"Menurut lo, siapa yang bikin (candi) Borobudur?"
"Orang-orang yang taat."
Hari Sabtu, 25 Mei 2013 yang lalu, meski perayaan Waisak di Borobudur kacau karena ulah beberapa orang yang tidak tahu tata krama, saya terhenyak karena jawaban seorang teman yang keberadaannya harus dilestarikan di muka bumi ini. Jawaban yang ia berikan resmi mengakhiri kepercayaan saya terhadap alien sebagai pembuat Candi Borobudur, apalagi pekerja-pekerja yang mengangkut batu-batu satu per satu seperti yang dibayangkan rezim Soeharto dan dipajang diorama-nya di Monumen Nasional.
Sebelumnya saya tidak pernah tahu persis apa yang saya cari dari sebuah perjalanan--sering kali hanya dimotivasi dari keinginan untuk kabur sejenak dan menari di tanah yang baru. Saya tidak sadar bahwa terdapat benang merah dari kota-kota yang saya datangi ini: sejarah, dari yang masih hidup dan yang sudah mati.
Beberapa bulan yang lalu saya mengunjungi nenek saya di Sumatra Barat. Beliau adalah seseorang yang kerap meminta saya, sejak di bangku SMA, untuk menuliskan kisah-kisah hidupnya sebelum beliau tiada. "Tugas" itu pernah terlaksana sebentar, sebelum akhirnya waktu dan segala hal lain membuatnya terhenti. Ketika menuliskan kisah hidup Oma--begitu saya memanggil beliau, saya sering terheran-heran karena terasa dari begitu jauh cerita-cerita itu datang. Tentang perang, tentang kain yang harus didagangkan dengan menempuh perjalanan berkilometer-kilometer jauhnya dengan berjalan kaki, juga tentang manusia yang bisa berjalan di antara hujan tanpa kebasahan. Hingga kini, saya tak pernah bisa memandangi wajah beliau tanpa bertanya dalam hati,
bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya hidup dan mengalami semua itu, lalu hidup di saat ini dan mengalami semua ini? Bagaimana rasanya melihat generasi yang malas, ketika pernah hidup di suatu masa saat hiduplah manusia-manusia yang bisa berjalan melewati hujan karena keutamaan hidup mereka?
Pada perjalanan yang belum lama kemarin, saya dan beberapa teman juga singgah di kampung halaman salah seorang teman dalam rombongan kami. Bertuturlah ia tentang seorang perempuan tua yang dipanggilnya Mbok, perempuan yang hidup lebih tua dari neneknya sendiri. Perempuan yang berkisah kepadanya tentang sosok Nyi Roro Kidul yang memberinya harta pusaka, sekaligus perempuan yang menemani nenek teman saya ini berdagang keliling kampung setiap hari. Teman saya datang untuk menemui si Mbok, yang memanggil semua cucunya dengan nama kecil teman saya. Tanpa disangka, si Mbok telah meninggal sebulan yang lalu. Teman saya termenung sebentar, sebelum akhirnya bercerita kepada kami bagaimana si Mbok meninggal. Melewati usia entah keberapa--mungkin delapan puluh, sembilan puluh atau seratus, si Mbok tak lagi mau makan menjelang hari-hari terakhirnya. Seorang ustadz datang ke rumah keluarga si Mbok dan bertanya apakah benar si Mbok telah meninggal dunia, karena ia mengaku didatangi si Mbok yang berkata, "Saya meninggal, tolong mandikan dan doakan".
Perjalanan pulang kami diisi berbagai kisah tentang keutamaan-keutamaan diri manusia--mengapa dalam hidup yang baru singkat kami jalani ini sudah begitu banyak kebingungan yang kami rasakan, mengapa itu semua sering menganggu pikiran padahal sesungguhnya tidak signifikan, hingga diri sebagai subjek yang bagaikan "butiran debu", sepenuhnya insignifikan dalam kerumunan.
Untuk apa sebenarnya kita semua ada di sini, dipertemukan dengan mereka yang masih hidup dan bergulat dalam kehidupan sehari-hari yang bising, namun juga mendengarkan kisah-kisah mereka yang sudah mati dalam keutamaan?
-M O O N Y