil seperti sebuah sampel atas populasi manusia kota: laki-laki, berkeluarga, berpendidikan, bekerja, dan sebagainya.

Dalam versi yang sedikit lebih jenaka kita temui rapuhnya relasi dalam kasus laki-laki yang menikahi laki-laki lain yang mengaku sebagai perempuan. Banyak orang merespons berita itu dengan tawa dan menjadikannya lelucon—tapi apa kita mungkin sedang tertawa pada diri kita sendiri? Apa kita sepenuhnya yakin dan tahu tentang orang-orang terdekat kita? Kalaupun kita tahu, bisakah kita percaya?

Di atas itu semua, apa kita sepenuhnya percaya pada diri sendiri? Tidakkah kapasitas untuk itu terlalu berat untuk kita miliki?


-M O O N Y

Selasa, 13 Desember 2011

#Abaikan

"Pada tahap itu, siapa saja yang kemudian berkata "semangat!" dan "elo pasti bisa!" menjadi sangat, sangat potensial untuk masuk dalam daftar orang-orang yang harus kau hindari selama beberapa hari ke depan. Bukan hanya kata-kata tersebut jadi kehilangan makna, tapi kau merasa bersalah karena membenci orang-orang yang mencoba menghiburmu. Jadi jangan salahkan siapa-siapa kalau dalam setiap kata penghiburan ada secercah rasa kasihan yang sulit dibedakan dengan template dalam telepon seluler yang nirmakna karena, ah, setiap orang mengaku galau hari-hari ini."

Kamis, 24 November 2011

I'm Not There: Perhaps Because Dylan is Everywhere


Nggak ngerti siapa yang paling sinting di sini--Bob Dylan, Todd Haynes, atau jangan-jangan Martin Scorsese. Tapi bisa jadi benar kata teman saya, yang paling sinting adalah yang nekat nonton I'm Not There tanpa lebih dulu dengan khusyuk menonton No Direction Home. Jadi, hanya satu kata dengan atribut di belakangnya: tontonlah.


-M O O N Y
"How many roads must a man walk down before you call him a man?"

Selasa, 15 November 2011

Tentang Mimpi yang Betul-Betul Mimpi

Sejak kecil saya percaya pada mimpi-mimpi yang saya alami saat saya tidur. Meski tidak selalu ingat persis, ada beberapa tema yang muncul secara berkala: Ular, Gigi, dan Langit.

Dalam sebuah buku tafsir mimpi bersampul tebal (saya lupa buku tafsir mimpi ini riwayat siapa), saya menemukan kutipan salah seorang cucu Nabi Muhammad (maaf, saya juga lupa persisnya kutipan dari Imam yang mana): Tuhan memberikan mimpi agar kita tahu bahwa tak segala sesuatu mesti diyakini, tetapi sekaligus juga agar kita tahu bahwa segala sesuatu punya arti. Tahukah anda bahwa jin, misalnya, tak mungkin masuk dalam mimpi?

Tema ular secara berkala masuk ke dalam mimpi-mimpi saya. Saya sendiri lupa sejak kapan awal mulanya, mungkin sejak saya melihat kepala ular yang melintas di balik rumput-rumput di dekat SD saya dulu. Memang dari dulunya sudah takut pada hewan-hewan melata, saya rasa ketakutan tersebut terus mengendap di bawah sadar. Beberapa kali saya mimpi ada ular di dalam rumah, warnanya kadang hitam, kadang putih, pernah juga sekali warnanya hijau. Saya pernah mimpi ular raksasa yang menggigit kepala adik perempuan dan sepupu saya sampai putus. Pernah juga sekali mimpi ular makan tikus. Untunglah kata beberapa orang, ular artinya bagus--bisa berarti rejeki atau jodoh.

Munculnya gigi dalam mimpi sudah jelas mengerikan. Hampir semua orang tua berkata bahwa gigi yang patah berarti akan ada kerabat atau kenalan yang meninggal di dunia. Sejak tahu bahwa artinya sebegitu buruk, saya menyimpan mimpi-mimpi gigi saya patah diam-diam. Lebih sering gigi atas dibanding gigi bawah, tetapi selalu gigi geraham. Bahkan sekali waktu saya pernah mimpi gigi saya satu mulut copot semua!

