Kamis, 29 Juli 2010

Nostalgi(l)a

"Dungu! Gendut! Aneh! Jewer!"
-Albus Dumbledore

Di akhir dekade 1990, seluruh dunia terjangkiti demam seri karangan J.K. Rowling, Harry Potter. Ketika itu saya, berbekal sok tahu yang luar biasa, membeli Harry Potter di Gramedia. Mencoba membacanya tapi merasa tidak nyambung. Walah, ternyata saya salah beli! Saya langsung membeli seri kedua tanpa membaca terlebih dulu yang pertama. Mau beli yang pertama, sudah habis dimana-mana. Jadilah buku itu terbengkalai, saya tidak selesai membacanya. Lagi pula, saat itu saya masih SD dan katro abis (jauh lebih katro dari sekarang, hehehe). Untungnya, kakak sepupu saya yang baik hati memberi saya Harry Potter seri pertama. Saya membacanya dan segera saja ikut gandrung terhadap seri ini. Ya, sama gandrungnya seperti jutaan orang lain di seluruh dunia, yang ikut mengantri pre-sale nya di toko buku, yang membacanya dengan tekun sampai tidak tidur, dan yang hafal mantra-mantranya di luar kepala.

Kegilaan tidak akan menyenangkan tanpa teman untuk menggila bersama. Dalam hal ini, saya punya ibu saya di rumah. Ingat seri kelima, the Order of Phoenix, yang jarak terbitnya dengan seri keempatnya jauh sekali? Kalau tidak salah sekitar tiga tahun (hm, atau lebih, ya?). Ketika yang kelima terbit, saya dan ibu saya praktis berebut sebelum akhirnya ibu saya mengalah atas nama etika orangtua-anak (hihihi)--dengan ancaman bahwa saya hanya diberi waktu dua belas jam untuk menamatkannya. Walaupun saya bisa menyelesaikannya tepat waktu, saya kalah cepat. Ibu saya menamatkannya dalam sepuluh jam (tanpa tidur, dan akhirnya saya tahu saya memperoleh kegilaan membaca ini dari siapa).

Berbicara tentang kegilaan dan teman, Harry Potter juga menjadi 'penyambung' antara saya dengan teman-teman terbaik saya di dunia. We're a bunch of girls who happen to be freaks--in a good way. Tidak hanya menjadikan nama-nama dari novel ini sebagai kode bagi orang-orang di dunia nyata, tetapi juga bagaimana kami bisa tertawa karena hal yang sama yang bagi orang lain tidak lucu dan tidak penting. Misalnya nih, di salah satu seri Harry Potter saya, ada kata-kata "..kata Harry murahan". Suatu frase yang tidak jelas maksudnya. Sesuatu yang terus menerus mengganjal bahkan jauh setelah saya membacanya. Dan tebak, Esti juga merasa begitu! Hahaha. Aneh bahwa kami sadar, dan bahkan sama-sama merasa itu ganjil.

Kami mendiskusikannya jauh setelah kami membaca Harry Potter tersebut. Dias, yang biasanya paling sadar segala hal yang berbau keanehan linguistik, merasa dia tidak pernah menemukan kalimat tersebut di Harry Potter manapun. Kami membandingkan Harry Potter kami, dan TEBAK!, di Harry Potter punya Dias, kalimatnya berubah menjadi "..kata Harry muram". Lalu kami tertawa tak henti-henti. Belum lagi membahas Emma Watson dan akting alisnya, Alfonso Cuaron-moron yang membuat film ketiga jadi luar biasa hancur, Spattergroit, Umbreidgeitis, dan sebagainya. Good times, good times. Terlalu banyak lelucon bodoh yang bersumber dari seri ini dan betapa besar kami mengapresiasinya sebagai salah satu sumber kebahagiaan dalam kehidupan SMP kami. Back then, Harry Potter was something. Bukan hanya bacaan, tetapi salah satu pengikat kami. Mungkin sedikit bodoh dan sepertinya terlalu maniak, tapi betul.

