Jumat, 24 Agustus 2012

Berburu Bodhi #1

"Gue pengen deh sekali-sekali nyuri. Pengen nyobain aja gitu rasanya."
"Yuk! Gue juga."
"Senior macem apa sih lu??"

(not) so random conversation. (not) that much kidding. #IHeartFadliaHana

Selasa, 21 Agustus 2012

Kafir

Kerumunan adalah tempat kita tak sempat menjadi titik.

Saya lupa membaca kutipan ini dari mana: "Tak ada tempat terbaik untuk menempa diri kecuali (di dalam) masyarakat." Karena itu, ide-ide fatalistik yang pernah numpang lewat di dalam kepala sebaiknya jangan pernah diberi waktu untuk terelaborasi. Sebab percuma saja. Mau tak mau di sinilah tempat untuk kita menyelesaikan diri kita sendiri.

Saya tersaruk-saruk. Sebab kerumunan--keluarga, pertemanan, tetangga, perusahaan, sekolah, masyarakat, negara sampai entah apa struktur lain-lainnya tak sudah-sudah, kadang tak mengizinkan kita menjadi titik yang bebas. Relasi selalu bergaris. Interaksi selalu berbumbu. Saya takut dengan senyum-senyum yang mereka pasang. Barangkali mereka juga takut dengan ketidak-tertebakan atas kami, anak-anak yang mereka saksikan tumbuh dengan kedua mata mereka. Mereka takut kami jadi begundal, sulit percaya bahwa kami bisa memilih untuk diri sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk setiap impian kodian yang dipaksakan dan jalan-jalan hidup yang layak dijadikan pilihan.

Pada suatu dunia yang paralel, saya membayangkan kerumunan-kerumunan ini adalah titik-titik yang mengapung bebas, berwarna-warni, bebas menjadi diri mereka sendiri. Tidak perlu ada mimpi yang dikuantifikasi.

Terima kasih, berkat kalian kini saya sangat sulit percaya.

Kamis, 12 Juli 2012

Dua Raja dan Dua Labirin

(Ini adalah cerita yang diungkapkan oleh Pendeta Allaby dari mimbar dalam "Ibn Hakkan al-Bokhari, 
Mati di Dalam Labirinnya Sendiri")

Para periwayat yang bisa dipercaya telah mencatat (namun hanya Allah yang Maha-tahu) bahwa dahulu kala hidup seorang raja penguasa pulau-pulau kecil di Babilonia yang memanggil para arsitek dan ahli sihirnya serta menitahkan kepada mereka untuk membangun sebuah labirin yang amat rumit sehingga seorang yang arif takkan berani menjejakkan kaki dan mereka yang nekat niscaya akan tersesat di dalamnya. Tindakan ini adalah suatu penyeranahan, sebab kebalauan dan keajaiban adalah milik Tuhan semata dan bukanlah milik manusia. 

Bersama lalunya waktu, datanglah pada suatu hari seorang raja dari negeri Arab, dan raja Babilonia itu (karena ingin melecehkan kebersahajaan penguasa Arab itu) membiarkan tamunya memasuki labirin, dan membiarkannya berkitar-kitar kian kemari di dalam bangunan itu dengan penuh rasa takut dan malu hingga malam tiba. Pada saat itulah sang raja yang tersesat tersebut memanjatkan permohonan kepada Tuhan, dan tak lama kemudian berhasil mencapai pintu keluar. Dia tak mengucapkan keluhan apa pun, tetapi mengatakan kepada raja Babilonia bahwa dia pun memiliki sebuah labirin di negerinya dan, jika Tuhan mengizinkan, dia pun ingin suatu ketika menunjukkannya kepada tuan rumahnya itu. Lalu dia kembali ke Arabia, mengumpulkan para perwira dan balatentaranya, dan menjarah tanah Babilonia dengan keberhasilan yang luar biasa hingga meluluhlantakkan istana, memporakporandakan para penduduknya, dan menawan sang raja. Kemudian sang penguasa baru mengikat raja yang kalah itu ke punggung seekor unta dan membawanya ke sebentang gurun pasir. Selama tiga hari mereka berkendara hewan itu, dan akhirnya raja Arab itu berkata, "O penguasa waktu dan mahkota abad! Di Babilonia engkau memikatku ke dalam sebuah labirin kuningan berhiaskan aneka tangga, pintu dan dinding; kini Yang Mahakuasa telah membawa kita menuju waktu di mana aku bisa memperlihatkan labirinku kepadamu, yang tak memiliki tangga-tangga untuk didaki, atau pintu-pintu untuk disorong, atau koridor-koridor yang melelahkan, atau dinding-dinding yang membuntukan perjalanan."