Sebuah kematian sanak saudara membuat saya tak bisa lagi diam-diam saat bermimpi gigi. Beberapa bulan yang lalu, sepupu Ibu saya meninggal dunia dua hari setelah saya dan ibu menjenguknya di Rumah Sakit. Ketika beliau wafat, saya bilang pada Ibu bahwa saya mimpi gigi saya patah beberapa hari sebelumnya. Kontan Ibu saya sedikit gusar, berkata bahwa lain kali saya tak boleh lagi merahasiakan mimpi gigi saya. Ibu saya menyesal karena sepupunya belum sempat bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain untuk terakhir kalinya. Dua minggu yang lalu, saat saya mimpi gigi saya patah lagi, saya langsung mencari Ibu dan bertanya apa ada saudara kami yang sedang sakit. Ibu saya bilang rasanya tidak ada, tetapi dua hari kemudian Nenek memberi tahu bahwa saudaranya meninggal dunia.

Oke, mari kita berhenti bicara tentang mimpi gigi dan pindah ke mimpi langit, karena mimpi-mimpi dengan tema langit lebih bagus dibanding mimpi dalam dua tema sebelumnya. Saat SMA, saya pernah bermimpi memandang langit dan berdoa dalam hati. Sebuah bingkisan kado lalu turun dari langit, jatuh dan melayang bebas, tetapi bingkisan tersebut jatuh ke tangan adik perempuan saya. Kami sedang berjalan berdua di sebuah jalanan yang panjang dan langit berwarna biru tua. Sekali saya mimpi ada dua bulan di langit. Sekali saya juga bermimpi terbang dari tempat saya tinggal, melintasi langit, sampai ke sebuah negara yang asing seperti 1001 malam. Mimpi langit ini sudah pasti mimpi yang paling bikin berdebar-debar saat bangun tidur, tapi sayangnya paling jarang..

Dari mimpi-mimpi tematik, saya juga ingin bercerita tentang mimpi-mimpi fantastik. Diberi judul fantastik karena mimpi-mimpi ini pada akhirnya punya signifikansi dengan alam sadar (cuih, bahasa apa ini!). Pertama (dan ini mimpi yang saya tidak pernah lupa), saya pernah mimpi sedang ada di SMA, semua murid memegang tang dan sibuk mencari kabel bel sekolah yang tidak mau berhenti berdering. Seharian kami semua mencari kabel yang bisa menghentikan dering bel, tetapi kabel misterius itu tak kunjung ditemukan. Saat saya terbangun mendadak dari mimpi itu--tebak apa! Ternyata jam weker di kamar saya sudah berbunyi nonstop lebih dari satu jam sampai suaranya melemah. Bangun-bangun lalu terpingkal-pingkal, menertawakan koherensi mimpi dan kenyataan, itu rasanya aneh, absurd, dan lucu banget!

Mimpi fantastik kedua adalah mimpi berkunjung ke rumah salah seorang teman saya, Astari. Dalam mimpi tersebut, saya ada di rumah Astari yang luas, bertembok putih, dan terdiri dari dua lantai. Di rumahnya banyak perabot kayu dan lantainya ubin putih besar-besar. Saya ingat dalam mimpi itu saya naik ke lantai dua rumah Astari dan melihat kursi goyang. Dari lantai dua rumah tersebut, saya bisa melihat ke bawah sambil bersandar pada teralis-teralis kayu. Mimpi ini begitu detail, padahal saya sama sekali belum pernah ke rumah tersebut. Jadi, bayangkan betapa tercengangnya saya saat melihat rumah Astari pada akhirnya--yang ternyata benar-benar sangat luas, berperabot kayu, dan berlantai ubin putih. Saya sebenarnya lupa betapa rincinya mimpi saya sampai saya naik ke lantai dua rumah Astari dan melihat kursi goyang!

Yah, barang kali mimpi memang tak harus diyakini. Barang kali mimpi, dalam manfaatnya yang paling mudah kita rasakan, semata untuk membuat kita tercengang dan mensyukuri apa yang sesungguhnya ada di dalam batok kepala masing-masing.