Lalu akhirnya tiba saat kuliah dan kami semua berbelok, berpencaran. Tidak hanya jalan kami yang berbeda, selera membaca kami juga sedikit banyak berubah. Saya kenalan dengan buku-buku sastra Indonesia dan tenggelam di dalamnya. Kegemaran saya terhadap serial fantasi terlupakan, semakin jauh. Seperti Esti yang mengutarakannya dengan telak: "terlalu banyak buku tentang ide, tahu kan". Itu adalah cara terhalus untuk mengatakan bahwa hilangnya kegandrungan saya terhadap serial fantasi membuat saya jadi tidak terlalu menyenangkan. Saat itu, saya tidak ingat kapan terakhir kali saya membaca Harry Potter. Saya menjadikan tumpukan tebal seri tersebut sebagai sandaran di rak buku. Saya melihatnya tanpa gairah yang sama seperti dulu, ketika saya bisa membacanya berulang-ulang setiap liburan sampai ibu saya mengancam mau menyembunyikannya. Harry telah kehilangan pesonanya buat saya, apalagi setelah seri tersebut tamat. The ending of the series wasn't only the end of the story--it was also the end of an era.
Sad, but true.

******

Tetapi apa gunanya liburan, kalau bukan untuk menyadari bahwa anda semakin aneh saja dari hari ke hari, ya kan?

Saya melongok ke lemari buku, mencari-cari bacaan untuk dibaca sebelum tidur. Pada saat itu, saya sedang jenuh membaca sastra. Semua bacaan lain yang menyenangkan seperti the Baby-Sitters Club dan Girl Talk sudah beberapa kali saya ulang dan saat itulah saya melihat Harry Potter, tampak sedikit berdebu (wajar, karena ia ditumpuk asal-asalan dan dijadikan sandaran bagi buku-buku lainnya di dalam rak). Saya mengambil seri pertama dan nyengir ketika membaca halaman pertamanya. Di sana, saya menulis nama saya dan di bawahnya tertulis "Yang Ngambil Dosa Berad!". Dan tidak mungkin ada yang mau mencurinya juga, pasti, karena tulisan Harry Potternya bahkan sudah hilang dari cover.

Saya membacanya dan kaget sendiri: God, how I used to love this book so much! Membacanya kali ini, dengan usia yang jauh lebih tua dari ketika pertama kali membacanya, membuat saya bisa mengapresiasi lebih banyak dari sebelumnya. Saya meneruskannya dengan yang ketiga, lalu kelima, dan tersadar sudah pukul tiga pagi. Saya meneruskannya dengan yang keenam, lalu ketujuh, dan menyadari banyak hal. Tidak hanya betapa briliannya J.K. Rowling sebagai seorang pengarang, tetapi juga hal-hal yang terlupakan dari diri saya yang lama. Bagaimana saya bisa tertawa terbahak-bahak karena "Roonil Wazlib", bagaimana saya dulu bisa berdiskusi tidak penting tentang Horcrux dengan ibu saya--saya ingat semua tawa, kesenangan, dan excitement yang bisa didapat ketika membaca buku ini. Saya ingat rasanya tidak bisa berpaling dari buku biar sedetik pun, saking seru ceritanya (dan padahal saya sudah tahu seperti apa akhirnya).

Lalu, seakan semesta sudah merencanakannya, teman-teman terbaik saya juga ternyata mengalami kebosanan akut yang sama. Mereka membaca kembali Harry Potter tanpa saling memberi tahu. Di kamar Ajeng tergeletak seri ketujuh dan Esti diam-diam bahkan menyimpan trailer film keenam di Notebook-nya. Kami berkumpul dan merasa waktu berputar kembali ke beberapa tahun sebelumnya, saat kami bisa menertawakan hal bodoh dan tidak penting yang sama. Bedanya, kami tidak terlalu jahat lagi menertawakan Emma Watson karena syukurlah, kualitas aktingnya sedikit lebih baik di film keenam. Atau mungkin kami sudah sedikit lebih dewasa? :)

Rasanya seperti reuni, reuni dengan diri sendiri. Astaga, betapa besar kesenangan yang hilang selama beberapa tahun ini! Tetapi mungkin, benar juga kalimat "you don't know what you've got 'til it's gone" itu. Dan saya beruntung karena masih bisa mendapatkannya kembali. Oh, orang lain bisa merasa seperti ini ketika, mungkin, main layangan atau menonton Catatan si Boy atau apa. Tapi buat saya, cukup begini. Saya tidak tahu betapa besar saya merindukan menjadi seseorang seaneh saat SMP dulu, saat Albus Dumbledore menjadi source of all wisdom. Ah, tapi, to be fair, semua orang emang aneh lah.

