Sabtu, 05 Juli 2008

Dalam Perjalanan

Dimana letak keindahan sebuah perjalanan?
Dahulu dia selalu mengira keindahan itu ada pada tempat yang ditujunya. Setiap sudut kota dengan aroma gedung yang mulai menua. Mungkin retakan-retakan kecil di setiap ujung trotoarnya yang lama dipijaki berbagai macam manusia, mungkin juga kereta penjaja kaki lima. Setiap pejalan kaki yang disibuki pikiran-pikiran sendiri, yang menduga-duga kemana kaki-kaki mereka hendak membawa pergi. Setiap pedagang kaki lima yang harap-harap cemas menanti pembeli, yang mungkin berarti perpanjangan hidup sehari lagi, sekali lagi. Namun jendela kereta ekonomi tua yang kaca jendelanya retak di ujung-ujungnya itu seakan berkata setiap perjalanan, nyatanya, memiliki keindahan yang terletak dalam perjalanan itu sendiri. Entah oleh setiap potret lanskap yang dibentuk oleh pigura besi berkarat yang terus menerus bergerak dari jendela-jendela kereta, yang juga sama tuanya dengan kereta, yang sama lelahnya dengan hati para penumpangnya, yang memandang hampa kepada hamparan kabel-kabel listrik yang senantiasa melengkung-lengkung naik dan turun, yang seakan mengisyaratkan bahwa dunia senantiasa bergerak meski hati manusia mungkin ada kalanya beku dan terkubur.

Keindahannya juga tercium dari aroma kental stasiun yang mulai apak, dengan lantai coklat kelabu yang tak pernah lekang terjamah debu dan ludah lelaki-lelaki penggerutu. Wajah-wajah tertekuk dalam, suram, namun sarat harapan. Kaki-kaki telanjang ibu dan anak penjual sarapan dan buah tangan. Terasa kental dan menyesakkan: harapan. Begitu banyak harapan, begitu banyak juga kekecewaan. Ah, beginikah takdirmu, kawan? Sekali kau menuju ke tanah impian, tanah tak bertuan, lalu lain kali, bahkan sering banyak kali, kaki-kakimu membawamu ke tanah penghabisan. Penghabisan segala asa, segala rupa hasrat jiwa.
Karcis! Karcisnya, tuan!
Lembaran-lembaran yang terasa kumal terlalu sering tersumpal dalam berbagai genggaman telapak-telapak tangan para petualang. Sudah saatnyakah berhenti mencari keindahan dari sebuah perjalanan?

Jumat, 27 Juni 2008

Mainmain Kata, Mainmain Makna, Mainmain Rasa #1

Begini ceritanya. Saya benci orang yang berpandangan sempit. Tapi dengan bencinya saya kepada orang yang berpandangan sempit, bukankah itu juga menunjukkan sempitnya cara pandang saya? Bukankah saya sendiri lantas berpandangan sempit? Standar apa yang digunakan untuk menilai objektivitas cara pandang? Bukankah dengan saya menyatakan seseorang berpandangan sempit, masing-masing dari kami mempertahankan kesubyektifan yang berbeda? Ketika saya menyatakan dia berpandangan sempit karena menolak cara pandang saya, pada saat yang sama saya juga berpandangan sempit karena menolak cara pandang dia, bukan?

Jadi siapa yang sesungguhnya berpandangan sempit? Saya? Atau dia? ***


Terinspirasi dari kelas Sejarah Indonesia. Waktu itu, kelas kami sedang mendiskusikan tentang Reformasi 1998 dan polemik antara Habibie, Prabowo, dan Wiranto. "Mana sejarah yang benar?" atau bahkan "Bagaimana kita dapat membuat sejarah menjadi obyektif, Pak?"

"Tidak ada yang obyektif. Bahkan sebenarnya seseorang yang obyektif pun adalah seseorang yang subyektif dengan keobyektifannya itu."-Agus Setiawan, Dosen Sejarah Indonesia.


-M O O N Y
Masih terus menerus berpikir makna yang paling pas dari kalimat tersebut. But it was a great thought-provocation, though.