"The trick is to combine your waking rational abilities with the infinite possibilities of your dreams, because if you can do that, you can do anything." (Guy Forsyth, dalam Waking Life)


-M O O N Y
Beberapa menit terakhir penulisan posting kali ini diiringi dengan celoteh ribut adik perempuan dan dua sepupu saya yang datang menginap. Berikut saya lengkapi dengan sedikit transkrip:

Icha (21 tahun): "Mimpi tuh cuma bunga tidur atau hal yang lagi kita pikirin banget." --> Dan kalimat ini terlontar dari makhluk hidup paling sering ngigo di dunia.

Dila (16 tahun): "Ga tau." (sambil mengunyah keripik kentang) --> Harap maklum, sistem kesadarannya sudah melemah setiap melewati pukul dua belas malam.

Sahira (19 tahun): "Katanya kalau mimpi yang bagus, nggak usah diceritain. Tapi kalau mimpi yang jelek baru diceritain biar mimpinya nggak jadi kenyataan." --> Sepertinya agak sedikit lebih bijaksana kalau nggak makan bakso dalam satu hari.. :p

Kamis, 03 November 2011

"Man Cannot Not Communicate"

Creation comes out of imperfection. It seems to come out of a striving and a frustration. This is where, I think, language came from. I mean, it came from our desire to transcend our isolation and have some connection with one another. It had to be easy when it was just simple survival. "Water." We came up with a sound for that. "Sabretooth tiger behind you!" We made a sound for that. But when it gets really interesting, I think is when we use that same system of symbols to communicate all the abstract and intangible things we're experiencing. What is "frustration"? Or what is "anger" or "love"? When I say "love" the sound comes out of my mouth and hits the other person's ear travels through the byzantine conduit in their brain through their memories of love or lack of love. They say they understand, but how do I know? Because words are inert. They're just symbols. They're dead. You know? And so much of our experience is intangible. So much of what we perceive cannot be expressed. It's unspeakable. And yet, you know, when we communicate with one another and we feel we have connected and think we're understood I think we have a feeling of almost spiritual communion. And that feeling may be transient, but I think it's what we live for.

Fragmen Kim Krizan dalam Waking Life--film yang resmi menandai hidup saya dalam dua periode: BWL (Before Waking Life) dan AWL (After Waking Life). Film ter-bikinkepalamaumeledak, secara harafiah!

Kamis, 20 Oktober 2011

Untuk Wina Adlina

"I've long ago dedicated myself to myself."
- Jack Kerouac

Wina,

Kerouac, dalam kumpulan surat-surat yang ia tulis untuk dan ia terima dari Allen Ginsberg, bisa saja tak hanya bicara atas nama orang-orang dari kumpulannya sendiri. Ia juga bicara untuk generasi-generasi yang akan datang, generasi yang ia tahu pasti punya kegelisahan yang sama dengannya. Kegelisahan itu tak punya nama tepat. Tak jitu untuk disebut dalam satu istilah. Kegelisahan itu terakumulasi. Pada satu titik ia seperti nonsens, tapi kalaulah iya, mengapa kita tetap membaca Kerouac dan Ginsberg yang seperti mabuk dalam kegegapgempitaan pikiran mereka sendiri?

Kalaupun ia bukan nonsens, sepertinya bahasa telah bertindak tiran terhadapnya.

Moli
PS: Eddie Vedder bisa dibilang berhasil membuat kegelisahan ini jadi audibel. Judulnya The Wolf.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Moral Lesson #1

Dalam kamus online yang muncul pada baris pertama hasil pencarian, demistifikasi berarti "to make less mysterious; to clarify". Kedua makna tersebut mungkin hasil dari apa yang dipertentangkan terhadap kata mistis itu sendiri. Mistis adalah yang misterius dan tak jelas.

Demistifikasi tidak perlu dilakukan dengan susah payah. Terima kasih kepada waktu, anda yang tahu sebenarnya hanya tinggal menunggu. Sudah jelas bayarannya mahal. Sejarah adalah salah satu contoh telak.

Bisa saja akal mereduksi pesona, membuat yang misterius jadi tercerna. Tapi kalau demistifikasi justru menambah pesona? Hati-hati. Bisa jadi anda gagal sebagai pemikir--atau yang anda coba demistifikasikan is way. beyond. your. reach.


-M O O N Y
Wisuda Lokal Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, 15 Oktober 2011.