Rabu, 20 November 2024

Romo and the taste of blue

Kalau Romo Mangun masih hidup dan main Facebook, cerita-cerita di Pohon-Pohon Sesawi pasti akan ditulis jadi status update atau note yang bersambung-sambung. Cerita-ceritanya ringan saja, tentang macam-macam hal lucu dari keseharian beliau sebagai seorang Romo. Dari cerita-cerita ini, kita bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana, sebagai sebuah institusi, gereja Katolik diisi dengan berbagai perdebatan, perbedaan cara pandang, serta benturan-benturan realitas. Ada juga satu cerita berjudul “Tukang-Tukang Kebun Anggur” yang sedikit membahas tentang bagaimana perkembangan gereja Katolik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh praktik-praktik kolonialisme yang terjadi dari masa ke masa. Dalam cerita ini, Romo Mangun menuliskan dialognya dengan Pater Yan van Kikkerland (yang katanya sudah jompo dan cuma bisa berdoa saja) yang mengingatkan Romo bahwa sedikit atau banyaknya jumlah imam paroki seharusnya tidak membuat gereja kebingungan, karena dalam kerajaan Allah imam-imam yang paling sejati adalah ibu-ibu. Saya senang dengan potongan dialog ini karena kentara sekali bagaimana Romo Mangun sesungguhnya sedang mengkritik gereja Katolik sebagai institusi yang lembam dan patriarkal.

Dari delapan cerita pendek, cerita favorit saya adalah “Durian dan Pisang”. Durian dan Pisang adalah metafor untuk tokoh seorang frater dan seorang anggota jamaah Romo, Gembong dan Aluisia. Frater Gembong, yang ditugaskan membimbing Legio Mariae untuk jemaah perempuan, jatuh cinta dengan Aluisia si anggota koor Legio. Ketika si frater memutuskan keluar dari seminari dan melamar Lusi, banyak orang bertanya-tanya apa yang membuat dua orang yang begitu bertolak belakang bisa saling jatuh cinta. Saya senang dengan cerita ini karena Romo Mangun mengingatkan bahwa hukum tertinggi dalam agama Katolik adalah cinta kasih. Romo Mangun juga mengutip copy iklan Bentoel Biru di TV untuk menutup cerita. “It’s the flavor in you which attracts!” (rasa sifat khasmu itulah yang menarik), katanya. Entah kenapa, saya tersenyum-senyum membayangkan Romo Mangun yang sedang santai menonton TV dan terusik dengan sebaris copy iklan rokok. Saya juga selalu senang dengan ide bahwa beragama, seperti hal-hal lainnya dalam hidup, semestinya dibawa santai saja.




Kamis, 17 Agustus 2023

Hey man, who are you singing this song for?

Dia yang melempar nama ke udara/ yang berpahala dan berdosa/ bawa bebanmu, yang berduyun-duyun meyakini sabdamu/ dan mereka yang menanggalkan kepercayaannya, meninggalkanmu sepenuhnya/ menciptakan dosa-dosa berikutnya.

Aku tidak pernah suka ketika segala sesuatu dijelaskan untuk menjadi ketetapan/ aku tinggalkan sepenuhnya meja itu/ beberapa di antara mereka membatu, di bawah gedung dan di dalam buku/ selamanya duduk semeja bersama.

Mataku memicing di bawah matahari yang terik dan percakapan di bawah jemuran setengah kering/ barangkali itu sebabnya aku bukan siapa-siapa/ ada yang semestinya memang bertanya ke dalam dirinya sendiri, bukan ke sesama fakir.

Tanganmu terkepal ke udara/ aku ingin menangis/ karena rasa muak yang menggelegak/ It's just an administrative unit, a glorified municipality/ Why do we imbue it with esoteric meaning and protect it with nuclear bombs/ I can't bow down (to any institutions), it's just not intelligent. 

Di mana-mana sama saja/ tulang dan ruas jari kaki seakan tidak ada gunanya/ kau tidak tahu kapan, kapan/ jiwa ini terakhir merdeka.

