Minggu, 10 Februari 2019

Jaisalmer

These days comprise all things superficial and transient.
Conversations about the hardships of life or personal
achievement do nothing but allow you to realise how
boring people become as they grow older
and how everything surrounds you is built to make you
insusceptible to such boredom.

Here between the clouds, my futile existence only
insist to live freely through memories of
conversations that allowed me to think things through;
words of musicians who sing about lucid dreams,
places with obscure names like 9th & Hennepin,
the remaining gypsies, and desire to be hung and be dead
and be gone,
and;

all the quiet places I've been to in real life and in dreams
where women paused in between their journey
to sing and pray in an alley, no reasons required, but
in my head, i'd like to think, that they were simply
celebrating being
alive,

just like that
under the bright yellow sun.

Sabtu, 19 Mei 2018

Normalising intolerance

As I get older, seeking for the truth is not important anymore. I've been thinking about this pretty often when a line caught my attention today. Something along, the more chances we have to exchange opinions, the closer we get to the truth. "Get to the truth", not "we are to the truth". How are we supposed to find the answer of, or at least to contemplate on, anything that is not about ourselves? I would like to have a single day without anybody bothering me about whether this or that is "politically correct", or have my mind peacefully construct an idea without analysing its logical fallacy, please. And I would really appreciate if no one tries to impose his or her opinions about how one should live, please, the world is already clamorous as it is. And one of these days we just have to accept the fact that maybe that's not what we live for. The Truth. At least not in this lifetime.