Dia lantas mengendurkan ikatan raja tawanan itu dan meninggalkannya sendirian di tengah gurun pasir yang akan menyudahinya melalui haus dan lapar. Bersyukurlah mereka yang hidup, yang belum mati.

(Labirin Impian, Jorge Luis Borges: 1999: 16-17)


*****

Borges adalah Gandalf, yang kata-kata adalah kembang apinya, yang hanya menyisakan kepada kita ketercengangan setelah suatu ledakan--bukan kesedihan, bukan kebahagiaan. 

Hanya perasaan tak bernama. 

Senin, 25 Juni 2012

Alright, then.

Don't look away, don't lose your faith, don't run away,
Baby, it's only life.
- Kate Voegele 

Senin, 11 Juni 2012

What they filmed about in 1989 was actually....


... truth. Somehow I imagine that if someone dare to ask me the holy question one more time, I'd go banging my head to concrete walls and mumbling Allen Ginsberg's Howl. (Should I take that risk--or just smile?)

Well I guess only John Cusack can say anything in Say Anything.

Senin, 04 Juni 2012

Di Tengah Sekian Milyar Dunia Diam

"Pernahkah anda bertanya diri, darimana anda dapat bertanya diri? Betapa menakjubkan makhluk yang dapat berpikir, merefleksi, mengambil keputusan sendiri, merdeka dari kepastian nasib, merancang, berkreasi, bahkan semakin mencerdaskan kecerdasannya sendiri. Sampai seolah-olah tiada tabir dan rahasia semesta yang akhirnya tidak jatuh dalam daya tangkap si dia yang disebut manusia itu. Namun dari pihak lain, manusia yang gilang-gemilang itu, yang bangga menyatakan diri abdullah bahkan putra-putri angkat Tuhan, yang hanya dalam 500 tahun tradisi sains dan teknologi telah berhasil menjangkau jauh ke sekian milyar tahun-cahaya titik awal dan batas-batas luar kosmos makro, dia yang menyusup ke dalam se-per-sekian-milyar mikromilimeter sub-atom, pada waktu yang sama harus menanggalkan busana kebesarannya lapis demi lapis. "

Dari dulu saya punya kebiasaan untuk menilai bagus atau tidaknya buku dari paragraf pertamanya. Paragraf di atas membuka bab pertama dari Putri Duyung yang Mendamba, yang ditulis oleh Romo Mangun di tahun 1987. Judul bab-nya saja langsung membuat bola mata saya kepincut setengah mati: Di Tengah Sekian Milyar Dunia Diam. Buku ini tidak tebal, cukup untuk dicolong pinjam dari seorang teman dan dibaca selama perjalanan dari Jakarta ke Jogja dengan kereta. Sisa waktunya? Lebih dari cukup untuk dipakai bengong dan memandang kosong kepada langit.

"Jangan-jangan, ya, jangan-jangan semesta canggih ini bukan semacam mesin, tetapi sebentuk intelegensi."

Senin, 14 Mei 2012

Another Note on Eat, Pray, Love (366)


"The Balinese believe we are each accompanied at birth by four invisible brothers, who come into the world with us and protect us throughout our lives. When the child is in the womb, her four siblings are even there with her--they are represented by the placenta, the amniotic fluid, the umbilical cord, and the yellow waxy substance that protects an unborn baby's skin. The child is taught from earliest consciousness that she has these four brothers with her in the world wherever she goes, and that they will always look after her. The brothers inhabit the four virtues a person needs in order to be safe and happy in life: intelligence, friendship, strength, and poetry."

The Balinese could have taught John Keating one thing or two about poetry, no? We don't read poetry because it's cute, nor because we are the members of the human race. 

We read poetry in order to be safe and happy in life.