Minggu, 15 Juni 2008

Sebelum Matahari Tenggelam dan Sakit Gigiku

I just got a very, very bad toothache :'(
Dan cara paling ampuh menghilangkannya, kata orang-orang, adalah makan Ponstan dan main Internet (oh, juga websitenya Raditya Dika, terimakasih banyak, hehe).

Dan satu lagi...
Yak! Nonton Before Sunset! Hahahaha. Highly recommended for a toothache-caused insomnia! Peduli setan deh dengan komentar-komentar macam "Selera tipikal." dan lain-lainnya. Berlaku juga buat orang-orang yang lebih suka Before Sunrise. Sekalian, pengen bgt ngereview film ini dari dulu..



Ethan Hawke & Julie Delpy


Kadang-kadang saya suka kepikiran, tanda-tanda saya mulai maniak ama satu film apa aja ya? Let's see, selain punya dvdnya, menontonnya tiap minggu, dan selalu merekomendasikannya ke orang lain, gue baru sadar juga kalau ternyata tanda lainnya adalah: it has become the voice in my head.

Banyak orang yang bilang, "You are what you read", atau "You are what you eat". Mungkin buat saya berlaku juga "You are what you watch". Belakangan, saya tahu alasan mengapa, di saat banyaak sekali orang yang lebih menyukai Before Sunrise, saya selalu lebih memfavoritkan sekuelnya ini.

Lagi-lagi bertemu dengan kata ini, Possibility. Ini kata yang jadi favoritnya Andrea Hirata (well, setidaknya pada seminar jurnalistik sastrawi di FISIP UI beberapa bulan yang lalu, saat dia menjadi bintang tamu). Ceritanya, seseorang pernah bertanya kepada Bang Andre ini. Katanya, bagaimana sebuah tulisan dapat disebut sebagai sebuah tulisan yang baik? Menurut dia, tulisan yang baik (dan dalam hal ini novel ya..) adalah tulisan yang dalam setiap paragrafnya mengandung banyak possibility. Saya, setuju dengan jagoan Laskar Pelangi ini, menganggap bahwa possibility memang syarat utama untuk mengikat pembaca dengan apa yang dibacanya.

Possibility ini juga mengikat penonton dengan film yang ditontonnya. Oke, memang kita semua adalah generasi pecinta akhir-yang-bahagia. Sepertinya mindset kita sudah diatur oleh Hollywood untuk mengharapkan bahwa, di akhir semua cerita, semua orang hidup bahagia. Di film-film psycho, si nerdy akan jadi pahlawan dan akhirnya make-out dengan gadis pirang yang pacarnya mati mengenaskan. La la. That's how it all goes.

Di Before Sunset, Ethan Hawke berperan sebagai Jesse Wallace. Ikhtisarnya aja nih, dia adalah pengarang novel genre romantis yang isinya adalah true story tentang pengalaman one night stand Jesse dengan wanita Perancis, Celine (diperankan secara outstanding oleh Julie Delpy). Namun akhir novel itu sengaja dibuatnya 'menggantung'. Ketika pers yang meliput novel itu bertanya, "Mr. Wallace, the book ends on an ambiguous note. We don't know, do you think they get back together in six months like they promise each other?".

Lantas, apa jawab Jesse? (Siap-siap..my favourite part, hehe)
"It's a good test. Right? If you're a romantic or a cynic...so you're asking the question... Look, see, in the words of my grandfather, okay, to answer that would take the piss out of the whole thing."

Ah!
Possibility!

Dan film ini, maaf agak sedikit spoiler, juga ber-ending ambigu. Damn that Richard Linklater! Maka itu, selain sibuk merekomenkan film ini ke orang-orang, saya juga jadi sibuk bertanya kepada mereka setelah mereka menonton film ini. Hehe. Itu analisa psikologi paling asyik dan efektif. Ada yang romantis (dan jelas bermindset Hollywood), ada juga yang sinis (saya lebih suka menyebutnya hiper-realis), ada juga yang tidak mau ambil sikap (dan memilih untuk memfavoritkan Before Sunrise yang endingnya lebih bahagia itu, hahaha).

