Selasa, 23 Februari 2010

Remistifikasi Feminin

Pagi ini di tengah-tengah teh manis dan obrolan ringan dengan teman-teman kuliah di pagi hari yang cerah ketika kuliah tiba-tiba dibatalkan karena tidak ada dosen (bagus nih buat setting iklan teh Sariwangi..), kami secara so(k)siologis berbicara tentang hal-hal yang dianggap menyimpang dari norma di masyarakat seperti kohabitasi, homeschooling, sampai hidup tanpa anak. Tuh kan, sebenarnya diskusi di tengah-tengah kelompok sebaya selalu menghadirkan apa yang disebut feminism-consciousness raising, baik itu kelompok homogen maupun heterogen. Sayang ide ini ditolak mentah-mentah oleh dosen saya untuk jadi tema penelitian...

Yah, intinya kami berpendapat bahwa gagasan-gagasan "modern" mengenai institusi keluarga seperti kohabitasi atau bahkan menikah tanpa ingin memiliki anak memang masih ditanggapi dengan sikap yang ambigu oleh sebagian besar anak muda. Artinya, biasanya kita sudah mulai menganggap itu hal yang lumrah jika terjadi pada orang lain, tapi kalau bisa jangan sampai kita yang mengalami sendiri. Kalau kata orang Jawa, "ngono ya ngono, mbok ya ojo ngono", gitu. Kita bisa saja sangat liberal dalam pemikiran, tetapi ada orang tua kita yang masih konservatif. Atau bisa saja kita dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang sangat liberal, tetapi hidup di dalam masyarakat yang (ceritanya) masih berpegang pada norma-norma agama. Selalu ada tekanan dari lingkungan tempat kita berada, meski kita peduli atau tidak. Karena kita toh tidak hidup sendiri, bukan?

Namun sedikit banyak pergeseran cara pandang ini tentu saja merupakan dampak media, terutama film-film Hollywood dan bagaimana kita jadi menganggap hal-hal di atas tadi wajar karena begitulah yang direfleksikan di dalam film-film tersebut. Hal yang jadi sangat memprovokasi saya adalah bisa saja film-film tersebut sebenarnya tidak mengkonstruksi norma baru, melainkan melanggengkan 'norma lama' yang dikemas dengan 'norma-norma baru'. Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik yang diberikan oleh teman saya: "Rasionalitas selalu diikuti irasionalitas di belakangnya". Mungkin kalimat ini kurang tepat untuk menjelaskan apa yang saya akan uraikan di bawah, tetapi kalimat tersebut membawa saya pada pemahaman bahwa kita bisa saja seakan bergerak maju, tetapi sebenarnya tetap di situ-situ saja.

Saya menyebutnya remistifikasi feminin. Konsep ini berangkat dari pemikiran Betty Friedan dalam The Feminine Mystique yang menguraikan bagaimana perempuan terperangkap dalam sebuah mistik feminin, yaitu sebuah anggapan bahwa tujuan hidup dan ke'ada'an perempuan sebagai perempuan adalah ketika ia menikah, memiliki anak, dan menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Begitulah, perempuan di berbagai peradaban dibesarkan di tengah masyarakat yang memistifikasi sosok perempuan sebagai ibu, sebagai istri: singkat kata, sebagai pelengkap dari laki-laki. Perempuan ada untuk tujuan tersebut, dan bagaimana kita semua pada akhirnya menganggap hal tersebut lumrah, bahkan sesuatu yang kodrati. Namun di tengah-tengah masyarakat yang terus berkembang, muncullah sosok-sosok yang lantas meruntuhkan mistik feminin ini. Banyak perempuan yang memilih ranah lain, yang lebih besar dan berarti ketimbang rumah tangga sebagai tempatnya untuk mencapai aktualisasi diri, seperti ilmu pengetahuan atau politik. Mungkin adalah suatu hal yang amat membanggakan sekiranya perempuan menjadikan rumah tangga sebagai salah satu elemen dalam hidupnya dengan tetap memiliki ambisi lain yang lebih besar bagi dirinya sendiri, ketimbang terjebak dalam domestifikasi. Dan pada nyatanya, kita menemukan perempuan-perempuan seperti ini dalam jumlah yang semakin banyak di dalam masyarakat.