Oh, good old days. You're missed, yet there's more to come. Kalau dulu setiap ulang tahun saya selalu menyeret ibu saya ke toko buku untuk membeli Harry Potter terbaru, tahun depan saya mudah-mudahan, mudah-mudahan, bisa membeli Harry Potter baru versi hard-cover! Hahahahaha.. Pada titik ini lah, saya semakin bingung dengan orang yang tega menjual buku-buku lamanya ke toko buku bekas. Hei, tidak hanya anak atau cucu yang pasti bahagia diwarisi buku--kita sendiri perlu, untuk sedikit merasa nostalgi(l)a, kan?

"Tell me one last thing," said Harry. "Is this real? Or has this been happening inside my head?"
"Of course it is happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?"

Rabu, 07 Juli 2010

Mengutip Pram

"Bangunlah, Nak; hari sudah sore. Tidak ada lagi kereta lewat."

Sapardi Djoko Damono dikenal luas sebagai seorang penyair. Tapi tahukah anda bahwa buku terbaik beliau adalah antologi cerpennya yang berjudul Pengarang Telah Mati?

Setidaknya itu menurut saya, sih. Hehehe.

Salah satu cerpen Sapardi yang selalu menghantui ingatan saya berjudul Rel. Berkisah tentang seorang anak yang gemar menempelkan telinganya pada rel kereta--merasakan getar kereta yang datang dari kejauhan dan membawa ingatannya menjadi jauh pula: pada ibunya, pada daun kamboja berhelai lima, pada penjual gethuk berwajah lembut yang dagangannya selalu dibelikan oleh Ayahnya setiap mereka pulang berziarah--cerita ini mutlak mengukuhkan dirinya sebagai pemenang cerita pendek favorit sepanjang masa versi saya. :D

Tidak ada yang mengalahkan sensasi dari mengingat sesuatu. Atau lupa, lalu ingat lagi. Dan sensasi serupa ini yang muncul dari dalam cerpen Sapardi, bahkan dalam segala kesederhanaan latarnya. Lalu sensasi ini muncul lagi ketika saya membaca cerpen Pram, Yang Sudah Hilang, yang dikutip oleh Saya Sasaki Shiraisi dalam Pahlawan-Pahlawan Belia (KPG, 2001).

Karena itu, dalam rangka menyambut kembalinya saya menulis di blog ini (halah!), dengan baik hati saya ketik kembali cerpen tersebut di sini. Selamat menikmati. :)

*****

Yang Sudah Hilang
Pramoedya Ananta Toer

Kali Lusi melingkari separuh bagian kota Blora yang sebelah selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-kerikil-lumpur-pasir itu mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja di tempat-tempat dangkal. Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air melompat-lompat tak terkendalikan. Kadang-kadang hingga duapuluh meter. Kadangkala lebih. Dan air yang mengalir damai itu tiba-tiba berpusing-pusing dan mengamuk gila. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di sepanjang tepi seperti anak kecil mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bagian bidang ladang penduduk. Lusi: Dia merombak tebing-tebingnya sendiri.

Dan di dalam hidup ini, kadang-kadang aliran yang deras menyeret tubuh dan nasib manusia. Dan dengan tak setahunya ia kehilangan beberapa bagian dari hidup sendiri..

Dari depan rumah kami nampak pucuk rumpun-rumpun bambu yang hijau hitam. Bila angin meniup mereka meliuk merayu-rayu. Kadang terdengar mereka bersuling sunyi di antara gerasakan angin. Dan semua pemandangan dan pendengaran itu sering menakutkan hatiku di waktu kecil. Segera aku lari ke pangkuan bunda--menangis.

