Minggu, 05 Oktober 2014

August

This is an attempt of documenting one of the most random conversation I have ever had, one that seems to linger in my memory, on one night I met a very captivating soul. I remember we mentioned Jane Goodall, but can't remember who said the name first. Sitting face to face to each other, he told me and a friend of mine that he wished to be born in the 1960's, just to go back to Gombe Stream, Tanzania, and ask Jane Goodall to married him. The conversation then led to another topics, from human nature to why do we have to exist. I remember, with a tilted head, a half-crooked and half-disoriented smile, I said to myself, and silently to a person I probably won't have the chance to meet ever again: I think you are wonderful. Don't worry, my admiration has never been overwhelming. I'm content just by knowing that your kind of people are really alive.

The chances of having random conversations and experiencing unexpected connections--aren't these all that make us go by, day by day, just to know that we are truly alive?

Kamis, 28 Agustus 2014

Tentang Bulan yang Begitu Panjang

Dari satu berderet hingga tiga puluh satu. Rangkaian panjang dua puluh empat jam yang di dalamnya aku bergelut sengit dengan keinginan untuk hidup yang begitu kuat dan keinginan untuk berbaring diam yang sama kuatnya. Ada tangan-tangan panjang yang menarikku dari keinginan yang kedua, sesaat terasa seperti sebuah berkah yang muncul tiba-tiba. Ada sesuatu yang pasti, pasti dicecapkan paksa ke dalam diriku, hingga setiap hari melambat, gambaran-gambaran besar terlihat jelas, setiap orang dan topik jadi menarik, setiap momen jadi berarti, detik-detik yang kupikir, "Inilah dia, carpe diem." Naturally high. Aku takut untuk tidur berhari-hari, takut ketika terbangun aku sadar dan keinginan kuat yang bertentangan dengan vitalitas datang lagi. Apa ini, pikirku takut. Sementara tanggung jawab bertumpuk, ocehan-ocehan tentang menjadi dewasa terngiang di telinga tanpa jelas apa maunya, hebat sekali jika kewarasan tetap di garis ambang kesadaran setiap hari. Ini masih tanggal dua puluh saja, pikirku kelu. Naik, turun, akulah penumpang yang duduk paling depan di permainan roller coaster hari-hari ini. Di usia ini, apakah terlalu cepat jika berpikir tentang mati? Apakah terlalu tua untuk menggelinding saja dari hari ke hari, berharap andai saja itu kita yang mengejar daun kering di jalanan bekas hujan dan bukannya bekerja untuk sesuatu yang tak tahu apakah masih akan kita yakini esok hari?

Dua puluh delapan. Kita lihat siapa yang menang di tiga puluh satu nanti, Gus.

Sabtu, 21 Juni 2014

Lamun

Satu-satunya yang menarik buatku dari pertemuan sore itu adalah pemandangan kedua tas kami yang bersisian di atas kursi. Begitulah, sementara dia dan saudara-saudaraku yang lain bertukar cerita dengan seru, cerita yang awal dan tengahnya aku tak tahu karena terlambat hadir, cerita yang sepertinya akan agak panjang dan bercabang karena semua ingin ikut ambil bagian di dalamnya, aku tercenung memperhatikan tas kulit warna oranye berukuran sedang itu. Tas itu tidak mencolok karena warna atau ukurannya. Tas itu, sebaliknya, tampak lucu karena sepertinya hanya berisi dua atau tiga barang, sehingga sia-sialah sisa ruang dalam tas yang cukup bagus itu. Terkaanku tas itu hanya berisi dompet dan sisir, mungkin juga charger ponsel dan sebotol parfum. Aku melamun sendiri, mungkin akan menyenangkan sekali membawa-bawa tas yang di dalamnya berisi benda-benda yang sederhana. Tas yang di dalamnya tidak ada alat makan, sikat gigi, obat-obatan, jaket hujan, payung dan buku bacaan. Tas yang seakan-akan pemiliknya tidak siap untuk kabur kapan saja. Tas yang pemiliknya tidak perlu khawatir akan kehujanan atau terjebak dalam kerusuhan mendadak di jalanan sehingga tak bisa pulang. Tas yang pemiliknya tahu persis di mana rumahnya, di mana tempat barang-barangnya tersusun dan tidak akan diganggu oleh siapa-siapa. Tas yang pemiliknya tahu, tanpa susah payah, akan selalu ada yang membantunya dan dia tidak pernah sendirian dengan masalah-masalahnya saja. Kulirik saudara-saudaraku, seperti biasa terheran-heran betapa jauh kami telah tumbuh dewasa dan menjadi begitu berbeda. Semakin tersadarlah aku, satu-satunya ruang untukku adalah di dalam kepalaku sendiri.

Sabtu, 14 Juni 2014

Sesuatu yang "sepenuhnya melompat-lompat dalam kesadarannya sendiri"

Pagi ini, nyaris tidak merasa bersalah sama sekali pada tanah yang lembab dan hitam pekat, pada pakaian yang basah kuyup, dan pada berbagai macam serapah yang terlontar di udara atas padatnya jalan raya dan ruang-ruang di antaranya, saya duduk menikmati segelas teh dingin dan membaca esei Tagore yang berapi-api menerangkan tentang kesatuan kreatif. "Kebenaran adalah keindahan, keindahan adalah kebenaran," tuturnya. Siapa saja boleh berdebat panjang lebar tentang premis tersebut, terlebih di masa segala sesuatu terasa artifisial seperti saat ini. Tapi bagaimana jiwa menemukenali keindahan? Mungkin memang tidak rumit. Karena pada segala sesuatunya ada keindahan, jika kita melihat sesuatu adalah bagian yang tak terpisah dari sesuatu yang lain, semacam kesatuan dari hal-hal yang luput kita beri apresiasi. Tumpukan sampah, kerutan wajah, hari yang berputar terlalu cepat dan ketergesa-gesaan, karbon monoksida dan sumpah serapah, semuanya membentuk keindahan dari fragmen kehidupan sehari-hari. Melebihi segala hal, jangan ragu bahwa Tuhan adalah yang maha indah, dan inilah dunia, manusia, hidup, ciptaannya, manifestasinya.

