Selasa, 20 Mei 2008

Euforia


photo by Astari Nindya Poetri


Dramatis. Itu kesan saya setelah menghadiri Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional di Gelora Bung Karno hari ini.

Secara keseluruhan, acaranya dapat dikatakan luar biasa. 20 ribu penonton, ratusan pengisi acara, dan ditambah : Deklarasi Indonesia Bisa! oleh Bapak Presiden SBY sendiri.

Akhir-akhir ini, saya sering diserang 'derita', bahwa apapun yang menggejala belakangan ini dan tampaknya menjadi pusat perhatian banyak orang adalah tak lebih dari sebuah euforia. Kalau bahasa sinisnya, yaah, bisa dibilang cuma tren lah. Misalnya batik dimana-mana. Saya tidak lantas menyimpulkan kalau semua orang yang pakai batik itu cuma ikut-ikutan tren, lho. Nyatanya Iwan Tirta sudah sejak dulu bikin batik. Saya cuma banyak dikecewakan oleh fakta bahwa orang-orang yang dulu 'ogah' pakai batik untuk sehari-hari sekarang jadi sudi pakai batik. Karena tren, itu saja.

Kabar baiknya, lama-kelamaan tren batik ini semakin meresap ke dalam nilai-nilai yang dianut setiap individu. Jadi, tidak hanya sekedar batik di permukaan saja, tapi ada kebanggaan di situ. Saya anggap ini adalah kebanggaan orisinil, bahwa kali ini yang jadi tren adalah betul-betul milik kita sendiri.

Minggu ini 'penderitaan' itu datang lagi. Saya mendengarkan radio, dan di setiap stasiun rasanya mendengung-dengungkan hal yang sama : Hari Kebangkitan Nasional. Di TV pun begitu. Stasiun TV kita diserang oleh iklan-iklan serba patriotis (yang anehnya, walaupun saya pandang sinis, tetap bikin saya kadang-kadang berkaca-kaca juga. Tau iklan petinggi PAN yang ada Chairil Anwarnya itu?) Mula-mula saya juga berpikir semua bla-bla-bla tentang Harkitnas ini hanya 'euforia' juga. Apalagi momennya pas betul, join dengan euforia Thomas & Uber Cup, wafatnya Sophan Sophiaan, dan Nagabonar 1.

Kalau saya ingat kata yang bikin derita itu, saya cuma ingat pada satu hal. Yaitu sesuatu yang hanya akan menjadi 'permukaan' saja. Seperti euforia reformasi, gitu. Nyatanya demokrasi kan hanya sekedar prosedural saja, dan seperti apa demokrasi yang sesungguhnya kan masih sangat jauh bagi bangsa kita. Yah, gimana mau demokrasi kalau Ahmadiyah saja dilarang? :p

Tapi malam ini saya sangat tersadarkan, betapa sinis dan sempitnya cara saya memaknai sebuah euforia. Malam ini, saya menjadi bagian dari euforia itu. Dan ada emosi yang menggerakkan kami semua, ketika mendengar Deklarasi Indonesia Bisa! oleh Pak SBY dengan suara lantang itu. Emosi itu adalah sebuah euforia, dan ternyata euforia bukan sebuah hal yang hanya menempel di permukaan, namun juga sebuah penggerak hati nurani.
Belakangan, saya juga menyadari bahwa 'cap jelek' saya terhadap euforia demokrasi harus diralat. Paling tidak, negara kita belajar untuk berdemokrasi. Dan ternyata demokratisasi memerlukan waktu yang sangaaat lama untuk dapat melembaga di dalam masyarakat.

Paling tidak, saya juga menyadari bahwa ternyata teman-teman di sekeliling saya malam ini juga merasakan hal yang sama. Kami semua sama-sama tercekat di kerongkongan saat melihat obor tanda deklarasi dan kebangkitan pemuda dinyalakan.