Before Sunset, tentunya selain dengan skripnya yang sangat ciamik dan kedua pemeran utamanya yang--meminjam komentar di belakang kotak vcd you've got mail--"should have won the Nobel for Chemistry", menawarkan ending yang memiliki banyak kemungkinan untuk menganalisa diri. Dan tidak ada yang lebih menyenangkan dari menonton sebuah film yang selalu membuat kita ingin untuk nonton dan nonton lagi, sekadar untuk mengevaluasi diri. Sudah berubahkah kita dari romantis menjadi sinis, atau sinis menjadi romantis? Atau berubah haluan juga menjadi hiper realis karena banyak dikecewakan realita? Hahahahahaha.

Too much for a movie, eh? Yaaaah..ga ada salahnya nonton iseng-iseng dan ngeliat-liat pemandangan Paris. Asal jangan ikutan kena Paris Syndrome aja kayak saya dan beberapa orang teman, hehe. Tapi serius, boleh traktir saya kalau gak percaya, film ini selalu disukai oleh orang-orang yang sudah menontonnya. Well, at least people i know ;p

Ooo-kay.
It is already 1.11 AM dan besok pagi ada kuliah. And in case any of you are wondering about my toothache? It is getting so much better :)


-M O O N Y
*Ada yang mau link full-scriptnya Before Sunset? Check on : http://www.script-o-rama.com/movie_scripts/b/before-sunset-script-transcript.html
**Dan soal blog-nya Raditya Dika? Serius, bener-bener hiburan, lho. Hehehe.
http://radityadika.com

Sabtu, 07 Juni 2008

Float's No-Dream Land

No-Dream Land

Words & Music by Hotma Roni Simamora.

Music Arrangement by W. Benyamin, Hotma R.S., and Raymond A.S.


Running down the corridor in such fancy suit
To catch another 9 to 5
Hiding all your true desires and keep all of them mute
Seems the only way to survive

The never ending story of this no-dream land
Is on the morning headline all this time
Our hesitation is our every day's game
Is this the land that God's condemned?

Sippin' up your lunch-break coffee by the windowpane
Too many plans left to update
You can't wait to have the sun down again
To get the hell out of this cage

Hoping someone starts the revolution
Man, you know that we could be the ones
What the representatives said's not about the constitution
They're just protecting what they won

All this time we're blind
All this time...

You could have been something greater with your balanced brain
The same old line from all your mates
You said, "Why should bother I've got 'dollar' to repel the pain?"
You spit it out as your defense

To be what we want is everyone's dream
Man, you know with passion we might win
How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life

All this time we're blind
All this time we're blind

*****

Hari ini Sabtu. Minggu lalu, dua minggu lalu, bulan lalu, minggu depan. Streess liat jalanan. Stres nonton TV. Terus inget lagu ini, salah satu lagu favorit gue dari Float, band Indonesia yang bermutu, baik dari sisi musikalitas maupun lirik. Dan lirik lagu ini? Salah satu lirik favorit gue kalau nonton TV dan baca koran. Daripada terus-terusan mengendapkan kalimat "Screw it!" di otak, mending bernyanyi-nyanyi ria, hahahaha.

Jadi pengen kayak Sapardi aja.. gak mau nonton tv dan ga baca koran. Jadinya in good company kan?? Hahahahahahahahaha.

Oh iya, bung Hotma Roni Simamora ini juga gak kalah sama Sapardi lho (dalam berlirik-ria, maksudnya..)
check on www.floatproject.com

Selasa, 20 Mei 2008

Euforia


photo by Astari Nindya Poetri


Dramatis. Itu kesan saya setelah menghadiri Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional di Gelora Bung Karno hari ini.

Secara keseluruhan, acaranya dapat dikatakan luar biasa. 20 ribu penonton, ratusan pengisi acara, dan ditambah : Deklarasi Indonesia Bisa! oleh Bapak Presiden SBY sendiri.

Akhir-akhir ini, saya sering diserang 'derita', bahwa apapun yang menggejala belakangan ini dan tampaknya menjadi pusat perhatian banyak orang adalah tak lebih dari sebuah euforia. Kalau bahasa sinisnya, yaah, bisa dibilang cuma tren lah. Misalnya batik dimana-mana. Saya tidak lantas menyimpulkan kalau semua orang yang pakai batik itu cuma ikut-ikutan tren, lho. Nyatanya Iwan Tirta sudah sejak dulu bikin batik. Saya cuma banyak dikecewakan oleh fakta bahwa orang-orang yang dulu 'ogah' pakai batik untuk sehari-hari sekarang jadi sudi pakai batik. Karena tren, itu saja.