Januari 2013. "Masa lampau adalah seperti mimpi," tulis Gie pada 17 Desember 1961.

Senin, 24 Maret 2014

Affinity

We live so close that we probably seen
the same bird,
the same time they solemnly scream

One day, I'll find just that friend who can see
all this weird beauty
thrown right at me


The Tallest Man on Earth

Sabtu, 22 Maret 2014

Dalam Sebuah Surat yang Diselipkan di Bawah Meja Makan

Kamu belum pernah tahu bahwa kakekku adalah satu-satunya orang yang ingin kuperkenalkan padamu. Simbah, kupanggil dia begitu. Simbah adalah orang yang selalu tampak kesepian--tetapi bukankah semua orang tua tampak seperti itu? Dulu, bertahun-tahun yang lalu, tak pernah kupahami betul kalimat-kalimat yang ia gumamkan setiap kali ia menjagaiku sementara ibu dan bapak pergi berladang. Aku hanya ingat yang paling mengesankan bagiku adalah kedua bola matanya yang memutih, hingga pada suatu hari kutanyakan bagaimana rasanya perlahan-lahan tak bisa lagi melihat. Ketika mendengar pertanyaanku, Simbah hanya menutup kedua matanya dan tersenyum. Ia terdiam lama sekali sampai-sampai aku gusar dan takut pertanyaanku melukai hatinya. Tetapi ia kemudian menjawab lirih, "Tak pernah aku percaya kepada mataku."

Aku tak tahu kenapa jawaban Simbah selalu terngiang di dalam kepalaku. Barangkali itu adalah pelajaran tentang hidup yang pertama-tama kuterima: ragukan segala sesuatu. Kadang kurasa, dengan begitu tak ada lagi yang terasa berat untuk dijalani. Kutelan segala macam falsafah dan omong kosong lainnya yang tampil di depan wajahku karena aku yakin tidak ada yang sungguh benar ataupun salah di dunia ini. Betul kata Simbah, aku serba terbatas dan dunia ini terlampau luas.

Tapi kamu ingat perjumpaan kita saat gulita malam meradang dan kita sebatas dua orang asing yang menumpang di atas bus yang melaju kencang? Saat mata kita beradu, wajah Simbah lah yang muncul dalam benakku. Simbah yang pernah berkata tak percaya pada matanya. Aku memohon maaf kepadanya karena aku tak lagi tidak percaya kepada mataku, karena akhirnya telah kusaksikan kesepian yang brutal di mata yang lain. Detik itu juga, aku percaya, ada sesuatu yang nyata dan benar adanya: keterasingan manusia.

Semoga kamu baik-baik saja, dimana pun kamu berada.

Selasa, 03 Desember 2013

Racau

Pada detik-detik menginjak usia 24 tahun berbulan-bulan yang lalu, ada dua doa yang saya ucapkan sendiri di tengah malam. Persis beberapa jam sebelumnya saya mendapat berita tentang kematian seorang teman lama, sehingga doa pertama terhantar untuk dia. Doa kedua adalah agar di usia ini, saya tak harus bangun setiap pagi untuk menghadapi fakta bahwa ada hal-hal yang tak bisa lagi saya percaya di dunia ini. Dan sekali lagi, misteri yang besar di atas sana--begitu suku Indian menyebutnya, terlalu serius menanggapi doa tersebut. 

Saya tidak tahu apakah kemampuan kita untuk percaya adalah sebuah anugerah atau kutukan. De omnibus dubitandum, kata Descartes. Doubt everything, usulnya, agar kita tak pernah berhenti untuk ingin tahu. Tapi saya pikir rasa percaya jugalah yang mendorong keragu-raguan itu. Dan sayangnya, setiap bentuk kepercayaan (entah itu trust, belief, atau faith) mempertaruhkan sesuatu yang sangat besar dan sesuatu itu lebih sering dicederai dibandingkan dijaga baik-baik. Orang tua, negara, media, sejarah, internet, tetangga sebelah, teman baik, dokter, United Nations, lembaga penyalur zakat, pengemis dan pengamen, dan Ya Tuhan.. jangan lupa Tuhan--seluruhnya kita percaya dan kita ragukan dari waktu ke waktu. Saya yakin tidak ada yang terlahir dan kepingin jadi nihilis, tapi apa boleh buat, kadang-kadang kita bingung juga kenapa matahari terbit setiap pagi tapi lalu tersadar ada dua puluh lima perempuan yang mengalami kasus pelecehan seksual tiap detik, atau Syiah yang masih saja digusur dari tempat mereka sendiri, atau hakim agung korup yang pernah menulis buku tentang anti gratifikasi... Lalu kita dipaksa menelan semua oksimoron yang bercampur dengan racun monoksida ini setiap hari. Dua puluh empat jam per hari, untuk berapa lama lagi? Tidak heran Sondang Hutagalung dulu membakar dirinya sendiri. 

Pasti ada alasan mengapa meme ini begitu populer

Begitulah, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat kuat namun sekaligus sangat rapuh. Ia juga entitas yang tak bisa hidup dalam kerumunan yang tidak pernah mendasari tindakannya dengan akal sehat.