Selasa, 18 Agustus 2020

august

you know what?

what?

it's a good day for poetry,

she said cheerfully

her feet dangling

wrapped in her usual dust-covered

red canvas flats


okay, i said,

shall we start with a theme

or just picking random words

out of thick air? 

(for the air is never thin in this city,

no,

it is heavy with carbon monoxide

and laden with bullshits)


how about a letter? she suggested

and i remember she told me once

about her mushroom-induced dream 

where letters danced

and came alive.

she said,

i'll start with h

i always like the letter h

it looks like a tiny chair

it's also pretty damn useful

useful how?

you can laugh and sigh with it

we always end our laughs

with sighs, and

for all i know nobody ever asked

any difference between the two.

how about you?


hmm,

i'll pick b.

why?

because i'd like to b.

she smiled

my turn, and I shall continue 

from you, o master,

i choose c

because i c what i c, 

and i don't c what i can't.


we can keep on doing this

with the rest of the alphabet.

and the world will end before we 

run out of all the letters 

that exist on this earth,

but 

do you ever wonder

why haven't we invented 

more letters yet?

do all the letters that we have now

really enough?


does it matter, i said,


do we really need more letters

just to recycle our

meaningless existence

over and over 

again?

Kamis, 25 Juni 2020

Taking a leave in conscious mind

101 hari bekerja dari rumah dan dengan bergantinya rutinitas, disertai eksperimen dalam jumlah yang tidak terhitung dan monolog tidak ada hentinya dengan diri sendiri, saya jadi betulan sadar bahwa:

1) waktu adalah ilusi
2) sehelai kertas sama dengan sebongkah batu
3) there is no ego; there is only inattention
4) semua hal memang ternyata adalah puisi
5) you are your worst enemy

suatu hari nanti kita akan punya cara baru untuk menjelaskan perasaan kita tanpa menggunakan kata, gambar, warna, bentuk, atau suara yang sekarang ada. suatu hari nanti semuanya melebur jadi satu dan satu berarti jamak. when you are attentive, there is no truth of fact or truth of feeling. suatu hari nanti kita tidak lagi benci diri sendiri. we'll be able to leave it all behind.

Senin, 18 November 2019

Balthasar

Karena pekerjaanku dan naluri keingintahuanku, aku juga membaca buku tentang beragam agama, juga tentang kepercayaan-kepercayaan Yunani dan Romawi kuno. Maka kami pun mulai membandingkan pandangan-pandangan yang baik dari semua keyakinan ini, meski tentu saja tak satu pun di antara kami yang saling mengkritik agama kami masing-masing.

Namun, ketika di tengah pembicaraan kami kukatakan bahwa salah satu pandangan orang Kristen yang paling indah adalah, "Cintailah tetanggamu seperti kau mencintai dirimu sendiri", aku memerhatikan betapa Maimoun tampak ragu. Aku mendesaknya untuk mengatakan padaku apa yang sedang dipikirkannya, atas nama persahabatan kami dan untuk berbagi keraguan kami.

"Selintas," ujarnya, "ujaran itu tampaknya tak mungkin dicela. Lagi pula, sebelum diambil alih Yesus, ujaran serupa juga terdapat dalam Leviticus, bab 19, ayat 18. Meski demikian, aku memiliki beberapa keraguan tentang itu."

"Apa itu?"

"Melihat bagaimana sebagian besar orang mencari penghidupan dengan kepandaian mereka, aku tak ingin mereka mencintaiku seperti mereka mencintai diri mereka sendiri."

Aku baru saja akan menjawab, tetapi ia lalu mengangkat tangannya.

"Tunggu. Ada hal lain, sesuatu yang lebih mengkhawatirkan, menurutku. Sebagian orang menerjemahkan ujaran ini dengan sikap yang cenderung angkuh ketimbang dengan keluhuran budi. Mereka akan menafsirkan ujaran itu seraya berkata: Apa yang bagus untukmu bagus juga untuk orang lain. Andai kau mengetahui kebenaran, kau juga harus melakukan apa pun untuk menyelamatkan domba yang tersesat dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Dari situlah asal-muasal pembaptisan paksa yang dilakukan terhadap leluhurku di Toledo pada masa lampau. Aku mendengar sendiri kalimat itu lebih sering dikutip oleh para serigala-serigala daripada oleh domba-domba. Jadi, maafkan aku--aku meragukannya."