Kabar baiknya, lama-kelamaan tren batik ini semakin meresap ke dalam nilai-nilai yang dianut setiap individu. Jadi, tidak hanya sekedar batik di permukaan saja, tapi ada kebanggaan di situ. Saya anggap ini adalah kebanggaan orisinil, bahwa kali ini yang jadi tren adalah betul-betul milik kita sendiri.

Minggu ini 'penderitaan' itu datang lagi. Saya mendengarkan radio, dan di setiap stasiun rasanya mendengung-dengungkan hal yang sama : Hari Kebangkitan Nasional. Di TV pun begitu. Stasiun TV kita diserang oleh iklan-iklan serba patriotis (yang anehnya, walaupun saya pandang sinis, tetap bikin saya kadang-kadang berkaca-kaca juga. Tau iklan petinggi PAN yang ada Chairil Anwarnya itu?) Mula-mula saya juga berpikir semua bla-bla-bla tentang Harkitnas ini hanya 'euforia' juga. Apalagi momennya pas betul, join dengan euforia Thomas & Uber Cup, wafatnya Sophan Sophiaan, dan Nagabonar 1.

Kalau saya ingat kata yang bikin derita itu, saya cuma ingat pada satu hal. Yaitu sesuatu yang hanya akan menjadi 'permukaan' saja. Seperti euforia reformasi, gitu. Nyatanya demokrasi kan hanya sekedar prosedural saja, dan seperti apa demokrasi yang sesungguhnya kan masih sangat jauh bagi bangsa kita. Yah, gimana mau demokrasi kalau Ahmadiyah saja dilarang? :p

Tapi malam ini saya sangat tersadarkan, betapa sinis dan sempitnya cara saya memaknai sebuah euforia. Malam ini, saya menjadi bagian dari euforia itu. Dan ada emosi yang menggerakkan kami semua, ketika mendengar Deklarasi Indonesia Bisa! oleh Pak SBY dengan suara lantang itu. Emosi itu adalah sebuah euforia, dan ternyata euforia bukan sebuah hal yang hanya menempel di permukaan, namun juga sebuah penggerak hati nurani.
Belakangan, saya juga menyadari bahwa 'cap jelek' saya terhadap euforia demokrasi harus diralat. Paling tidak, negara kita belajar untuk berdemokrasi. Dan ternyata demokratisasi memerlukan waktu yang sangaaat lama untuk dapat melembaga di dalam masyarakat.

Paling tidak, saya juga menyadari bahwa ternyata teman-teman di sekeliling saya malam ini juga merasakan hal yang sama. Kami semua sama-sama tercekat di kerongkongan saat melihat obor tanda deklarasi dan kebangkitan pemuda dinyalakan.

Euforia Harkitnas, Batik, Nasionalisme, ternyata sama seperti euforia demokrasi. Semuanya perlu waktu untuk melembaga menjadi penggerak hati nurani tiap individu. Namun semuanya akan muncul menjadi satu: Kebanggaan yang orisinil. Ya, semuanya milik Indonesia sendiri! :)



-M O O N Y
(Selamat Hari Raya Waisak untuk yang merayakan! Hmm, tadi di Borobudur pasti rame ya?)
(Malam ini PURNAMAAAAA!)

Sabtu, 03 Mei 2008

Resmi Sudah : Saya Benci Acara Keluarga

Kayaknya judul ini agak berlebihan dan bikin sebel buat sebagian orang yah. Wajar sih, banyak orang (well, at least people i know) pengen sering-sering kumpul sama keluarga besarnya, tapi dihalangi ama kendala-kendala jarak maupun waktu.

Mudah-mudahan dengan membaca ini mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya beruntung! Hahahahahaha.