Media, dalam hal ini film, terutama berperan penting dalam mengkonstruksi citra perempuan-perempuan seperti ini. Perempuan-perempuan dengan kesadaran penuh yang menjadikan dirinya ber'ada', tanpa menyandarkan kesadaran akan keberadaannya kepada laki-laki. Perempuan-perempuan yang berhasil meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan mencapai ambisi-ambisi lain di luar pernikahan, misalnya menjadi editor dari sebuah majalah terkemuka, menjadi ilmuwan yang menemukan teori baru, atau bahkan menjadi pengacara termahal di negaranya. Perempuan-perempuan yang tidak dapat diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh komunitasnya. Perempuan-perempuan yang bahkan bisa menjadi sangat mengintimidasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Hanya saja, sering kali citra yang dibangun dengan detail-detail kuat tersebut seketika runtuh ketika kita menyaksikan akhir film tersebut. Pada akhirnya kita harus percaya bahwa "Love Sells". Bahwa ending cerita yang sempurna adalah perempuan tersebut menemukan pasangan yang tepat dan akhirnya menikah dengan cinta (sejati?)nya. Kalau Julie Delpy dalam Before Sunset bilang, "Everybody wants to believe in love. It sells, right?". Kalau ending cerita tidak begini, cerita hidup si perempuan tidak dianggap sukses dan dia tidak dianggap bahagia. Jadi keinginan terdalam dari lubuk hati (tsah) si perempuan, di balik segala kesuksesan dalam hidupnya, sebenarnya tetaplah menemukan orang yang mencintai dia. Akhirnya, lagi-lagi kita jadi menganggap kebahagiaan wanita ketika menikah, menjadi istri, dan menjadi ibu, adalah sesuatu yang naluriah, kodrati, lumrah, ketimbang keinginan dan hasrat yang merupakan mistifikasi feminin, yang dikonstruksi secara sosial dari masyarakat tempat dia berada. Pada akhirnya saya malah jadi berpikir, jangan-jangan ini hanya derivasi lain dari patriarki dalam media. (Hei perempuan, kamu boleh berkarir, boleh bersenang-senang dan mempercantik dirimu dan hidup sebebas-bebasnya! Tetapi ingat, kebahagiaan itu belum lengkap kalau belum ketemu cinta sejati, lho..)

Entahlah, mungkin saya yang terlalu banyak menonton komedi romantis atau membaca novel chick-lit. Atau mungkin memang perempuan yang senantiasa akan terperangkap dalam mistik feminin?


-M O O N Y
ternyata ada pencerahan di balik film He's Just Not That Into You! :p

Senin, 15 Februari 2010

The Beauty of Little Things





AREN'T you amazed by the normalcy of life?











Because no matter how hard you try to plan, to predict, to guess:











you'll always have to let yourself fooled by randomness.












And isn't it (beautifully) ironic?




-M O O N Y
Saya menonton kedua versinya, Paris, Je T'aime dan New York, I Love You--dan saya suka keduanya. Kapan ya ada Jakarta, Aku Cinta Kamu? Hehehehehe..

Jumat, 29 Januari 2010

Tirani Demokrasi

Melihat begitu banyak acara anak muda yang dilandasi oleh semangat demokrasi, saya jadi senyum-senyum sendiri. Senyum dalam beberapa arti, sebenarnya. Saya ingat diri sendiri yang dulu cukup terusik dengan istilah ini saat belajar sistem politik di semester dua. Betapa sering kata ini dijejalkan ke dalam pikiran kita, bahkan sedini mungkin sejak sekolah dasar. Demokrasi jadi lumrah. Kita rasa-rasanya bisa menangkap dan mungkin merasa paham atasnya. Tetapi paham atas dasar kelumrahan bisa sering menyesatkan--dia bisa selalu jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan yang lahir ketika muncul keragu-raguan. Kalau kata Umar Kayam, kita jadi cenderung menjawab "pokoknya.. pokoknya..", gitu. Lebih parah, mungkin saja tidak muncul keragu-raguan sama sekali.

Kadang-kadang, kebebasan individual dan kelompok saat ini dengan mudah bisa dilandasi semangat ini. Pendek kata, apapun yang terjadi, "Pokoknya Demokrasi!". Yang lebih ironis, ada orang-orang yang merasa kebebasan berpikir muncul karena demokrasi. Dari kebebasan berpikir lalu melahirkan kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, kebebasan melakukan apa saja sebebas-bebasnya. Bebas, bebas, bebas! (Tebas, tebas, tebas!)

Well, saya pikir manusia selalu bebas berpikir, ada ataupun tidak ada demokrasi. Jika Machiavelli bilang, "di dunia ramai, yang suci murni tak pernah terjadi", apa bedanya--kecuali kita memilih untuk hidup sendiri?

Demo. Demos. Rakyat. Ramai.
(Tak suci dan tak murni?)


-M O O N Y

Jumat, 15 Januari 2010

Kaleidoskop yang Kelupaan!

Lupa! Ada satu lagi momen yang belum ditulis, berhubung terjadinya agak di penghujung tahun.

