Kamis, 17 Januari 2013

XII

Pengembara mesti mengetuk tiap-tiap pintu orang asing supaya dapat menemui pintunya sendiri,

dan kita harus menjalani segala dunia supaya akhirnya sampai ke tempat batin suci.

Mataku mengembara jauh dan luas, sebelum aku menutupnya dan berkata: "Di sinilah engkau."

Pertanyaan dan seruan "Di mana?" cair dalam airmata beribu arus dan memenuhi dunia dengan pasang kepastian: "Aku ada."


Gitanjali (Rabindranath Tagore)

Senin, 03 Desember 2012

Ketawa ed. Minggu Ini

"Anggap saja bila kekacau-balauan adalah petir, dia orang yang berdiri di atas bukit di tengah-tengah hujan badai mengenakan baju tembaga basah dan berteriak 'Semua dewa adalah jahanam!'"


Rincewind, dari The Colour of Magic oleh Terry Pratchett
Entah kenapa banyak buku fantasi edisi terjemahan bahasa Indonesia selalu lebih lucu dibaca daripada edisi dalam bahasa aslinya.

Selasa, 13 November 2012

Pursuit of... what, exactly?

Each thing I do I rush through so I can do
something else. In such a way do the days pass -
a blend of stock cars racing and the never
ending building of a gothic cathedral.
Through the windows of my speeding car, I see
all that I love falling away: books unread,
jokes untold, landscapes unvisited. And why?
What treasure do I expect in my future?
Rather it is the confusion of childhood,
loping behind me, the chaos in the mind,
the failure chipping away at each success.
Glancing over my shoulder I see its shape
and so move forward, as someone in the woods
at night might hear the sound of approaching feet
and stop to listen, then, instead of silence
he hears some creature trying to be silent.
What else can he do but run?
Rushing blindly down the path, stumbling
struck in the face by sticks;
the other ever closer, yet not really
hurrying or out of breath, teasing its kill. 

Stephen Dobyns' Pursuit, from Cemetery Nights (1997)
A friend of mine just quit her job recently and sent me this poem. I've never seen her this insanely happy.

Aureliano

"Ingatlah, sobat," katanya. "Bukan aku yang menembakmu, tetapi revolusi."

Jenderal Moncada bahkan tidak bangkit dari pelbet melihat Aureliano masuk.

"Pergilah ke neraka, teman," jawabnya.

Sampai saat itu, sejak pulang, Kolonel Aureliano Buendia belum pernah membiarkan dirinya melihat Moncada dengan mata hatinya. Ia terkejut melihat betapa jenderal itu sudah tua, betapa tangannya gemetaran dan dengan telaten menyesuaikan diri selama menanti kematian, kemudian ia merasa jijik kepada dirinya karena perasaannya mulai dicampuri rasa kasihan.

"Kau lebih tahu daripadaku," kata Kolonel Aureliano Buendia, "bahwa semua pengadilan militer adalah lelucon, dan sebenarnya kau harus membayar kejahatan orang lain karena apa pun yang terjadi kali ini kami akan menang. Bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika jadi aku?"

Jenderal Moncada bangkit untuk membersihkan kacamatanya yang berbingkai tanduk tebal dengan ujung kemejanya. "Mungkin." katanya. "Tetapi yang membuatku risau bukan karena kau akan menembakku sebab bagaimanapun, bagi orang seperti kita, ini kematian yang wajar." Ia meletakkan kacamatanya di atas tempat tidur dan melepaskan arloji serta rantainya. 

"Yang membuatku risau," lanjutnya, "adalah dari kebencian yang amat sangat terhadap militer, melawan mereka dengan sengit, dan seringnya kau memikirkan mereka, kau berakhir menjadi sama buruknya dengan mereka. Dan tidak ada cita-cita dalam hidup yang layak diraih dengan kerendahan budi seperti itu." Ia melepaskan cincin kawinnya dan medali "Bunda Maria yang Selalu Menolong" lalu diletakkan di sebelah kacamata dan arlojinya.