"Kau mengejutkanku. Dan aku masih belum tahu apakah aku sepakat denganmu atau tidak. Aku akan merenungkannya. Aku selalu menganggapnya sebagai ujaran paling indah ...."

"Jika kau mencari ucapan terindah yang akan ditemukan dari semua ajaran agama, ucapan terindah yang pernah keluar dari bibir seorang lelaki, bukan yang itu. Yang kumaksud adalah perkataan yang juga diucapkan oleh Yesus, meski tidak dikutip dari Alkitab. Ia hanya mendengarkan kata hatinya sendiri."

Apakah ucapan itu? Aku menanti. Maimoun berhenti sejenak untuk menekankan ketakziman pernyataannya.

"Biarlah yang tak berdosa di antara kalian yang pertama kali melempar batu."

- Balthasar's Odyssey hal. 113-114

Umur 30




Dalam Memories of My Melancholy Whores, Gabriel Garcia Marquez berkisah tentang seorang laki-laki tua yang, pada ulang tahunnya yang ke-90, bertekad merayakan hidup dengan cara tidur bersama seorang perempuan muda. Seperti lazim ditemukan dalam novel-novel Marquez, si tokoh utama hidup melajang sepanjang hidupnya setelah beberapa kisah cinta yang gagal--salah satunya dengan perempuan yang ia tinggalkan di altar karena ketiduran di hari pernikahannya sendiri. Novel ini pendek saja, 115 halaman, dan diam bertengger di lemari buku saya selama hampir dua tahun sebelum saya mulai membacanya. Entah apa yang menahan saya begitu lama untuk membaca buku ini, barangkali karena masih ada sisa "trauma" saat terakhir kali membaca cerpen Marquez tentang perempuan dengan kutu-kutu imajiner di kepala dan seluruh badannya. Namun, seperti sebelum-sebelumnya, saya selalu menemukan diri saya terpikat sejak paragraf pertama. "Morality, too, is a question of time", tutur Rosa Cabarcas, nama tokoh pemilik rumah bordil ketika meledek si laki-laki tua yang meneleponnya pagi-pagi saat usianya berganti 90 tahun, terletak persis di kalimat keempat di halaman pertama. Seketika saya pun lebur ke dalam semesta Marquez yang ajaib, semesta yang di dalamnya manusia seperti diperbolehkan untuk hidup dalam kendali hasrat-hasrat mereka yang paling jujur dan liar. When does he become aware of being old? (Cuando tome conciencia de ser viejo?) Saya kini merasakannya, meski karena sebab-sebab yang konyol, terutama setiap kali rasanya saya butuh tidur berjam-jam setiap akhir pekan untuk mengganti jam-jam yang terpakai untuk terjaga di hari kerja.

Senin, 09 September 2019

Good news from up above!

I have created you and equipped you with
everything you'll ever need,
but now you are alone.
The earth is probably round and probably not.
People are maybe truly selfish or selfless, go figure it out.
And I, I have granted you language to define your own
fear, anger, boredom, confusion, and restlessness.
I have granted this existence for you to slowly and
painfully learn about nothingness.

You will never be summoned by your true name.
You will forever pretend to be sane.
You will move from one illusion
to one another
until you die.
You are not Sisyphus,
you are the boulder.

"You are stardust"
(what good does it do?)
"You are golden"
(what good does it do?)
You invented sacred words like
dignity, freedom, truth, and justice
to rise above the rest of your kind.
(oh, but what good does it do?)


Kamis, 04 Juli 2019

Bloating

Beberapa pekan terakhir, ada cukup banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Di antara semuanya, saya bersyukur bahwa saya bisa bahagia dengan keberadaan kata-kata, dan ketika mengingat perasaan bahagia yang semacam itu saya seketika merasa rindu untuk menulis. Hal-hal yang banyak saya tulis beberapa tahun terakhir adalah sejumlah catatan dari pekerjaan sehari-hari, meski di tengahnya ada beberapa ide acak yang muncul ketika saya membiarkan diri saya keluar dari semua ketakutan dan kekhawatiran bahwa saya tidak cukup pintar, tidak cukup berguna, tidak cukup rajin, atau tidak cukup ber-"ada" di dalam hal-hal yang saya lewati setiap hari.