Selasa, 04 Juli 2023

Anamnesis

Nggak ada obat lebih mujarab untuk semua prahara hidup, kecuali nulis. Hal ini yang akhirnya, di suatu hari yang cerah di awal bulan Juli 2023, bikin saya terinspirasi untuk kembali menghidupkan blog ini. Harusnya judulnya bukan anamnesis lagi, tapi resurrection. Tapi gak apa-apa, anggap si manusiadaribulan (sebuah judul blog yang rasanya labil, kadang bikin malu, tapi harap maklum karena ini nama yang dicetuskan remaja usia 18 tahun yang dulunya gagu dan ngerasa punya nyali kalau bulan lagi terang benderang aja) ini akhirnya sembuh dari sakitnya. Ibarat anamnesis yang sesungguhnya, malam ini dia sedang berusaha menilik kembali apa saja riwayat sakit yang bisa bikin dia lumpuh menulis. 

Padahal kalau dipikir-pikir, blog ini sudah lebih dari 15 tahun umurnya. Nggak hebat-hebat amat sih, tulisannya juga nggak banyak dan seringnya cuma serak-serakan kutipan buku, film, atau lagu saja. Tapi dalam 15 tahun terakhir ini, ternyata sudah banyak betul yang terjadi. Dari awalnya cuma bisa nulis di blog kalau laptop kakak sepupu nganggur nggak dipakai, sekarang sudah bisa nulis dari laptop sendiri tanpa rasa deg-degan takut laptopnya mau dipakai. Dari segi playlist saat menulis sih jelas nggak berubah, yang selalu membuat saya bengong sebentar tiap lagi nulis (#np Ari-Reda, Akulah si Telaga, yang selalu bikin penasaran apakah Sapardi Djoko Damono punya sinestesia juga karena bisa membayangkan harumnya cahaya?). Selalu, akhirnya kembali dipanggil ke sini, seakan halaman putih blogspot yang layoutnya udah lama banget nggak ganti-ganti ini punya kekuatan AI yang mistis untuk memanggil jiwa-jiwa blogger yang tersesat lama di rutinitas berisi laporan, Zoom meeting, grup Whatsapp, cuci baju, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. 

Karena itu, saya kembali. Nama blog-nya nggak usah diganti, biar nggak lupa sama betapa katronya diri ini dari dulu sampai sekarang. Masih diri yang sama, yang berusaha untuk konsisten merancang kejadian-kejadian fiktif di dalam kepalanya yang padahal nggak akan kejadian sampai kapan pun juga, sambil berpura-pura menjadi makhluk bumi yang produktif. 

Kapan ya ini nulisnya?

Di sini, hari ini, ada yang membuat senang meski sepele. Ada pertanyaan tentang buku-buku apa yang harus dibaca, yang sekarang sedikit menggelitik karena: kenapa ya, yang aku rekomendasikan lebih banyak buku-buku yang ditulis oleh laki-laki? Di sini, hari ini, ada yang membuat senang: keinginan untuk menulis yang tiba-tiba melesakkan dada, rasa ingin tahu yang tiba-tiba tentang kabar kata-kata di pelosok-pelosok kepala, ucapan selamat datang kepada semua memori dari bertahun-tahun yang lalu saat aku jauh lebih muda. Betapa lucu dan absurdnya hidup ini. Hal-hal yang tidak berguna seperti paragraf tentang Aureliano yang melihat es batu bisa lebih melekat dibanding interpretasi Barthes tentang mitos dan kuasa, misalnya, yang mestinya jauh lebih berguna. Aku dan memori-memoriku yang tiba-tiba meledak ini. Bukan apa-apa, kalau begini aku jadi ragu-ragu pada kemampuan berbagai macam zat (substance) yang sering digadang-gadangkan sebagai pemicu ingatan-ingatan. Dan kalau sudah begini, aku ragu-ragu (lagi-lagi) tentang waktu, yang ternyata tidak hanya membawa kita ke mana-mana, tapi juga membuat kita tidak ke mana-mana. Di sini saja, duduk dengan kaus hitam dan celana pendek biru. Di sini saja dengan perasaan marah yang mengendap bersama rasa ingin tertawa sepuas-puasnya. Mengapa kamu begini terus, tidak berubah-ubah juga? Dan sudah tahu pertanyaan itu pertanyaan paling sulit di dunia, tapi masih saja kamu pikirkan juga jawabannya.

Hari ini aku menonton Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Meski dulu sempat membaca bukunya, aku baru sadar betul apa makna judul itu setelah menonton filmnya. Memang ada hal-hal yang harus kita tuntaskan bukan untuk memaafkan orang lain, tapi untuk memaafkan diri kita sendiri. Sisanya tidak terlalu penting lagi, karena kita bisa hidup nyaris dalam kondisi apapun (sebenarnya) jika batin kita tidak lagi digelayuti berbagai beban yang tidak perlu. 