Euforia Harkitnas, Batik, Nasionalisme, ternyata sama seperti euforia demokrasi. Semuanya perlu waktu untuk melembaga menjadi penggerak hati nurani tiap individu. Namun semuanya akan muncul menjadi satu: Kebanggaan yang orisinil. Ya, semuanya milik Indonesia sendiri! :)



-M O O N Y
(Selamat Hari Raya Waisak untuk yang merayakan! Hmm, tadi di Borobudur pasti rame ya?)
(Malam ini PURNAMAAAAA!)

Sabtu, 03 Mei 2008

Resmi Sudah : Saya Benci Acara Keluarga

Kayaknya judul ini agak berlebihan dan bikin sebel buat sebagian orang yah. Wajar sih, banyak orang (well, at least people i know) pengen sering-sering kumpul sama keluarga besarnya, tapi dihalangi ama kendala-kendala jarak maupun waktu.

Mudah-mudahan dengan membaca ini mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya beruntung! Hahahahahaha.

3 HAL YANG SAYA BENCI DARI ACARA KELUARGA

1. Fakta bahwa kita harus hadir-hanya untuk mengalami teror mental.
Aah, come on! Haruskah setiap tetua menanyakan hal yang sama dari tahun ke tahun? "Kuliah dimana?", "Jurusan apa?", "Semester berapa?", atau bahkan "Udah punya pacar belum?". Geez, mereka tuh nanya karena peduli atau emang cuma nosy? Logikanya kan,kalo emang bener-bener peduli, mereka hafal dong jawabannya, dan ngerti progressnya dari tahun ke tahun. Apa harus anak-anak muda aja yang ngafalin mereka, dan mereka enggak harus sopan ke anak muda secara timbal balik?

2. Anak-anak kecil.
Sebenarnya saya bukanlah pembenci anak-anak. Beberapa orang pasti tahu saya si tante-girang, secara harafiah, lho :). Saya pemuja makhluk-makhluk bernama balita dengan pipi-pipi tembem seperti Dulce Maria. Tapi adakah yang tahu betapa lengketnya lantai rumah kalau banyak anak kecil berkeliaran? Serius deh, mereka abis jalan-jalan dari mana aja sih? Atau telapak kaki mereka secara misterius mengeluarkan enzim super-lengket ya?

3. Lagu-lagu 'ethnical'-siksaan tanpa henti.
Hmmph. Yang ini tiada bandingannya deh. Sesi lagu-lagu padang ini, yang biasanya sepaket dengan karaoke dan line dance, dimulai saat hari siang menjelang sore. Tahu kan, lazimnya itu waktu-waktu di saat perut kekenyangan dan mata mulai berat. Yang paling saya inginkan hanya tidur-tiduran di depan TV bersama sepupu-sepupu lainnya, sambil nonton acara apapun yang bisa bikin ketawa. Tapi tidak, kebahagiaan itu hanya utopis. Angan- angan semacam itu kerap kali rusak dengan teriakan salah satu tante (kalau bisa yang paling galak), "OOOI, ANAK-ANAK GADIIS!!". Celaka dua belas. Teriakan ini akan direspons dengan tiga tindakan. Pertama, saudara-saudara sepupu perempuan saya yang lebih tua akan pura-pura tidur. Kedua, tante saya yang berkomando tadi akan menangkap basah siapa saja yang masih terjaga untuk jadi umpan. Ketiga, saudara-saudara sepupu laki-laki saya akan tersenyum-senyum, "Ha-ha. Gotcha!".
*TOLOONG! INI DISKRIMINASI!*

Tambahan, jika anda di posisi saya, anda akan mengalami perasaan yang tercabik-cabik ketika
melihat para tetua dengan khidmat menyanyikan lagu minang dengan mata setengah terpejam, dan setelah lagunya selesai dan anda baru saja akan menarik napas lega, mereka berkata, "Diulang sekali lagi, ya? Lagunya bagus..", padahal ITU LAGU YANG SAMA YANG SELALU MEREKA NYANYIKAN SELAMA DUA TAHUN BELAKANGAN SETIAP ADA ACARA KELUARGA!!!!!