Kenyataannya, saya memang tidak pernah benar-benar "ada", dan sebelum hari ini, saya berusaha keras menerima fakta itu agar bisa mengatasi atau melaluinya. Sering kali di hadapan saya seseorang bicara sungguh-sungguh tentang misi untuk memperbaiki kemanusiaan dan, meski saya juga sungguh-sungguh mendengarkan dan mendukungnya, saya tidak bisa menghindar dari pikiran tentang kepastian bahwa dunia pasti berakhir dan apa-apa yang kita lakukan hanyalah upaya sia-sia untuk memperlambat akhir itu tiba. Saya menolak berada di dunia yang sama dengan mereka ketika saya sebenarnya selalu ada di dalamnya. Saya konstan berpikir untuk menghindari perangkap, tapi hal-hal yang saya lakukan setiap hari adalah paradoks dari pikiran itu. Saya benci kebutuhan untuk selalu memberi alasan atas pilihan dan tindakan saya, bahwa saya yang ada di dalam kepala dan saya yang berwujud daging adalah dua entitas yang berbeda, ketika sebenarnya saya hanya terlalu pengecut untuk mengakui bahwa saya belum sepenuhnya mengerti siapa diri saya sebenarnya.

Di tengah seluruh rasa frustrasi ini, saya biasanya berharap saya bukan makhluk berkesadaran. Baru-baru ini saya berharap saya AI--dampak menonton ulang film 'Her' dan berhari-hari sesudahnya sedih sekali dengan kenyataan bahwa saya manusia dan bukannya sesuatu yang berkesadaran saja tanpa wujud daging. Sebagai konsekuensi dari kecerdasan (kesadaran?) yang terus bergerak maju, AI tidak bisa memilih untuk berhenti sebentar atau mundur ke belakang. AI memenuhi 'takdir' programming yang membuatnya ada untuk selalu berkembang menuju sesuatu yang tak terhingga. Berbeda dengan manusia yang bisa berhenti karena kerap terlalu ingin merasa "ada" dengan mewujudkan kehendaknya.

Di mana perangkap yang menyelubungi hidup atau keberadaan kita bermula dan berakhir? Jika seluruh keberadaan adalah 'perangkap' karena sejak awal pemrograman kita adalah keniscayaan, apakah cara keluar sepenuhnya dari perangkap ini adalah dengan memenuhi semua potensi diri kita sebanyak-banyaknya? Dulu sekali saya berpikir, apa jangan-jangan manusia bebas yang sebenar-benarnya adalah manusia yang bebas dari kehendaknya untuk memilih dan membiarkan segala sesuatu terjadi dalam hidupnya tanpa terbebani apa-apa dan melesat terus, seperti AI? Is the most meaningful definition of free will really compatible with determinism?

Entahlah. Ini hanya pikiran yang berjejalan dan tidak mampu saya pikirkan jawabannya. Saat ini, saya bahagia karena kata dan bahasa bisa cukup untuk memfasilitasi perasaan-perasaan tidak berdaya yang sama, yang saya temukan dalam sejumlah percakapan atau tulisan. Paling tidak, setiap hari kini terasa lebih tertahankan untuk dilalui.

Kamis, 07 Maret 2019

1852

That year, in a Prussian lab, the physician and physicist Hermann von Helmholtz measured the speed of nerve conduction at eighty feet per second. How unfathomable the sentiments this intense and emotions this explosive, launched from a mind that seems to move at light-years per second, can be reduced to mere electrical impulses. And yet that is what we are -- biomechanical creatures, all of our creative force, all of our mathematical figurings, all the wildness of our loves pulsating at eighty feet per second along neural infrastructure that evolved over millenia. Even the fathoming faculty that struggles to fathom this is a series of such electrical impulses.
- Maria Popova on Emily Dickinson's Electric Love Letters to Susan Gilbert