Kamis, 26 September 2013

Matari


And open wide the hymns you hide
You'll find renown while people frown
At the things that you say
But say what you'll say
About the farmers and the fun
And the things behind the sun
And the people 'round your head
Who say everything's been said
And the movement in your brain
Sends you out into the rain
- Nick Drake
Looking at the things behind the sun
from western to southern part of Java island

Minggu, 01 September 2013

Justifikasi

"Aku tidak butuh tokoh nyata untuk kukagumi," dia menjawab sederhana. "Sebesar-besarnya tokoh hidup, dia tetap manusia. Kita harus menyediakan maaf untuk kemanusiaannya. Bagiku memaafkan tokohku berarti menurunkan dia satu anak tangga. Tidak bisa. Dia tidak lagi di puncak kagumku."

Kembang Manggis (1985: 30)

Kamis, 13 Juni 2013

Instan

1. Dalam kumpulan esainya yang berjudul Kesatuan Kreatif, Rabindranath Tagore banyak berbicara mengenai konsensus keindahan. Adab sebagai keindahan perilaku memerlukan beberapa kondisi untuk memungkinkannya terwujud, salah satunya adalah lingkungan yang santai. Karena itu, keindahan perilaku tidak mungkin dicapai dalam masyarakat yang selalu terburu-buru. Kita jadi ingat apa yang dikatakan Jesse kepada Celine dalam Before Sunrise ketika membandingkan seorang pria yang mengantri di mesin ATM (yang tampak seperti moron) dan seorang anjing yang tertidur santai di jalanan di bawah cahaya matahari (yang tampak begitu indah).

2. Dalam sebuah wawancara, Jacques Cousteau berkata bahwa ia percaya pada keinstanan. Sebenarnya ada semacam kejengahan bagi saya ketika menggunakan kata itu--keinstanan, tapi menurut saya kata kecepatan saja tidak cukup untuk menjadi padanan dari instant. Entah apa yang dimaksud Cousteau tentang keinstanan tersebut, namun saya seketika teringat seorang teman yang pernah berkelakar mengenai konsep "cinta pada pandangan pertama". Menurutnya cinta pada pandangan pertama lebih dari sekadar klise atau mitos kacangan dalam cerita-cerita roman. Cinta pada pandangan pertama adalah pengalaman yang disebutnya true event. Apakah ini yang sedikit banyak mirip dengan keinstanan, bukan hanya lebih dari cepat, tetapi juga otentik?

3. Tentu saja jika kita mengacu keinstanan sebagai kata yang biasa menempel pada makanan instan atau popularitas instan, kita berhadapan dengan fakta bahwa nyaris tak ada otentisitas dari keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering mendengarkan atau menggunakan kata instan secara denotatif. Generasi Y, alias generasi millenial, alias (mungkin) generasi kita juga sering disebut generasi instan dengan nada yang melecehkan--kurang lebih karena generasi inilah yang tidak lagi berjerih payah dalam sebuah proses dan tidak otentik. Siapa yang bisa percaya kepada yang instan? Sudah berapa kali kita mengeluarkan celetukan "Cepet amat!" dengan nada penuh curiga? Dan berapa kali mata kita melihat langsung borok-borok di balik segala sesuatu yang instan?

4. Tetatpi kita juga mendengarkan cerita mengenai perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke Langit dalam satu malam dan kita dapatkan makna instan yang lain. Instan masih merupakan sesuatu yang rahasia, tapi begitu gaib dan ganjil. Sulit dipercaya, mencurigakan, namun sekaligus menjadi keajaiban.


A reporter from an anti-establishment newspaper in Seattle once asked a 67-year-old Jacques Cousteau if he had faith in anything. Cousteau gave a strange reply: “I believe in the instant.”
(Source: click here)


5. Barangkali Cousteau tahu, instan membutuhkan semacam iman?


-M O O N Y


Selasa, 04 Juni 2013

Cameron Crowe strikes again!


"You don't want me--I'm filled with Scotch, bitterness and impure thoughts!"

Peter MacCready from We Bought a Zoo (2011) confronting a lion, practically a combination of everything that makes you happy: Cameron Crowe as the director, Bob Dylan on the soundtrack list, some kind of Russian/Vietnam War veteran anger, and a tiny reminder on why you are still allow to trust your intuitions.

Selasa, 28 Mei 2013

Catatan dari Perjalanan

"Menurut lo, siapa yang bikin (candi) Borobudur?"

"Orang-orang yang taat."