Tambahan lagi, lagu itu akan diulang untuk dinyanyikan, tapi dengan formasi penyanyi yang berbeda. Misalnya, versi 1 dinyanyikan oleh tante A dan tante B, nanti versi 2 akan dinyanyikan oleh tante C dan tante D. Begitu seterusnya.

Sumpah. Yang anda inginkan hanya sesi head-banging tanpa henti, kalau bisa sampai anda amnesia dan lupa kalau keluarga neurotik di hadapan anda adalah keluarga anda sendiri.


Aaah. Tapi keluarga itu penting, Maulida. Ingat, "Harta yang paling berharga adalah keluarga.."-atau apa deh itu, theme song Keluarga Cemara-nya Arswendo Atmowiloto di RCTI jaman saya SD. Tapi tetap saja, saya mau GILA.

Bagi non-padang di luar sana, bersyukurlah!!


-M O O N Y
yang baru saja menghabiskan hari pada suatu acara lamaran sepupunya dan mulai berpikir untuk pindah identitas etnis saja.


Kamis, 01 Mei 2008

Telur, Ayam, dan Bagaimana Mereka Seharusnya Linear, Bukan Siklis

Note : Ada satu orang yang kalau baca postingan ini, dijamin, bakal memutar bola matanya dan dalam hati berkata, "oh, pleeease." Hahahaha, I know we won't get tired with this never-ending discussion, mate! Gak di kelas, gak di jalan berangkat dan pulang, gak di telepon! :)
***

Suatu kali, saya dan teman baik saya diam-diam mendiskusikan tentang telur-ayam. Bukan, bukan telur dan ayam secara harafiah dan kaitannya dengan kadar protein, tetapi telur dan ayam sebagai 'lingkaran-setan', sebuah analogi dari kasus-kasus yang entah mana awal, mana belakangan.

Mengapa diam-diam? Kami mendiskusikannya di tengah-tengah suasana kelas, sembari sedikit mendengarkan omongan si dosen. Dari kuliah Sistem Ekonomi Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang lebih dulu akan mendorong perekonomian, pertumbuhan ekonomi atau pemerataan pendapatan? Dari kuliah Filsafat Ilmu Sosial, kamu dapat pertanyaan, agama itu membentuk kebudayaan atau kebudayaan merupakan produk peradaban? Dan dari kuliah Sistem Politik Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang jadi 'panglima', kebijakan politik atau kebijakan ekonomi?

Sesuai namanya, saya memang akan bergumam dalam hati "Aah, setan!" lantas melirik kepada teman saya itu dan kami berdua sama-sama bergumam "Lagi-lagi telur-ayam nih.."
Tentu, biasanya teman saya ini, yang orangnya sangat normatif, akan berkomentar "Itu sesuatu yang resiprokal, kawan..". Namun menit-menit kemudian, kami berdua akan ngotot-ngototan, diakhiri dengan saya tetap setia pada pendapat saya, dia juga begitu. Hehehe..

Maaf-maaf saja. Saya tidak bisa terima kalau sesuatu ada karena memiliki fungsi. Saya lebih puas dengan penjelasan bahwa sesuatu itu menjadi berfungsi karena ada.

Maka itu, hal yang paling bikin saya kesal saat ini adalah tidak adanya hal di dunia ini yang dijelaskan dari satu sudut pandang saja, dan bagaimana banyak hal yang menuntut manusia untuk bebas-nilai, padahal itu tidak mungkin. Manusia adalah makhluk yang bernilai, bukan manusianya yang bernilai, tapi nilai itu sendiri.