Minggu, 11 Maret 2018

Minggu Sore

Ini sore yang santai. Minggu sore yang tidak menuntut apa-apa selain totalitas untuk menjadi malas. Gara-gara sebuah artikel tentang gayahidup "No Life", saya jadi suka kepikiran tentang waktu-waktu saya yang terbuang untuk perasaan bersalah yang tidak perlu atas pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai. Saya menukar perasaan bersalah itu sore ini dengan sesuatu yang lebih penting dan perlu: nostalgia, soalnya katanya nostalgia membuat kita merasa lebih terhubung dengan manusia lain dan membuat kita lebih murah hati. Di rumah ini, ibu dan nenek saya sedang duduk bersisian di depan televisi yang menayangkan film tentang anjing. Kucing kami di rumah, Felix, mengintip ke arah saya yang duduk di kamar adik laki-laki saya, menghadap laptop yang memasang suara Jason Ranti yang bernyanyi tentang anak seni bernama Stephanie. Di belakang saya, sepupu saya lelap tertidur. Namanya Dila. Dia dan adiknya, Firman, suka datang ke rumah kami setiap hari Minggu. Dia suka sekali bercerita dan tadi siang begitu datang ia langsung bercerita tentang hantu di kantornya, sementara Firman langsung mengambil gitar milik adik laki-laki saya dan duduk anteng di kursi makan mempelajari chord lagu "Donna, Donna". Setiap Minggu sore saya seperti dipaksa merasa tua. Ingat bertahun-tahun yang lalu mendengar suara azan di tepi danau perpustakaan kampus dari beberapa masjid yang seperti bersahut-sahutan. Ingat beberapa buku cerita di lemari yang, saat dilihat lagi, tanpa terasa sudah hampir 20 tahun umurnya. Ingat sebentar lagi mungkin sampai ke umur 30 dan ternyata masih saja takut mati. Ingat sore saat duduk-duduk di bukit dan melihat laba-laba kecil sekali merajut sarang sampai selesai bersama Ama. Ingat keluar-masuk toko-toko tua di pasar kota Palu dengan barang-barang pajangan yang mungkin tidak berubah sejak satu dekade yang lalu. Ingat waktu pertama kali baca novel Ronggeng Dukuh Paruk dan habis itu pinjam berkali-kali di perpustakaan SMA sampai jadi bersahabat dengan penjaganya, Pak Tugi, yang sekarang sudah pindah jaga perpustakaan di surga. Ingat buku diary SD dengan sampul gambar Sailor Moon, isinya cerita tentang sekolah di Jakarta yang beda banget sama sekolah di Bali--senang karena uang jajan naik drastis dari lima ratus ke dua ribu rupiah, tapi sedih karena di Jakarta kayaknya nggak ada tanaman pletekan yang kalau kena air bisa meledak. Eh, ternyata tanaman itu nama aslinya Ruellia tuberosa dan ada di mana-mana. Ingat murid les privat waktu kuliah, Jimi, yang tadinya nggak ngerti matematika sama sekali sampai bisa dapat 90 di ujian nasionalnya. Ingat pertama kali nonton di bioskop di jalan raya Kuta, bioskopnya sekarang udah nggak ada. Ingat waktu resign kerja pertama kali, Desember 2012, lalu dapat tiket pesawat ke Padang yang harganya 99 ribu saja, lalu pergi menyusul oma ke Batusangkar karena khawatir oma kok udah dua bulan di sana dan nggak ada tanda-tanda mau pulang ke Jakarta--eh, ternyata saya ikutan betah di sana dan nggak mau pulang. Ingat sehari sebelum ulang tahun ke-25 pura-pura diajak makan sate, eh nggak taunya diculik ke Puncak sama teman-teman satu kantor. Ingat setahun sebelumnya dikasih kado satu dus sembako sama teman-teman Pamflet untuk stok makanan saya dan adik laki-laki saya yang waktu itu cuma tinggal berdua di rumah. Ingat ulang tahun bertahun-tahun sebelumnya di Bali, ada kak Mimi yang selalu ingat tanggal ulang tahun saya dan meletakkan kado yang dibungkus rapi di dekat bantal, supaya setiap saya bangun saya langsung bisa lihat ada kado di sana. Ingat percakapan tentang film Samsara dan Waking Life, tentang ibu yang sudah bertahun-tahun tak ditemui, tentang krisis air dan perang antarwarga yang membuat bahan makanan menipis, dan tentang beda magisnya Gabriel Garcia Marquez dan Salman Rushdie bersama seorang teman. Ingat wihara kecil di dekat sungai Cimanuk, Indramayu, dan penjaganya yang tinggal cuma berdua dengan anak laki-lakinya, yang sebulan yang lalu saya dan Amrie datangi kembali dan ternyata penjaganya sudah ganti, yang bercerita ke kami bahwa Pak Yaya, penjaga yang lama, meninggal dunia enam bulan yang lalu karena serangan jantung saat sedang makan mie bersama anaknya. Ingat melihat gerhana matahari pertama kali di Bangka dan ingat bolu nanas asli Bangka yang enaaak sekali. Ingat kucing-kucing kami di rumah: Hedwig, Kerapu, Optik, Ripap, Gembul, dan kucing-kucing yang numpang tinggal temporer lainnya, yang mungkin sekarang lagi pada ngumpul bareng di surga kucing. Ingat mimpi berdiri di ujung dunia, mimpi terbang dan lihat banyak burung biru di atas gunung, dan mimpi lihat bulan ada dua kayak novel 1Q84.  Ingat teman-teman di kampus yang nggak rela saya nggak ikut wisuda, lalu pura-pura ngajak saya piknik di UI padahal bawain toga dan seikat bunga lalu nyuruh saya foto di pinggir danau untuk dikasih ke oma. Ingat semua teman, semua momen, semua hal-hal baik yang bikin saya kayak sekarang. Ingat macam-macam yang kalau dibiarkan bisa seperti selang mampet yang tiba-tiba dibersihkan lalu airnya mengucur deras ke mana-mana.

Minggu, 23 Juli 2017

Arundhati


".. I don't have the big idea. I don't have the arrogance to even want to have the big idea. But I believe the physics of resisting power is as old as the physics of accumulating power. That's what keeps the balance in the universe... the refusal to obey. I mean, what's a country? It's just an administrative unit, a glorified municipality. Why do we imbue it with esoteric meaning and protect it with nuclear bombs? I can't bow down to a municipality, it's just not intelligent. The bastards will do what they have to do, and we'll do what we have to do. Even if they annihilate us, we'll go down on the other side."

Arundhati Roy in Things that can & cannot be said. You, Ma'am, repeatedly speak to my soul.