To The Ladies I Pray For

Tanteku bercerita tentang nenekku yang selalu menyimpan sehelai popok lansia cadangan di bawah bantal sebelum tidur. Dari situ aku tahu dari mana kebiasaanku menyimpan barang-barang di tempat yang tidak terduga kuperoleh. Nenekku sangat keras kepala dan tidak mau dibantu dalam melakukan hal-hal yang baginya sepele. Setiap malam tante dan nenekku tidur di ranjang yang sama--nenekku di sisi yang dekat dengan pintu kamar mandi, tanteku di sisi yang dekat dengan meja kecil yang di atasnya menyala radio kecil yang memutar lantunan kitab suci dan terjemahannya. Setiap pagi, nenekku pindah ke kamar pribadinya membawa selimut yang dilipatnya sendiri. Tanteku bercerita bagaimana mereka tertawa di suatu pagi karena mendapati tiga helai popok di bawah bantal nenekku. Rupanya tanteku juga suka menyelipkannya di bawah bantal nenekku tanpa memberitahu. Mereka tertawa geli--tanteku yang baru berulang tahun ke-69 Januari lalu dan nenekku yang tahun ini harusnya berumur 94, jika ia masih ada. Mereka berdua sama-sama bershio ular, dan aku diam-diam suka merasa senang karena punya shio yang sama dengan mereka. 

Kadang mataku basah jika mengingat jasa mereka berdua dalam membesarkanku. 

Tonight the Streets are Ours

I love and have loved many objects in life. For many years, I think since I was very little when my mom took me on many road trips, I have been fond of streets and roads, yet as I grow older I can say that walking is one of my long-lasting passions. Since I began to work professionally about ten years ago, I am lucky enough to have so many chances to travel to many places in the country and overseas. I never really dive deep into the reasons why I'm drawn to the act of walking or moving in general. As I'm writing this, I realized that this is a subject that I discussed quite often with Riri Riza and he once mentioned about moving as the consequence of realism in cinema (or something like that). The film's characters can only be developed realistically by fitting them into their surroundings and how the characters can expand/grow only when their surroundings are constantly expanding too. For me, though, the act of moving by feet is spiritual. Whenever I see things and people on the streets I feel more connected to the world and to myself simultaneously. I can never remember the details of the streets I've walked or passed on, but I can remember the exact feelings. It's funny to think that whenever I walk in silence or whenever I think about the memories of walking afterwards I always have the similar impressions or feelings, which are the feelings that I'm old but  everything is possible in life.

In this lifetime I think I envy Paul Salopek the most. He's a journalist for National Geographic and a Pulitzer winner who is currently on a mission that called "Out of Eden Walk". I've never wanted anything from this life but the opportunity to walk around this earth. In fact, I think to walk around the earth is the sole purpose we're created as bipedal creatures. Paul also proves that walking or traveling is not a young man's obsession to just see the world and to have as many experience as he can. Instead, it's an honorable and deliberate choice somebody makes to have the courage to leave a comfortable and predictable life behind. It's argued that one must have been privileged enough to have a deliberated choice to "leave", because in many cases around the world some people don't actually have other choices but migrating out of their homes and seek for asylum in unwelcoming places. Which made me realize that walking, just like other things in life, is perhaps only enjoyable if you have the freedom to do it.

Jumat, 24 Desember 2021

A conversation between Mr. R and I on a Blue Bird Taxi on a night ride

.. Like this house, miss, this house is haunted because it has too many sculptures. And that house, miss, I've been there. It's been vacant for too long, miss.

At night I saw so many things on the road. Like last week, miss, I helped a friend of mine selling his house. 

Why do you think people are given such ability, sir?

To help people achieve things, miss.

Do people often come to you to help them achieve things?

Oh yes, many times. I helped a girl once. She experienced many things because she broke a boy's heart. 

I still don't understand why people (in my head I said: men) can do such things.

It's simple logic, miss. Some people can handle disappointment. They want things and when they can't have the things they want, they do whatever it takes to get what they want.

I was given this ability by my parents eight years ago, miss, if you really want to know. If I wanted to use this to gain money and became rich, miss, I could. But I don't want to. We must live in moderation, miss.

People like you are rare, sir.

I know, miss, because people just don't know where to stop.