Hingga kini masih terdengar-terdengar olehku bunda bertanya: "Mengapa menangis?"

Dan tangannya yang tak lembut lagi seperti semasa gadisnya mengusap-usap pipiku yang kurus. Dan suara kanak-kanakku yang masih cedal menjawab di antara sedu-sedan: "Ibu--bambu itu menangis."

Dan bunda mengambil daku dan diletakkan di pangkuannya. Berkata ia memberanikan: "Dia tidak menangis. Tidak. Dia sedang bernyanyi."

Kemudian ibupun menyanyilah. Nyanyian halus yang selalu dan selalu menenggelamkan ketakutan, kesedihan, dan kebencianku terhadap sesuatu. Nyanyian daerah! Tak jarang suaranya yang lembutlunak mendayu-dayu mengajak aku tidur. Kadang-kadang waktu menyanyi kubelai-belai rambutnya yang kacau ditiup angin. Kupermain-mainkan kupingnya yang dihiasi markis berlian. Kemudian, kemudian terdengar suaranya yang manis dalam perasaanku: "Engkau mengantuk," katanya. "Mari kutidurkan."

Dan kubuka mataku besar-besar agar dapat terus menikmati nyanyian bunda. Tapi aku tak kuasa lagi membuka tapuk mataku lagi..

Tapi semua itu sudah hilang kini. Semua itu telah lenyap seperti tebing-tebing dan rumpun-rumpun bambu disereti air pasang kali Lusi. Dan aku tak kuasa menahan arus besar itu. Terasa benar olehku betapa mudah manusia didamparkan oleh gelombang waktu dari tempat ke tempat, dari perasaan ke perasaan.

Rabu, 19 Mei 2010

Tercabik

: thx Mas YH for such contemplative moment.

"Saya mungkin bukan jenis orang kayak gitu."

"Kayak gimana?"

"Yang bisa tahu pasti apa yang jadi tujuan dalam hidup saya, gitu."

"Saya pikir dengan tahu apa yang kita tuju, kita tidak memboros-boroskan begitu banyak hal--waktu, tenaga, uang."

"Memang kamu tahu sejak awal apa tujuanmu?"

"Ya, saya memilih. Saya punya strategi untuk mencapai tujuan itu. Dan tentu, saya punya rencana cadangan jika tidak berhasil. Intinya adalah, selalu tahu apa tujuanmu sejak awal mula. Itu adalah salah satu kualitas yang dicari oleh banyak orang saat ini--tahu mau jadi apa dan hendak ke mana. Coba bayangkan kalau kamu ditanya apa tujuanmu dan kamu jawab tidak tahu."
*****

Ya, keteracakan sudah jadi suatu hal yang tidak pernah bosan-bosannya memukau saya. Tetapi sebuah percakapan di tengah hari yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tanpa diketahui, tiba-tiba terasa begitu menyentak. Berapa kali saya dan beberapa orang bercanda (atau serius) tentang betapa kami tidak tahu hendak jadi apa, hendak melakukan apa, dan hendak ke mana. Tetapi itu sesuatu yang asal lewat saja. Sesuatu yang dahulunya saya pikir menjadi sebuah privilese dari kemudaan--menjalani hidup yang penuh kejutan tanpa pikir panjang tentang masa depan.

Tetapi apa yang dahulu selalu terasa ada di depan dan harus dikejar, sekarang datang mendekat dan berbalik mengejar. Hei, siapa sangka kita sebenarnya tak pernah terlalu muda untuk mengira-ngira apa yang telah kita lewatkan dan apa yang akan datang? Saya ingat baris-baris lagu yang selalu saya nyanyikan dengan kegembiraan bersama teman-teman: 'cause we are so young now, we are so young now. and when tomorrow comes we just do it all again. Menjalani hidup yang berisi repetisi dan tanpa pernah terlalu banyak berpikir, hanya menjalani. Hanya menggelinding dari hari ke hari.

Ada dua pepatah berharga yang sama populernya untuk menggambarkan dua cara besar menjalani hidup: "Yesterday's a history, tomorrow's a mystery, but today's a gift. That's why we call it Present", atau "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".