Lantas, perdebatan kami pernah suatu kali berakhir sengit. Teman saya ini berkata, "Mungkin di masa depan kita jadi bermusuhan, ya?". Hahahahaha! Saya cuma berkomentar, "Hmm, kalau musuhan karena ideologi keren banget yah? Kayak Soekarno-Hatta dong."

Yaah, mau telur-ayam duluan mana, kek, saya sih tetap pilih ayam. Bukan karena apa-apa lho, soalnya saya lebih doyan ayam! :)


-M O O N Y

(ssttt, jangan-jangan teman saya itu bakal milih telur karena dia lebih doyan telur? wah, bisa debat kusir lagi nih, hihihihihi...)



Percakapan Aku dan Kuda #2

"Kamu tidak bosan, melihat lurus-lurus begitu ya, kuda?"

"Ah, tidak juga. Kalau aku tidak lihat-lihat kiri atau kanan, aku tidak rugi apa-apa. Aku toh tidak paham juga dengan konsep-konsep kiri dan kanan."

"Begitu? Kamu tidak merasa khawatir dengan apa-apa yang di depan dan belakangmu?"

"Tidak juga. Karena aku hanya tahu depan, aku bisa terus maju. Tidak seperti kamu, manusia, terlalu banyak menganalisa kiri kanan, atas bawah, depan belakang, segala tetek bengek semacam itu. Hidupku sederhana. Apa yang kulihat adalah apa yang nyata, yang ada di depan mata."

Kuda terus melaju, membiarkan manusia sejenak termangu-mangu, mengunyah kata demi kata yang dilontarkan si kuda satu persatu.

"Kamu sendiri, bagaimana? Lensa warna apa yang kamu gunakan sekarang?"

"Sekarang lensa kacamataku bening, gagangnya berwarna gading. Tak lagi berwarna."

"Oh, bening? Aku ingat dahulu kamu bercerita kamu gemar memakai warna-warna yang cerah."

"Kuning maksudmu ya, kuda? Itu dulu, saat kuning sedang trend. Saat itu warna lain tidak populer. Kau akan lihat dimana-mana orang memakai kacamata yang sama. Kuning itu tadi."

"Ah, masa? Lantas mengapa kau ganti warna, apa itu, merah?"

"Saat itu kuning sudah ketinggalan zaman, kuda. Memakai merah dianggap lebih gaya. Merah warnanya kaum muda, kaum yang membuat roda sejarah bergerak ke alur yang berbeda."

"Lantas?" tanya kuda lagi.

"Lantas merah mengingatkanku pada darah, pada saat-saat genting tanpa istirah. Kucopot lensa, kembali kulihat realita sarat warna. Ternyata benar, kuda, di luar sana tetap sama."

"Jadi sekarang kau pakai warna apa, manusia? Biru, hijau, atau oranye mungkin? Apa yang sedang populer saat ini?"

"Ah, peduli setan apa yang populer saat ini! Lebih baik aku pakai kacamata seperti kamu saja ya, kuda? Toh tidak ada bedanya dengan kacamata lensa berwarna. Yang dilihat juga itu-itu saja."

"Hoo, begitu? Mungkin bukan itu-itu saja yang dilihat, tapi begitu-begitu saja caramu melihat.."


-M O O N Y

Jumat, 11 April 2008

This is How Sapardi Creates a Poem

Ceritanya, ada seseorang yang, tidak disangka-sangka, bertemu dengan Sapardi Djoko Damono.

Ceritanya lagi, ia terkesan dengan pernyataan Pak Sapardi, "Saya ini penyair yang tugasnya hanya menulis puisi, jadi kalau diminta membaca puisi, saya bingung.." (atau kira-kira begitu deh, hehe).

Ceritanya lagi-lagi, ia tambah terkesan dengan gurauan Pak Sapardi, "Ah, saya jadi merasa seperti seorang selebriti.."--ketika ia minta foto bersama dan tanda tangan.

