Sabtu, 15 April 2017

Oxford St.

As my feet stepped slowly on the pavement in Oxford Street that day, I couldn't help not to regret my inability to belong in the present. People, colors, cultures and civilizations, all blended before my eyes, all fascinated me and seemed to fix my feet to the ground. I heard a woman shouts "Jesus is our savior", and I thought, whoa, there are so many things that need attention in this fucked up world. Too many things, yes, and everything seems to refuse to be ceased these days. The word 'care' doesn't even make sense anymore. What do you care about? What, do you even care?

Is confusion the only thing that unites us as human?

Sabtu, 25 Maret 2017

Buku Wajib

Pekan lalu, seorang teman mengajak saya ke toko buku Post di Pasar Santa, Jakarta, untuk mampir membeli buku. Dia berniat membelikan saya buku Howl karangan Allen Ginsberg. Kami tiba di sana di tengah hujan lebat, toko yang terlambat buka, dan penjaga toko hari itu yang bilang bahwa stok buku Howl sudah habis (lagi). Teman saya menawarkan saya untuk membeli buku lain, dan saat itu, saya tidak ragu-ragu untuk minta dibelikan Hidup di Luar Tempurung-nya Benedict Anderson. Sudah agak lama, buku ini direkomendasikan oleh beberapa orang yang saya kenal, tapi saya tergerak untuk membaca ini segera setelah saya bertemu teman saya di Pamflet, Fahmi, salah satu pembaca buku sejarah tergiat yang pernah saya kenal.

Saya tahu buku ini akan segera jadi buku favorit saya setelah saya membaca halaman pertamanya. Sampai di halaman 105, persis di tamatnya bab "Kerja Lapangan", saya tahu buku ini akan jadi salah satu buku wajib saya setelah Catatan Seorang Demonstran dan Motorcycle Diaries. Ada banyak buku yang suka saya baca berulang-ulang, tapi dua buku tadi adalah dua buku yang paling saya sayang--dalam arti saya bawa ke mana-mana dan saya coreti dan saya lipat-lipat sampai kelihatan jelek. Yang pertama semacam 'tuntunan' masa SMA dan kuliah, yang kedua 'tuntunan' di tahun-tahun pertama bekerja.

Membaca Hidup di Luar Tempurung saat ini jadi terasa seperti semacam cambukan untuk memikirkan banyak hal secara lebih serius. Saya belum selesai membacanya, tetapi bagaimana Ben Anderson mengartikulasikan sejarah hidup dan pikirannya betul-betul membuat saya terkesan. Sekarang ini saya baru selesai membaca bab Kerja Lapangan yang membuat saya sulit tidur. Setelah selesai, saya akan cerita kenapa.

Minggu, 19 Maret 2017

Modeh Ani di era internet!


Julus adalah salah satu track yang ada di album Junun, proyek kolaborasi penyanyi Sufi dari Israel, Shye-Ben Tzur, bareng Jonny Greenwood dan The Rajasthan Express. Saya pertama kali tahu tentang album ini dari teman saya, Fani, dan sebenarnya tercabik antara harus bilang makasih atau sialan lo, Fan. Soalnya, saya jadi susah buat berhenti dengerin album ini bahkan walaupun saya nggak tahu arti dari lirik lagu-lagunya, padahal saya jarang-jarang suka lagu yang saya nggak bisa ngerti maksudnya. Judul dan lirik tiap lagu dalam album ini diambil dari bahasa Ibrani, Hindi, dan Urdu, dan kecuali niat banget, kayaknya kita cuma bisa mencari arti dari tiap judulnya di Internet.

Baru malam ini saya coba Googling lagi pakai kata kunci "Junun" dan "Lyrics" dan ternyata sudah ada yang mengunggah buklet lirik albumnya di Reddit! Jadi, makasih banyak Tor Browser, makasih banyak untuk user dengan id reckonator, saya jadi tahu kalau lagu Julus ternyata betulan untuk Imam Ali. *nangis terharu*

Yang malas buka Reddit pakai VPN atau Tor, silakan langsung unduh bukletnya di sini. ;-)

Minggu, 15 Januari 2017

We knew, or hoped



"When I think back to the many farewells that have marked the decade (almost) of our friendship, I realize they have almost been inarticulate. I remember chiefly the great welling up of thoughts that somehow didn’t get put into words — the silences heavy with things unsaid. But then, we knew or hoped, there was always another chance — and always the letters to fill the gaps."


Rachel Carson to Dorothy Freeman

Kamis, 01 Desember 2016

"And I plan to be forgotten when I'm gone, yes, I'll be leavin' in the fall.."

Tanggal 27 November kemarin saya nonton konsernya The Tallest Man on Earth--ke depannya saya sebut tallest man saja, di sebuah festival musik. Perasaan hampir-hampir spiritual habis nonton konsernya tetap nyisa sampai semalam, jam tiga dini hari, pas saya tidur-tiduran sambil dengerin lagunya yang berjudul Dark Bird is Home. Saya pingin bisa menulis review musik yang bagus kayak di blog-blog orang, tapi sayangnya saya nggak punya banyak referensi. Jadi, mungkin yang bisa saya buat cuma kesan dan apa yang saya sukai dari tallest man selama mendengarkan lagu-lagu dia dengan intens hampir beberapa tahun belakangan.