Saya ingin merangkaikan keduanya menjadi satu pepatah. Any idea?


- M O O N Y

Sabtu, 10 April 2010

An Early Monologue to Her 20

Saya ingin bercerita tentang adik perempuan saya. Dia bisa jadi adalah orang yang paling sering mengejutkan saya karena begitu mudah ia menebak apa maksud tindakan dan pikiran saya hanya dengan satu kalimat yang menohok. Ia seperti selalu bisa menduga motif ter'kotor' dari setiap tindakan yang saya lakukan. Persis seperti Effie Kaligaris dan Lena Kaligaris dalam seri Sisterhood of Traveling Pants. Kadang-kadang, hal itu mengganggu sekali. Tapi kadang-kadang seseorang yang secara alamiah selalu sinis seperti itu memang diperlukan juga. Kita tidak mau selalu terjebak dengan pikiran kita sendiri, yang kerap kali jadi pembenaran, bukan?

Saya dan dia jarang bercakap-cakap tentang sesuatu yang filosofis tentang hidup kami masing-masing. Kalau kami berdua ada di rumah, sebagian besar waktu dan umur kami habis untuk bertengkar tentang segala sesuatu yang sepele. Tapi kalau kami lagi kumat bercanda, kami akan berceloteh aneh-aneh tentang lelucon yang hanya kami berdua yang mengerti dan tertawa tanpa henti. Kalau moodnya lagi bagus, dia akan cerita macam-macam dan saya menimpali dengan macam-macam juga.

Saya dan adik saya berbagi kamar praktis seumur hidup kami berdua. Waktu kecil, kami sering dihukum ibu untuk diam di kamar karena bertengkar. Padahal sehabis itu di kamar kami akan cekikikan tanpa suara. Dulu kalau kami berdua di kamar dan dia tidur lebih dulu dari pada saya, saya akan mengganggu dia dengan membuat rekaman suara yang menyuruh dia bangun dan saya ga akan berhenti mengganggu sampai dia benar-benar bangun. Pas dia bangun, saya akan tidur pulas dan dia akan marah-marah sendiri karena keisengan saya. Sekarang ini, semua itu jadi langka karena saya dan dia sering pulang larut malam dan jadi jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Gaya banget ya? Hahaha.. Tapi memang gitu kok keadaannya.

Suatu kali kami berdua ada di kamar dan berbicara tentang orang-orang yang kami hadapi sehari-hari, baik teman kuliah, teman kantor, teman lama dan bagaimana di antara orang-orang tersebut ada orang-orang yang tidak kami sukai. Kami bicara panjang lebar, khas perempuan kalau sedang ngomongin orang lah. Kadang-kadang sedikit berprasangka, kadang-kadang sedikit
ada bumbu supaya lebih seru juga, hahaha. Ada orang-orang yang berubah jadi begini begitu dan kami saat itu jadi bertanya-tanya tentang hidup kami masing-masing saat ini. Pembicaraan lalu beralih kepada bagaimana definisi bahagia dan tidak bahagia menurut ukuran kami.

Saya jadi ingat salah satu kutipan dialog Ethan Hawke dalam Before Sunset (lagi).

"I just feel like I'm designed to be slightly dissatisfied with everything. You know, I mean, like always trying to better my situation. You know, I satisfy one desire, and it just agitates another, you know? Then I think: to hell with everything, right? I mean, desire is the fuel of life. I mean, do you think it's true that if we never wanted anything, we'd never be unhappy?"

Saya dan adik saya mungkin sejumput kecil dari orang-orang yang dirancang untuk tidak puas dengan segala sesuatu. Selalu ingin lebih dan lebih dan pada akhirnya kesulitan untuk membedakan yang mana yang kami butuhkan dengan yang mana yang kami inginkan. Yang kami inginkan jadi kami butuhkan, dan kami merasa bahwa tanpa keinginan tersebut, yang menjadi 'bahan bakar' dari kerja dan tindakan kami, kami tidak akan bahagia. Perasaan untuk ingin yang lebih dan lebih itu sangat manusiawi dan saya (juga pasti adik saya), sama seperti orang-orang lain, sulit untuk melepaskan diri dari perasaan itu. Saat berjalan-jalan di antara etalase-etalase cemerlang, misalnya, saya mendapati diri saya sulit sekali menahan diri dari 'keinginan-keinginan' yang disulap pikiran dan kesadaran saya menjadi kebutuhan itu. Perasaan untuk mendapatkan sesuatu, lebih dan lebih, memakan seluruh kesadaran kita sampai rasanya seluruh indera kita bergerak untuk tujuan itu.