Hmm, disaat orang-orang lain mati-matian ingin jadi selebriti, atau bahkan merasa dirinya selebriti.. Saya tak habis-habisnya terkagum-kagum.***


..Malam itu seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun duduk di tengah pelataran rumahnya, usai bermain galasin. Ia biasa lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di luar dan hanya berada di dalam rumah jika harus makan, tidur, dan kadang-kadang belajar. Ketika itu teman-teman sebayanya sudah pulang ke rumah masing-masing dan karenanya suasana yang sejak sore ribut tiba-tiba menjadi senyap. Di tengah pelataran luas milik neneknya ia menengadah dan bertanya dalam hati apa gerangan yang ada di luar langit, dan apa pula yang
ada di luar-luar langit sana. Pertanyaan itu mungkin timbul karena ia dididik oleh masyarakat yang, di samping percaya akan adanya batas, telah menciptakan ungkapan "langit tidak terbatas"-- dan ia tentu saja tidak mampu memahami dua pengertian yang tampaknya bertentangan itu.

Pada tahun 1971, lebih dari 20 tahun sesudah "peristiwa" yang menimpanya itu ia menulis sebuah sajak sebagai berikut :

Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar-luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata "biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya."

--Diambil dari pidato penerimaan Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk Kesusastraan oleh Sapardi Djoko Damono.


- M O O N Y
"Ah, salah satu mimpiku terwujud sudah!"

Jumat, 04 April 2008

Antara Saya, Emha, Umbu, dan Wayan Tidak Ada Hubungan Apapun

Note : Cerpen ini saya copy-paste dari http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0619/bud1.html
tentang seorang penyair yang namanya sering muncul di novel-novel sastra, Umbu Landu Paranggi, tapi sosoknya 'gaib'. Kabarnya, dia juga guru spiritualnya Emha Ainun Nadjib waktu masih 'mbambhung' di Yogyakarta. Oke, tanpa banyak cingcong, happy reading! :)

Lelaki Tua dan Tas Kresek*

Cerpen Wayan Sunarta

Hampir semua penduduk di kota kecil itu, terutama kusir dokar dan penjaja batu akik, mengenal lelaki tua yang suka menenteng tas kresek itu. Di kalangan kusir dokar, lelaki tua yang tubuhnya masih sehat dan tegap itu, biasa dipanggil Landu. Sedangkan di kalangan penjaja batu akik, lelaki yang topinya hampir tidak pernah lepas dari kepalanya itu, suka dipanggil Ambu.

Begitulah, lelaki yang cenderung pendiam itu, memiliki dua nama kesayangan: Landu dan Ambu. Landu adalah Ambu, dan Ambu tiada lain adalah Landu. Namun, sesungguhnya tak seorang pun penghuni kota yang tahu nama asli lelaki tua yang berwajah bersih namun cenderung melankolis itu. Meski Landu sudah hampir setahun gentayangan di kota itu. Sebagaimana nama aslinya, tak seorang pun penghuni kota yang tahu apakah Landu memiliki keluarga atau sanak famili. Apakah ia punya anak atau cucu? Apa pekerjaannya? Bahkan rumah lelaki tua itu pun penghuni kota tidak tahu-menahu. Dan memang penghuni kota yang ramah-ramah itu tidak begitu mempersoalkannya. Yang penting Ambu tidak membuat keonaran atau mengganggu ketenteraman kota.

Namun kemisteriusan Landu bukannya tidak mengundang rasa ingin tahu dan penasaran. Mereka tahu lelaki tua yang sudah pantas disebut kakek itu termasuk orang yang sangat baik, ramah, sabar dan santun pada penghuni kota. Misalnya, ketika berpapasan di jalan dengan warga kota, Landu selalu senyum kecil, dan setelah itu dengan tergesa-gesa melanjutnya langkahnya yang panjang-panjang. Tidak banyak cakap, hanya senyum kecil saja. Dan warga kota sudah lama memakluminya. Namun rasa penasaran terhadap sosok Landu telah menghinggapi pikiran-pikiran anak-anak muda kota itu.