Saya nggak ingat kapan persisnya saya mulai mendengarkan lagu-lagu musisi yang punya nama asli Kristian Matsson ini. Kalau nggak salah rekomendasi dari seorang teman, atau klik nggak sengaja di Youtube atau 8tracks. Yang saya ingat adalah lagu pertama tallest man yang saya dengar. Judulnya The Gardener, kayak judul salah satu buku puisinya Rabindranath Tagore. Yang pertama-tama membuat The Gardener langsung nyangkut di telinga adalah suara Kristian. Banyak orang cenderung mengasosiasikan musik folk dengan vokal yang 'dalam' atau 'adem', tapi Kristian mungkin pengecualian. Beberapa artikel di internet mendeskripsikan jenis vokalnya dengan kata raw, yang sebelumnya nggak pernah terlalu saya pikirkan maknanya sampai barusan saya cari arti raw selain mentah. Ternyata, beberapa definisi lain dari raw adalah 'strong and undisguised', atau, kalau buat kulit, 'red and painful'. Painful? Bisa saja, kalau didengar dari album terakhirnya yang diisi lagu-lagu patah hati karena perceraiannya dengan musisi Amanda Bergman (Idiot Wind), teman duetnya untuk lagu cinta paling manis, Thrown Right At Me. Tapi, definisi yang mungkin paling pas adalah raw = undisguised itu. Kalau dalam bahasa Indonesianya: tanpa tedeng aling-aling. Wah, itu memang kesan pertama yang bisa ditangkap dari suara cempreng tapi serak Kristian. Kayak seseorang yang bernyanyi tanpa mikirin dan peduli suaranya yang cempreng, serak, dan kenceng itu bakal disukai orang apa enggak.

Kalau kita sudah suka satu aja lagu tallest man, maka gampang buat kita untuk suka semua lagu lainnya. Shallow Grave adalah judul album yang di dalamnya ada lagu The Gardener. Di album ini ada lagu lain, I Won't be Found, dan ada satu baris lirik di awal lagu yang tiap kali saya dengar bikin saya pengen bilang, "anjir lah". Gini liriknya: I'm gonna force the Serengeti to disappear into my eyes. Sialan banget, dari mana sih ide untuk maksa padang rumput di Afrika yang guedee banget, yang ada zebra-singa-jerapah dan lain-lainnya, supaya bisa muat masuk ke dalam mata bisa muncul? Saya nggak abis pikir, karena selain suaranya yang undisguised itu, pilihan diksi dalam lirik-lirik tallest man bisa bikin di dalam kepala kita kayak lagi ada banjir. Bukan cuma hujan, angin, atau bulan aja yang dicomot, tapi juga citraan-citraan alam dari hal-hal paling primitif kayak padang rumput, sungai, hollow earth, musim semi, petir, perburuan, pohon raksasa, arak-arakan kuda, setan (mau itu evil, satan, ghost, semua disebut), cicak, duri, kerikil, gembala, kain perca, burung gagak, burung pipit, dan masih banyak lagi. Saya kadang membayangkan orang macam apa yang bisa bilang dia nggak akan ketemu kalau dicari-cari manusia karena dia bisa aja nyaru sama bolong-bolong di daun atau lagi tidur panjang kayak tikus mondok di dalam tanah.



Serengeti yang disuruh muat untuk melebur masuk ke mata, kira-kira segini ukurannya.

Dalam sebuah video wawancara di Youtube, dia pernah bilang kenapa dia banyak mendengarkan musik folk dan pilih genre ini untuk musiknya. Katanya, "I like that it's raw and kind of fragile. It can disappear as fast as it appeared." Buat saya, edannya tallest man adalah gimana dia menangkap dan merumuskan hal-hal 'megah' secara simpel di dalam lirik lagunya, ngajak kita safari ke dalam kepalanya yang rame, dan bikin kita jatuh cinta lagi dan lagi sama hidup yang sering terasa gini-gini aja, kira-kira dalam tiga sampai empat menit. Jadi, terima kasih banyak buat siapa pun yang pertama kali merekomendasikan saya untuk dengerin tallest man, dan terima kasih banyak pastinya buat Kristian Matsson, for your songs have made my life a little bit bearable (lebay, tapi bodo, ah :p ).

Senin, 21 November 2016

Pemanasan




Hang me, oh, hang me and I'll be dead and gone
I wouldn't mind the hanging but the laying in the grave so long

Kamis, 27 Oktober 2016

Bob Dylan VS Nobel Prize

"I began to drink. I looked down from the platform and saw a bunch of people who had nothing to do with my kind of politics. I looked down and I got scared. They were supposed to be on my side, but I didn’t feel any connection with them. Here were these people who’d been all involved with the Left in the thirties, and now they were supporting civil-rights drives. That’s groovy, but they also had minks and jewels, and it was like they were giving the money out of guilt. I got up to leave, and they followed me and caught me. They told me I had to accept the award."

Bob Dylan agreed to accept The Tom Paine Award in 1963, and then he went on just like that.