Pernahkah anda merasa seperti itu? Lalu ada detik ketika anda merasa lepas dari diri anda sendiri dan menyaksikan perasaan 'ingin' itu menggerakan kerumunan masif yang anda di sekitar anda. Lalu anda merasa terasing. Saya yakin iya. Saya pasti bukan satu-satunya orang seperti ini. Mungkin kita pernah menginginkan sesuatu dengan amat sangat dan seluruh kesadaran kita jadi terserap untuk keinginan itu. Tetapi ketika hal itu sudah ada di depan mata, kita diam sejenak dan bertanya-tanya, mengapa ya saya ingin ini atau apa saya benar-benar membutuhkannya. Entahlah, mungkin ketika anda sedang memilih-milih sepasang sepatu baru yang hendak dibeli atau berada dalam antrian panjang untuk membayar sebuah buku.

Ada kesadaran baru yang menggagalkan kesadaran sebelumnya. Saya kadang-kadang merasa beruntung karena pengalaman seperti itu. Sedetik dan tampak remeh memang, tetapi sebenarnya ia suatu proses yang tidak sederhana bagi kita untuk memahami diri masing-masing.

Saya ingat adik saya. Sebentar lagi ia berusia 20 tahun dan saya masih berjuang untuk memahami dia sama seperti saya berusaha memahami orang-orang lain yang penting dalam hidup saya. Apa yang berarti dan tidak berarti untuk dia. Saya dan dia kadang-kadang terlalu berbeda, tetapi sebenarnya sama. Kita berdua mungkin sama-sama mencari arti kebahagiaan untuk diri kita, paling tidak sampai sejauh ini, dengan segala keterbatasan yang kita punya. Saya tidak ingin menggurui, tetapi saya ingin sekali ini saja dimengerti.

Bahwa, Cha, happiness is a state of mind. Mengapa mengukur kebahagiaan kita dengan takaran yang umum? Paling tidak, kita--kamu dan saya, saat ini melakukan apa yang kita minati dan kita melakukannya dengan suka cita. Tidak semua orang bangun setiap hari dan merasa gembira dengan rangkaian rutinitas yang akan mereka hadapi. Kita beruntung dengan titik jernih kita, dengan 'kesadaran dalam kesadaran' kita. Ketimbang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu, menginginkan yang lebih dan lebih, merasakan bagaimana keinginan itu memakan pikiran dan perasaan kita, coba pejamkan mata sejenak: mungkin kita sebenarnya sudah punya segala yang kita perlukan. Kita punya otak yang bisa berpikir, hati yang bisa merasa, organ yang normal bekerja, dan keinginan untuk menggunakan segala yang kita punya. Kita beruntung, Cha. Kita bahagia.

Oh, dan selamat ulang tahun, walaupun masih 19 hari lagi. :)

-M O O N Y

Jumat, 26 Maret 2010

Sapardi, lagi dan lagi

Saya jumpa lagi dengan Sapardi Djoko Damono, dalam sebuah perhelatan khusus yang diadakan untuk beliau oleh Komunitas Salihara, yaitu perayaan ulang tahun Pak Sapardi yang ke-70.

"Ah sudah, ah. Nanti kalau saya kelamaan bicara, acaranya bisa tertunda." ujar Pak Sapardi, menutup sambutannya malam itu. Padahal ini acara yang diadakan khusus buat beliau. Saya tak pernah habis-habisnya terkagum-kagum.

Dan saya foto bareng lagi! :DDDDDDD


"Akan ada kali ketiga, Pak! Jangan bosan saya mintai foto bersama!" :)


Dan.. kejutan! Kejutan!