Hari Sabtu, 25 Mei 2013 yang lalu, meski perayaan Waisak di Borobudur kacau karena ulah beberapa orang yang tidak tahu tata krama, saya terhenyak karena jawaban seorang teman yang keberadaannya harus dilestarikan di muka bumi ini. Jawaban yang ia berikan resmi mengakhiri kepercayaan saya terhadap alien sebagai pembuat Candi Borobudur, apalagi pekerja-pekerja yang mengangkut batu-batu satu per satu seperti yang dibayangkan rezim Soeharto dan dipajang diorama-nya di Monumen Nasional.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu persis apa yang saya cari dari sebuah perjalanan--sering kali hanya dimotivasi dari keinginan untuk kabur sejenak dan menari di tanah yang baru. Saya tidak sadar bahwa terdapat benang merah dari kota-kota yang saya datangi ini: sejarah, dari yang masih hidup dan yang sudah mati.

Beberapa bulan yang lalu saya mengunjungi nenek saya di Sumatra Barat. Beliau adalah seseorang yang kerap meminta saya, sejak di bangku SMA, untuk menuliskan kisah-kisah hidupnya sebelum beliau tiada. "Tugas" itu pernah terlaksana sebentar, sebelum akhirnya waktu dan segala hal lain membuatnya terhenti. Ketika menuliskan kisah hidup Oma--begitu saya memanggil beliau, saya sering terheran-heran karena terasa dari begitu jauh cerita-cerita itu datang. Tentang perang, tentang kain yang harus didagangkan dengan menempuh perjalanan berkilometer-kilometer jauhnya dengan berjalan kaki, juga tentang manusia yang bisa berjalan di antara hujan tanpa kebasahan. Hingga kini, saya tak pernah bisa memandangi wajah beliau tanpa bertanya dalam hati, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya hidup dan mengalami semua itu, lalu hidup di saat ini dan mengalami semua ini? Bagaimana rasanya melihat generasi yang malas, ketika pernah hidup di suatu masa saat hiduplah manusia-manusia yang bisa berjalan melewati hujan karena keutamaan hidup mereka?

Pada perjalanan yang belum lama kemarin, saya dan beberapa teman juga singgah di kampung halaman salah seorang teman dalam rombongan kami. Bertuturlah ia tentang seorang perempuan tua yang dipanggilnya Mbok, perempuan yang hidup lebih tua dari neneknya sendiri. Perempuan yang berkisah kepadanya tentang sosok Nyi Roro Kidul yang memberinya harta pusaka, sekaligus perempuan yang menemani nenek teman saya ini berdagang keliling kampung setiap hari. Teman saya datang untuk menemui si Mbok, yang memanggil semua cucunya dengan nama kecil teman saya. Tanpa disangka, si Mbok telah meninggal sebulan yang lalu. Teman saya termenung sebentar, sebelum akhirnya bercerita kepada kami bagaimana si Mbok meninggal. Melewati usia entah keberapa--mungkin delapan puluh, sembilan puluh atau seratus, si Mbok tak lagi mau makan menjelang hari-hari terakhirnya. Seorang ustadz datang ke rumah keluarga si Mbok dan bertanya apakah benar si Mbok telah meninggal dunia, karena ia mengaku didatangi si Mbok yang berkata, "Saya meninggal, tolong mandikan dan doakan".

Perjalanan pulang kami diisi berbagai kisah tentang keutamaan-keutamaan diri manusia--mengapa dalam hidup yang baru singkat kami jalani ini sudah begitu banyak kebingungan yang kami rasakan, mengapa itu semua sering menganggu pikiran padahal sesungguhnya tidak signifikan, hingga diri sebagai subjek yang bagaikan "butiran debu", sepenuhnya insignifikan dalam kerumunan.

Untuk apa sebenarnya kita semua ada di sini, dipertemukan dengan mereka yang masih hidup dan bergulat dalam kehidupan sehari-hari yang bising, namun juga mendengarkan kisah-kisah mereka yang sudah mati dalam keutamaan?


-M O O N Y

Rabu, 08 Mei 2013

Can I just have one dinner with you all?

What is it like to pick up with these characters after a long time away?
Linklater I don't know about you guys, but I feel like Jesse and Celine are alive in some parallel universe at all times.
Hawke I feel that way, too.
Delpy You guys are so New Age.

Yep, The New York Times' interview with the three of 'em.

Minggu, 31 Maret 2013

Dylan Says: On Time


No one can ever do that.
snapshots from No Direction Home (2005)