Namanya juga anak muda, seringkali suka pada hal-hal yang berbau petualangan dan misteri. Maka beberapa anak muda pernah melacak jejak Landu, untuk sekadar mengetahui di mana lelaki tua itu menghentikan langkahnya dan membuka daun pintu dan disambut oleh cucu-cucunya yang mungkin saja masih kecil-kecil. Namun sayang, kaki Ambu bukannya melangkah ke arah rumah atau yang menyerupai rumah. Dari kejauhan, dengan kecewa anak-anak muda itu melihat Landu menghentikan langkahnya pada sebuah tikungan, dan asyik bercengkerama dengan para kusir dokar.

Di pangkalan dokar itulah Landu biasanya menghabiskan waktunya, hanya dengan ngobrol, atau sekadar mengusap-usap kepala kuda. Dan biasanya, kuda-kuda itu selalu menanti belaian lembut tangan Landu. Pada saat-saat seperti itu tampak darah keayahan Landu mengalir memenuhi wajahnya yang bersih. Dan kuda-kuda itu lebih meyerupai anak-anak yang mengeluh pada ayah karena letih seharian bekerja.

Landu lebih memahami perasaan kuda ketimbang para kusir yang kerjanya hanya melecut dan memaksa kuda-kuda itu bekerja siang-malam. Namun Landu tidak terlalu berani, atau lebih tepatnya tidak sampai hati, menyampaikan keluhan kuda-kuda itu kepada kusirnya. Baginya, kuda dan kusir sama-sama menderita, hanya berbeda peranan saja. Apalagi ketika bemo dan tukang ojek mulai menggeser peranan dokar di kota kecil itu, pendapatan kusir menurun drastis, dan mereka sering pula mengeluh kepada Landu yang dianggapnya lebih bijaksana memandang suatu hal. Dan biasanya Landu akan menampung keluhan mereka dalam diam.

Beberapa anak muda yang masih memeram rasa penasaran belum mau menyerah, ingin mengetahui siapa sebenarnya Landu yang misterius itu. Maka suatu hari, mereka kembali mengikuti jejak Landu. Dan mereka kembali menemui kekecewaan. Mereka tidak pernah menemukan di mana rumah Landu sebenarnya. Mereka hanya melihat jejak Landu berakhir di kerumunan orang yang asyik meneliti batu-batu akik di sebuah pasar kecil.
Ambu sangat menyukai batu-batu akik. Ia suka menikmati warna-warninya, syukur-syukur di antaranya ada yang bertuah, misalnya bisa menyembuhkan suatu penyakit, mengusir roh jahat, atau membuat pemakainya bisa menghilang sesuai keinginan. Namun Ambu belum pernah menemui batu akik yang memiliki khasiat khusus itu. Ia lebih sering menikmati warna-warni batu-batu akik itu yang mengingatkannya pada lukisan-lukisan abstrak milik seorang kawannya.

Penjaja batu akik tidak pernah kesal, meski Ambu tidak pernah membeli sebutir akik pun. Beberapa penjaja batu akik sering mengajak Ambu berdiskusi tentang makna-makna batu akik yang dijualnya. Mereka mengira Ambu seorang tokoh atau penganut aliran spiritual tertentu yang telah mencapai tingkat ilmu tinggi karena wajahnya yang seakan bercahaya itu. Ambu berkali-kali menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Namun, justru sikap rendah hati yang dianggap berlebihan itu malah meyakinkan para penjaja batu akik bahwa Ambu bukan manusia sembarangan. Maka terpaksa Ambu harus meladeni pertanyaan-pertanyaan berbau magis penjual batu akik dengan menjawab sekenanya saja.

Ke mana pun Landu melangkah, tas kresek berwarna hitam selalu setia menemani tangannya. Tak seorang pun tahu apa isi tas kresek itu. Bahkan, ketika Landu lewat di depan segerombolan anak muda pengangguran yang asyik main gitar sambil minum arak, beberapa anak muda malah membuat tebak-tebakan mengenai isi tas kresek itu.