Dua manusia yang hanya lahir sekali dalam peradaban manusia Indonesia.
Ya, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono


-M O O N Y
ga tau kenapa saya bisa sehoki ini. bener-bener terheran-heran dan sering terperangah sendiri, kenapa khayalan-khayalan aneh suka jadi nyata. foto di atas ini misalnya. siapa sangka bisa melihat keduanya berdiri bersama di atas panggung??? :)

Selamat ulang tahun, Pak. Semoga anda selalu diberkahi usia dan kesehatan agar dapat terus berkarya! :)

Sabtu, 13 Maret 2010

Siapa Bilang Kita Spesial, Sih?


Saya.. bingung bagaimana menjelaskannya. Tetapi di tengah hidup yang terus berjalan normal, kita setidaknya perlu satu dua hal untuk membuat diri kita bermakna, setiap harinya. Setidaknya bukan buat orang lain. Setidaknya untuk diri sendiri. (Mungkin ini menjelaskan mengapa kita begitu konsumtif, atau mengapa kita begitu narsistik.)

Oh, dan lukisan di atas adalah lukisan Brueghel tentang tenggelamnya Ikarus dari Yunani di Laut Aegea. Mana Ikarus? Anda harus temukan sendiri setelah sebelumnya membaca ini (dan mungkin bisa tahu mengapa saya jadi merasa sangat terganggu setelah membacanya).

Selamat "menikmati".. yah, begitu lah!


-M O O N Y



Selasa, 23 Februari 2010

Remistifikasi Feminin

Pagi ini di tengah-tengah teh manis dan obrolan ringan dengan teman-teman kuliah di pagi hari yang cerah ketika kuliah tiba-tiba dibatalkan karena tidak ada dosen (bagus nih buat setting iklan teh Sariwangi..), kami secara so(k)siologis berbicara tentang hal-hal yang dianggap menyimpang dari norma di masyarakat seperti kohabitasi, homeschooling, sampai hidup tanpa anak. Tuh kan, sebenarnya diskusi di tengah-tengah kelompok sebaya selalu menghadirkan apa yang disebut feminism-consciousness raising, baik itu kelompok homogen maupun heterogen. Sayang ide ini ditolak mentah-mentah oleh dosen saya untuk jadi tema penelitian...

Yah, intinya kami berpendapat bahwa gagasan-gagasan "modern" mengenai institusi keluarga seperti kohabitasi atau bahkan menikah tanpa ingin memiliki anak memang masih ditanggapi dengan sikap yang ambigu oleh sebagian besar anak muda. Artinya, biasanya kita sudah mulai menganggap itu hal yang lumrah jika terjadi pada orang lain, tapi kalau bisa jangan sampai kita yang mengalami sendiri. Kalau kata orang Jawa, "ngono ya ngono, mbok ya ojo ngono", gitu. Kita bisa saja sangat liberal dalam pemikiran, tetapi ada orang tua kita yang masih konservatif. Atau bisa saja kita dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang sangat liberal, tetapi hidup di dalam masyarakat yang (ceritanya) masih berpegang pada norma-norma agama. Selalu ada tekanan dari lingkungan tempat kita berada, meski kita peduli atau tidak. Karena kita toh tidak hidup sendiri, bukan?

Namun sedikit banyak pergeseran cara pandang ini tentu saja merupakan dampak media, terutama film-film Hollywood dan bagaimana kita jadi menganggap hal-hal di atas tadi wajar karena begitulah yang direfleksikan di dalam film-film tersebut. Hal yang jadi sangat memprovokasi saya adalah bisa saja film-film tersebut sebenarnya tidak mengkonstruksi norma baru, melainkan melanggengkan 'norma lama' yang dikemas dengan 'norma-norma baru'. Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik yang diberikan oleh teman saya: "Rasionalitas selalu diikuti irasionalitas di belakangnya". Mungkin kalimat ini kurang tepat untuk menjelaskan apa yang saya akan uraikan di bawah, tetapi kalimat tersebut membawa saya pada pemahaman bahwa kita bisa saja seakan bergerak maju, tetapi sebenarnya tetap di situ-situ saja.