Sabtu, 15 April 2017

Oxford St.

As my feet stepped slowly on the pavement in Oxford Street that day, I couldn't help not to regret my inability to belong in the present. People, colors, cultures and civilizations, all blended before my eyes, all fascinated me and seemed to fix my feet to the ground. I heard a woman shouts "Jesus is our savior", and I thought, whoa, there are so many things that need attention in this fucked up world. Too many things, yes, and everything seems to refuse to be ceased these days. The word 'care' doesn't even make sense anymore. What do you care about? What, do you even care?

Is confusion the only thing that unites us as human?

Sabtu, 25 Maret 2017

Buku Wajib

Pekan lalu, seorang teman mengajak saya ke toko buku Post di Pasar Santa, Jakarta, untuk mampir membeli buku. Dia berniat membelikan saya buku Howl karangan Allen Ginsberg. Kami tiba di sana di tengah hujan lebat, toko yang terlambat buka, dan penjaga toko hari itu yang bilang bahwa stok buku Howl sudah habis (lagi). Teman saya menawarkan saya untuk membeli buku lain, dan saat itu, saya tidak ragu-ragu untuk minta dibelikan Hidup di Luar Tempurung-nya Benedict Anderson. Sudah agak lama, buku ini direkomendasikan oleh beberapa orang yang saya kenal, tapi saya tergerak untuk membaca ini segera setelah saya bertemu teman saya di Pamflet, Fahmi, salah satu pembaca buku sejarah tergiat yang pernah saya kenal.

Saya tahu buku ini akan segera jadi buku favorit saya setelah saya membaca halaman pertamanya. Sampai di halaman 105, persis di tamatnya bab "Kerja Lapangan", saya tahu buku ini akan jadi salah satu buku wajib saya setelah Catatan Seorang Demonstran dan Motorcycle Diaries. Ada banyak buku yang suka saya baca berulang-ulang, tapi dua buku tadi adalah dua buku yang paling saya sayang--dalam arti saya bawa ke mana-mana dan saya coreti dan saya lipat-lipat sampai kelihatan jelek. Yang pertama semacam 'tuntunan' masa SMA dan kuliah, yang kedua 'tuntunan' di tahun-tahun pertama bekerja.

Membaca Hidup di Luar Tempurung saat ini jadi terasa seperti semacam cambukan untuk memikirkan banyak hal secara lebih serius. Saya belum selesai membacanya, tetapi bagaimana Ben Anderson mengartikulasikan sejarah hidup dan pikirannya betul-betul membuat saya terkesan. Sekarang ini saya baru selesai membaca bab Kerja Lapangan yang membuat saya sulit tidur. Setelah selesai, saya akan cerita kenapa.

Minggu, 19 Maret 2017

Modeh Ani di era internet!


Julus adalah salah satu track yang ada di album Junun, proyek kolaborasi penyanyi Sufi dari Israel, Shye-Ben Tzur, bareng Jonny Greenwood dan The Rajasthan Express. Saya pertama kali tahu tentang album ini dari teman saya, Fani, dan sebenarnya tercabik antara harus bilang makasih atau sialan lo, Fan. Soalnya, saya jadi susah buat berhenti dengerin album ini bahkan walaupun saya nggak tahu arti dari lirik lagu-lagunya, padahal saya jarang-jarang suka lagu yang saya nggak bisa ngerti maksudnya. Judul dan lirik tiap lagu dalam album ini diambil dari bahasa Ibrani, Hindi, dan Urdu, dan kecuali niat banget, kayaknya kita cuma bisa mencari arti dari tiap judulnya di Internet.

Baru malam ini saya coba Googling lagi pakai kata kunci "Junun" dan "Lyrics" dan ternyata sudah ada yang mengunggah buklet lirik albumnya di Reddit! Jadi, makasih banyak Tor Browser, makasih banyak untuk user dengan id reckonator, saya jadi tahu kalau lagu Julus ternyata betulan untuk Imam Ali. *nangis terharu*

Yang malas buka Reddit pakai VPN atau Tor, silakan langsung unduh bukletnya di sini. ;-)