”Ayo, siapa yang tahu, apa isi tas kresek kakek itu!” anak muda setengah gondrong melontarkan tebakan itu.
”Mana kita tahu! Periksa saja sendiri!” jawab kawannya yang bermata sipit.
”Paling-paling juga sirih dan tembakau!” ujar yang bermain gitar.
”Jangan-jangan uang! Siapa tahu kakek itu orang kaya yang lagi menyamar!” ujar anak muda yang lengannya penuh tatto.
”Ya. Bisa jadi ia seorang investor, atau mungkin mantan koruptor yang bersembunyi di kota kita!” kata anak muda kurus berkacamata agak tebal.

Maka begitulah, tak seorang pun tahu apa isi tas kresek warna hitam yang suka ditenteng Landu ke mana-mana itu. Dan sungguh suatu pekerjaan yang tidak ada gunanya menebak-nebak isi tas yang dibawa seseorang. Namun, lambat laun rasa penasaran terhadap isi tas kresek itu sama kuatnya dengan keingintahuan perihal asal-usul lelaki tua aneh itu.

Di luar dugaan, beberapa anak muda yang terkenal bandel dan suka bikin onar di kota itu, merencanakan suatu niat jahat. Mereka akan mencegat lelaki tua itu di jalan sepi dan merampok tas kresek yang suka ditentengnya ke mana-mana itu. Dua anak muda bandel menguntit lelaki tua itu. Mereka mengawasi Landu yang bersiul-siul keluar dari sebuah bank kecil sambil menenteng tas kresek. Keyakinan mereka bertambah kuat bahwa tas kresek itu berisi uang, mungkin jutaan rupiah.

”Apa kubilang! Tas kresek itu pasti berisi uang!” ujar yang bertatto kepada kawannya yang setengah gondrong.
”Bila berhasil merebut tas kresek itu, kita akan kaya dan bisa minum berbotol-botol bir di kafe dengan ditemani beberapa wanita cantik!” sahut kawannya tak kalah seru.

Anak-anak muda bandel itu terus menguntit. Merasa ada yang mengikuti, Landu terus mempercepat langkahnya. Di sebuah pertigaan anak-anak muda bandel itu kehilangan jejak. Merasa buruannya hilang, mereka mengumpat tidak karuan. Yang lengannya bertatto merasa yakin kalau lelaki tua itu memiliki ilmu menghilang.

Namun keberuntungan tidak selamanya berpihak pada Landu.

Maka, pada hari yang naas, ketika Landu sedang asyik menikmati ayunan langkahnya di sebuah jalan kota yang sepi, dua pengendara motor menyambar tas kreseknya. Belum tuntas kagetnya, pengendara motor yang mengenakan helm cerobong telah tancap gas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, apalagi mata tuanya yang agak rabun. Beberapa menit Landu hanya bisa terpana di pinggir jalan yang meninggalkan kepulan debu dari motor yang ngebut itu.

Tubuh Landu merasa lemas. Sembari membetulkan letak topinya yang agak miring, tampak wajahnya penuh kemurungan. Sesuatu yang sangat berharga, seakan melebihi uang jutaan rupiah, telah dirampas oleh pengendara motor itu.

***

Sementara itu, di sebuah tegalan yang jauh dari keramaian, beberapa anak muda dengan harap-harap cemas membelalakkan mata pada tas kresek hasil rampasan. Anak muda yang lengannya bertatto tidak sabaran merobek tas kresek. Beberapa bendel kertas menyembul. ”Setan! Kita telah ditipu. Tidak ada uang!” umpatnya.
Anak muda yang setengah gondrong mencoba mengorek-orek isi kresek, kemudian menggerutu seraya menendang tas kresek hingga kertas-kertas berhamburan ke udara. ”Sialan! Hanya sebendel puisi! Agaknya kita telah merampok seorang penyair. Sialan!”