"Dengan cara demikian," ia menyimpulkan, "kau tidak hanya diktator paling otoriter dan paling berdarah dalam sejarah kita, tetapi kau akan menembak sahabatku, Ursula, dalam upaya menundukkan hati nuranimu."

*****

Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude): 212-213. 
Gabriel Garcia Marquez, tentang nurani.

Minggu, 28 Oktober 2012

Wahib

"Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri."
Ahmad Wahib, 9 Juni 1969

Rabu, 17 Oktober 2012

How to Turn Your Bitterness Into Sarcasm

Sedikit Tentang Sesal
Dilontarkan pada berbagai kesempatan, sesal merupakan kata kambing hitam yang paling nista di muka bumi--paling tidak dalam Bahasa Indonesia yang sesuai EYD. Kita menyesali kematian kerabat/keluarga, kita menyesali perempuan/laki-laki yang tidak kita dekati, kita menyesali pekerjaan yang kita tinggalkan, kita menyesali sekolah yang tidak kita lolosi, kita menyesali memesan sambal ayam penyet yang paling pedas, kita menyesali meminum susu yang sudah kadaluwarsa, kita menyesali duduk di cat yang masih basah, kita menyesali lupa membawa celana dalam cadangan, dan yang paling fatal kita menyesali kita yang dilahirkan di muka bumi (*puk, puk). Mitos sesal ini dimulai dari asumsi bahwa apapun itu yang kita lewati/lupakan/tinggalkan/gagal/dsb bisa saja membawa kita pada--meminjam terminologi Arab--Sirat al-Mustaqim. Kata kunci yang perlu kita lihat di sini adalah bisa saja, sebuah kata yang biasa digunakan untuk probabilitas. Probabilitas, dalam bahasa awam, berarti ada kemungkinan benar dan salah. Dalam hal ini probabilitas di sini dapat mencapai 50% yang berarti bisa saja benar bisa saja salah. Ilusi bahwa apabila kita mengambil jalan yang lain maka hidup kita akan lebih baik telah berkumandang sejak ribuan tahun yang lalu, mungkin saja, belum ada rekam sejarah yang membuktikan pernyataan ini salah. Namun coba saja, buktikan bahwa andaikan menjadi: dokter, insinyur, pengacara, pelancong, kehidupan akan sepasti-pastinya lebih baik dari sekarang ini. Peningkatan status sosial? Mobilitas pendapatan finansial? Penemuan makna ilahiah? Moksa? ****

Pertanyaan yang tidak pernah selesai mengenai probabilita: Kalau kapitalisme modern adalah afinitas elektif dari asketisme golongan Kristen Calvinis yang memilih bersikap baik dan bekerja keras selama hidup di dunia, yang didorong oleh probabilita bahwa mereka bisa saja berakhir di surga atau neraka yang telah ditentukan sebelum mereka lahir, kenapa mereka memilih untuk tetap bersikap baik? Apa supaya tidak menyesal?

Tulisan ini masih mentah dan seharusnya dirahasiakan. Namun demi terwujudnya kewarasan kolektif yang makin langka akhir-akhir ini, tanpa persetujuan penulis saya tergerak untuk mempublikasikan sedikit cuplikannya. Selamat tertawa! (Kalau anda tertawa, artinya akal sehat anda masih jalan. Kalau tidak... silakan follow @aps2201). #FuckYeahAndaru

Dari Ubud #1

Pagi itu, tiga orang yang sedang menampilkan puisi diperlihatkan dalam video-video berbeda. Puisi pertama tentang orang Cina di Amerika yang dibacakan secara over-dramatis untuk memancing gelak tawa. Puisi kedua adalah kecaman terhadap kekerasan dan diskriminasi di Amerika. Saya lupa tentang apa puisi ketiga, tapi seseorang di ruang itu berkomentar tentang kesamaan di antara ketiganya.

"Universal fragility." sahutnya.

Dua kata itu dengan segera menyita perhatian saya, mungkin hingga saat ini. Jangan-jangan, setiap hari kita bukannya bangun tidur dan berpura-pura hidup normal? Barangkali sama seperti vas kristal, kita juga seharusnya ditempeli label "Awas Mudah Pecah" di dahi?