Ehm. Pada pertengahan Desember 2009, tepatnya pada tanggal 13 Desember, saya resmi menjadi kontributor majalah Change, sebuah majalah remaja yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan. Ceritanya majalah ini membahas isu-isu sosial dengan bahasa yang serius tapi santai dengan menggunakan tiga perspektif utama: Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Gender. Kayanya berat ya, padahal orang-orangnya hobinya ngejayus, ngenet gratis di kantor, sama ngomongin fashion blog dan film korea! Hahaha..

Oh, dan belakangan saya dapat jabatan baru sebagai Media Partnership. Majalah Change punya rencana untuk 'ekspansi' ke ranah gerakan anak muda tahun ini, jadi mohon doanya.. :)

Semoga gerakan anak muda bisa kembali mengubah sejarah Indonesia.

Selasa, 05 Januari 2010

My Best of 2009

2009 berlalu sudah! Meski agak terlambat, saya hendak membuat kaleidoskop kecil-kecilan versi saya sendiri. Terlalu banyak hal yang patut disyukuri di tahun kemarin, dan semoga juga di tahun ini pun demikian. :)

People:
Ayu Utami
YES, I met her. Even better, I got the chance to talk with her for about an hour!
Salah satu mimpi saya, kok anehnya, kesampaian lagi.. What a moment..

Events:
1. KLa Project's Concert
:)))))))))) God knows how much I love this band!
2. Social Urban Art Festival
Akhirnya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai impian sama: membungkus kritik sosial lewat media seni! Bekerja sama, bekerja keras, dan rasanya puas bisa mendatangkan teman-teman dengan minat dan ketertarikan yang sama. Melalui acara ini, saya akhirnya tahu, saya lebih senang proses ketimbang hasil. :)

Movies:
40 Years of Silence
Film dokumenter terbaik di tahun 2009 yang pernah saya tonton!

Books:
1. Surat Dari Palmerah-Seno Gumira Ajidarma
Pertama, saya cari-cari buku ini terus-terusan. Kedua, tiba-tiba teman-teman kuliah saya memberi kado ini sebagai kejutan. :)
2. Pengakuan Pariyem-Linus Suryadi AG
Ironis. Saya akhirnya dapat fotokopian versi aslinya setelah nyari kemana-mana. Dua bulan kemudian, buku ini
cetak ulang dan ada di Gramedia. Waktu saya pamer ke Ibu, dia bilang, "Mama dulu punya deh kayaknya." Ampun deh... Pakai darah dan air mata, nih, perjuangannya.. Hahaha..
3. Mangan Ora Mangan Kumpul-Umar Kayam
Horeee! Saya dapat buku ini di stand buku bekas TMII, dan sejak itu tidak bosan-bosan menjadikan ini bacaan di samping bantal. Akhirnya saya punya sendiri!

Albums:
1. From the Corner-Cozy Street Corner
Ini dia album yang dulunya selalu saya bayangkan, dan ga nyangka bakal nemu akhirnya.. Baik dari genre musik, lirik, sampai karakter suara vokalis--kenapa bisa klop ya? Yah, terima kasih sudah mewaraskan saya di awal tahun dengan track "Dendang Bersahutan" dan "Teh". :)
2. Kamar Gelap-Efek Rumah Kaca
Astaga! Lima dari sepuluh besar lagu yang paling sering dimainkan di Windows Media Player saya ternyata berasal dari album ini. (Rupanya tahun ini sering merasa mumet juga ya..).
Terima kasih, album ini bagi saya layaknya Ponstan bagi orang sakit gigi.. Hihihi..
3. Rasuk-The Trees and The Wild
Andaikata ada pertanyaan,
siapa teman yang lebih baik dan setia menemani selama perkuliahan Metode Penelitian Sosial yang menggerogoti jiwa-raga (aih) buat saya, maka 'Our Roots' dan 'Derau dan Kesalahan' lah jawabannya..

Places:
1. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia
Selalu dan selalu. Perpustakaan, lorong-lorong antara kumpulan essay, novel, dan puisi di lantai dua, mencium bau buku-buku tua, tempat saya "melambat". Klaster, tempat pertemuan rahasia, rencana rahasia, dan pembicaraan rahasia dengan orang-orang yang saya sebut "Pil-pil bahagia". Terima kasih sudah dua tahun lamanya tetap begitu saja, sejak semester pertama dengan kuliah wayang yang mulai terlalu lama, hingga semester lima yang meracuni otak, Klaster bukan sebuah kebetulan yang terletak di antara FISIP, FIB, dan FE UI. Dia ditakdirkan. :)
2. Balik Hutan, Universitas Indonesia




"Kalau saya daun teh dan kampus adalah cangkir, balik hutan adalah penyaringnya.."