Kejadian dramatis itu diakhiri dengan lumayan indah oleh anak muda yang berkacamata tebal. Dengan sigap ia menangkap selembar kertas yang melayang-layang di udara, mencoba membaca isinya dengan gaya deklamasi: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan…sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.1***


1 Baris puisi itu berjudul ”Melodia” karya penyair legendaris Umbu Landu Paranggi. Ke mana pun berjalan, penyair ini suka sekali menenteng tas kresek warna hitam yang mungkin saja berisi kertas-kertas puisi.

* Judul ini diinspirasi dari judul novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway.


Gue suka banget cerpen ini lho, serius! Waktu pertama kali googling namanya Umbu Landu Paranggi, ( Yes i do love googling! xp ) dan menemukan cerpen ini, saya sampai merinding dan saya baca berkali-kali. Well, mungkin juga karena bacanya waktu itu malem-malem jam dua dini hari, hehehe, tapi tetap mungkin juga karena ceritanya yang sendu.

Kabarnya lagi, Umbu Landu Paranggi sekarang ada di Bali.


-M O O N Y
yang lagi bingung inspirasi buat ngepost kok belom datengdateng juga. mungkin karena belom purnama?

Kamis, 20 Maret 2008

Popperian

Ini yang namanya murni buang-buang waktu.

Semester ini gue dapet satu mata kuliah yang kalau diperibahasakan itu kurang lebih adalah "Bagai mengukir di atas air" saking gak mudengnya gue :( , dan mata kuliah itu adalaaah...... :

Betul. Filsafat Ilmu Sosial. Dan betul, belajar ilmu sosial aja udah sulit, ini ditambah lagi dengan kerangka pemikiran ilmu sosial. Istilahnya, kalau menurut saya, itu sama aja kayak belajar ilmunya ilmu. Atau akarnya ilmu.

Aah.. satu-satunya kegiatan menyenangkan dari kuliah ini, selain bebas ngebacot-sotoy *kalau kata dosennya*, adalah menemukan quotation yang sungguh ciamik dari para pemikir. Dan serius, kalau ada cabang ilmu yang gue kagumi sampai sekarang itu adalah filsafat, saking absurdnya ilmu itu. Bahkan rasanya lebih mudah memahami fisika ketimbang filsafat!

Oke. Satu hal yang menyenangkan dari filsafat ini adalah menganalisa bagaimana bentukan kata-kata tertentu bisa men-simplifikasi-kan NJELIMEETnya pemikiran manusia. Ingat materialisme dialektika Hegel? Dan betapa oh-shit nya Hegel karena bisa menjelaskan tahap menuju kesempurnaan pemikiran melalui proses tesis dan antitesis?

Jadi minggu ini ceritanya gue menemukan keajaiban-simplikfikasi-pemikiran-lewat-kata-kata itu dalam sebuah quote 'mantap' oleh Karl Popper.

"..we want more than mere truth, what we look for is interesting truth, truth which is hard to come by.."

Lanjuut. Interesting truth itu, kata Popper lagi, adalah truth yang punya "high degree of explanatory power" yang secara paradoksal mengimplikasikan tingginya probabilitas kekeliruan.


................................%^*(&^@!#?><)(~!!!!!


KENAPA YA ada ajaa orang-orang yang diberkahi kekuatan untuk mendayagunakan otak mereka lebih dari sekitar 3%, yang katanya kemampuan manusia normal? Kenapa ada manusia-manusia abnormal macam Popper begini?

Lebih-lebih lagi, keajaiban kata untuk menjelaskan sesuatu itu lho!! Ketika manusia lain bisa kehabisan kata untuk menjelaskan sesuatu yang besar, 'mereka' dengan enaknya tinggal menjelaskan hal besar itu dengan kata-kata sesimpel mungkin!