Saya menyebutnya remistifikasi feminin. Konsep ini berangkat dari pemikiran Betty Friedan dalam The Feminine Mystique yang menguraikan bagaimana perempuan terperangkap dalam sebuah mistik feminin, yaitu sebuah anggapan bahwa tujuan hidup dan ke'ada'an perempuan sebagai perempuan adalah ketika ia menikah, memiliki anak, dan menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Begitulah, perempuan di berbagai peradaban dibesarkan di tengah masyarakat yang memistifikasi sosok perempuan sebagai ibu, sebagai istri: singkat kata, sebagai pelengkap dari laki-laki. Perempuan ada untuk tujuan tersebut, dan bagaimana kita semua pada akhirnya menganggap hal tersebut lumrah, bahkan sesuatu yang kodrati. Namun di tengah-tengah masyarakat yang terus berkembang, muncullah sosok-sosok yang lantas meruntuhkan mistik feminin ini. Banyak perempuan yang memilih ranah lain, yang lebih besar dan berarti ketimbang rumah tangga sebagai tempatnya untuk mencapai aktualisasi diri, seperti ilmu pengetahuan atau politik. Mungkin adalah suatu hal yang amat membanggakan sekiranya perempuan menjadikan rumah tangga sebagai salah satu elemen dalam hidupnya dengan tetap memiliki ambisi lain yang lebih besar bagi dirinya sendiri, ketimbang terjebak dalam domestifikasi. Dan pada nyatanya, kita menemukan perempuan-perempuan seperti ini dalam jumlah yang semakin banyak di dalam masyarakat.

Media, dalam hal ini film, terutama berperan penting dalam mengkonstruksi citra perempuan-perempuan seperti ini. Perempuan-perempuan dengan kesadaran penuh yang menjadikan dirinya ber'ada', tanpa menyandarkan kesadaran akan keberadaannya kepada laki-laki. Perempuan-perempuan yang berhasil meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan mencapai ambisi-ambisi lain di luar pernikahan, misalnya menjadi editor dari sebuah majalah terkemuka, menjadi ilmuwan yang menemukan teori baru, atau bahkan menjadi pengacara termahal di negaranya. Perempuan-perempuan yang tidak dapat diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh komunitasnya. Perempuan-perempuan yang bahkan bisa menjadi sangat mengintimidasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Hanya saja, sering kali citra yang dibangun dengan detail-detail kuat tersebut seketika runtuh ketika kita menyaksikan akhir film tersebut. Pada akhirnya kita harus percaya bahwa "Love Sells". Bahwa ending cerita yang sempurna adalah perempuan tersebut menemukan pasangan yang tepat dan akhirnya menikah dengan cinta (sejati?)nya. Kalau Julie Delpy dalam Before Sunset bilang, "Everybody wants to believe in love. It sells, right?". Kalau ending cerita tidak begini, cerita hidup si perempuan tidak dianggap sukses dan dia tidak dianggap bahagia. Jadi keinginan terdalam dari lubuk hati (tsah) si perempuan, di balik segala kesuksesan dalam hidupnya, sebenarnya tetaplah menemukan orang yang mencintai dia. Akhirnya, lagi-lagi kita jadi menganggap kebahagiaan wanita ketika menikah, menjadi istri, dan menjadi ibu, adalah sesuatu yang naluriah, kodrati, lumrah, ketimbang keinginan dan hasrat yang merupakan mistifikasi feminin, yang dikonstruksi secara sosial dari masyarakat tempat dia berada. Pada akhirnya saya malah jadi berpikir, jangan-jangan ini hanya derivasi lain dari patriarki dalam media. (Hei perempuan, kamu boleh berkarir, boleh bersenang-senang dan mempercantik dirimu dan hidup sebebas-bebasnya! Tetapi ingat, kebahagiaan itu belum lengkap kalau belum ketemu cinta sejati, lho..)

Entahlah, mungkin saya yang terlalu banyak menonton komedi romantis atau membaca novel chick-lit. Atau mungkin memang perempuan yang senantiasa akan terperangkap dalam mistik feminin?


-M O O N Y
ternyata ada pencerahan di balik film He's Just Not That Into You! :p