Minggu, 22 November 2009

On Phantasmagoria

Perkenalan saya dan video-art bermula sekitar awal tahun 2009, ketika saya untuk pertama kalinya menyaksikan video-video ini dalam kompilasi OK.video Festival di suatu acara kampus. Dan sejak itu, sepertinya saya langsung jatuh cinta pada video-art ini. Saya ingat betapa terpukaunya saya pada ide bahwa setiap orang bisa mensenjatai dirinya sendiri untuk melawan realitas yang dikonstruksi media massa dengan menciptakan realitas sendiri, melalui 'perkakas' simpel seperti handy-cam atau bahkan video-camera yang terintegrasi di ponsel pribadi.



Di cerpen Kompas minggu lalu, Phantasmagoria, Satiagitaya sang pengarang menggambarkan phantasmagoria sebagai keterjebakan manusia modern di dalam teknologi seperti ponsel dan internet. Singkatnya adalah hiperrealita. Ternyata hiperrealita menciptakan realita personal, bukan lagi realita yang dibagi bersama. Menarik juga sih, ternyata senjata untuk memerangi realitas yang menyebalkan dimana kita menjadi objek di dalamnya adalah hiperrealitas, ketika kita bisa berkuasa sebagai subjek.

Tapi sampai disini saya pun jadi bertanya mengenai definisi realitas dan hiperrealitas. Tokoh Tanata terjebak dalam phantasmagoria-nya sendiri ketika berjumpa dengan Marianne, cinta lamanya. Sedangkan di akhir cerita ia lah yang menertawakan semua orang yang terjebak dalam phantasmagoria. Tanata menertawakan keluarganya yang 'heboh' memberitakan hilangnya dia melalui status facebook (mungkin juga twitter atau plurk, hahaha..). Saya pikir, phantasmagoria pertama tidak bisa dibedakan dengan semacam euforia, perasaan gembira yang meluap-luap. Sedangkan phantasmagoria kedua lekat dengan narsisisme, ketika melalui teknologi, manusia menjadikan dirinya subjek yang menciptakan realitasnya sendiri.

Saya tidak ingin memulai bertanya-tanya, tetapi ternyata terjebak juga dengan pemilahan mana yang real dan yang mana yang hiperreal. Saya pikir, kita juga terjebak ketika mulai menetapkan bersama bahwa inilah yang real, padahal setiap orang punya pemaknaan yang berbeda atas realitas mereka. Melalui video-art ini misalnya, saya bingung yang dikritik itu realitas atau hiperrealitas? Tapi mungkin kita hanya sudah muak menjadi objek, dan mungkin tidak penting lagi mana yang nyata, mana yang tidak nyata. Lagipula, kenapa segala sesuatu yang tidak kasat mata lantas dinobatkan menjadi "tidak real"? :)

-M O O N Y
Oh, mungkin saya sendiri sekarang ada dalam Phantasmagoria. Entah itu, atau entah overdosis Nasi Uduk seharian ini. Hahahaha..


Kamis, 12 November 2009

Gerutuan tentang Bahasa dan Proses Meta-Metaan

Mana yang lebih parah, menghina mereka yang senang menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari ketika ada kata dalam bahasa kita sendiri yang juga bisa digunakan, atau menghina mereka yang senang menggunakan kata-kata dalam bahasa kita sendiri tapi mengubah pemaknaannya?

Saya juga kerap kali dihujat oleh teman saya karena menggunakan istilah 'alay' yang merujuk pada golongan tertentu. Katanya saya bersikap menghakimi. Tapi ketika saya bilang alay, dan dia bilang "jahat loe", berarti dia tahu apa yang saya maksud dan juga ikut menghakimi, bukan? Ha!

Mungkin ini efek samping dari pembelajaran aspek apapun secara vertikal ketimbang horizontal. Kalau ada yang namanya metateori, saya bikin istilah sendiri yaitu 'metabelajar', hahaha. Metode ini bukan melakukan refleksi terhadap proses belajar (seperti metateori terhadap teori), melainkan sebuah titik kulminasi setelah bulan-bulan yang melelahkan dan membuahkan pertanyaan besar: kenapa sih saya belajar???? (Yang, tentu saja, dapat dengan mudah dilecehkan sebagai gerutuan mahasiswa sok tahu yang sok berfilosofi, hihihi).

Tapi jangan remehkan proses meta-meta-an ini. Proses ini yang melahirkan keragu-raguan, dan tanpa ragu-ragu kita tidak akan pernah yakin terhadap sesuatu. Kata Jeffrey Lang, "aku menggugat maka aku kian beriman".

Seperti biasa, pembelaan saya: Orang yang bilang orang lain berpandangan sempit adalah orang yang sebenarnya juga berpandangan sempit! :p