3 HAL YANG SAYA BENCI DARI ACARA KELUARGA

1. Fakta bahwa kita harus hadir-hanya untuk mengalami teror mental.
Aah, come on! Haruskah setiap tetua menanyakan hal yang sama dari tahun ke tahun? "Kuliah dimana?", "Jurusan apa?", "Semester berapa?", atau bahkan "Udah punya pacar belum?". Geez, mereka tuh nanya karena peduli atau emang cuma nosy? Logikanya kan,kalo emang bener-bener peduli, mereka hafal dong jawabannya, dan ngerti progressnya dari tahun ke tahun. Apa harus anak-anak muda aja yang ngafalin mereka, dan mereka enggak harus sopan ke anak muda secara timbal balik?

2. Anak-anak kecil.
Sebenarnya saya bukanlah pembenci anak-anak. Beberapa orang pasti tahu saya si tante-girang, secara harafiah, lho :). Saya pemuja makhluk-makhluk bernama balita dengan pipi-pipi tembem seperti Dulce Maria. Tapi adakah yang tahu betapa lengketnya lantai rumah kalau banyak anak kecil berkeliaran? Serius deh, mereka abis jalan-jalan dari mana aja sih? Atau telapak kaki mereka secara misterius mengeluarkan enzim super-lengket ya?

3. Lagu-lagu 'ethnical'-siksaan tanpa henti.
Hmmph. Yang ini tiada bandingannya deh. Sesi lagu-lagu padang ini, yang biasanya sepaket dengan karaoke dan line dance, dimulai saat hari siang menjelang sore. Tahu kan, lazimnya itu waktu-waktu di saat perut kekenyangan dan mata mulai berat. Yang paling saya inginkan hanya tidur-tiduran di depan TV bersama sepupu-sepupu lainnya, sambil nonton acara apapun yang bisa bikin ketawa. Tapi tidak, kebahagiaan itu hanya utopis. Angan- angan semacam itu kerap kali rusak dengan teriakan salah satu tante (kalau bisa yang paling galak), "OOOI, ANAK-ANAK GADIIS!!". Celaka dua belas. Teriakan ini akan direspons dengan tiga tindakan. Pertama, saudara-saudara sepupu perempuan saya yang lebih tua akan pura-pura tidur. Kedua, tante saya yang berkomando tadi akan menangkap basah siapa saja yang masih terjaga untuk jadi umpan. Ketiga, saudara-saudara sepupu laki-laki saya akan tersenyum-senyum, "Ha-ha. Gotcha!".
*TOLOONG! INI DISKRIMINASI!*

Tambahan, jika anda di posisi saya, anda akan mengalami perasaan yang tercabik-cabik ketika
melihat para tetua dengan khidmat menyanyikan lagu minang dengan mata setengah terpejam, dan setelah lagunya selesai dan anda baru saja akan menarik napas lega, mereka berkata, "Diulang sekali lagi, ya? Lagunya bagus..", padahal ITU LAGU YANG SAMA YANG SELALU MEREKA NYANYIKAN SELAMA DUA TAHUN BELAKANGAN SETIAP ADA ACARA KELUARGA!!!!!

Tambahan lagi, lagu itu akan diulang untuk dinyanyikan, tapi dengan formasi penyanyi yang berbeda. Misalnya, versi 1 dinyanyikan oleh tante A dan tante B, nanti versi 2 akan dinyanyikan oleh tante C dan tante D. Begitu seterusnya.

Sumpah. Yang anda inginkan hanya sesi head-banging tanpa henti, kalau bisa sampai anda amnesia dan lupa kalau keluarga neurotik di hadapan anda adalah keluarga anda sendiri.


Aaah. Tapi keluarga itu penting, Maulida. Ingat, "Harta yang paling berharga adalah keluarga.."-atau apa deh itu, theme song Keluarga Cemara-nya Arswendo Atmowiloto di RCTI jaman saya SD. Tapi tetap saja, saya mau GILA.

Bagi non-padang di luar sana, bersyukurlah!!


-M O O N Y
yang baru saja menghabiskan hari pada suatu acara lamaran sepupunya dan mulai berpikir untuk pindah identitas etnis saja.


Kamis, 01 Mei 2008

Telur, Ayam, dan Bagaimana Mereka Seharusnya Linear, Bukan Siklis

Note : Ada satu orang yang kalau baca postingan ini, dijamin, bakal memutar bola matanya dan dalam hati berkata, "oh, pleeease." Hahahaha, I know we won't get tired with this never-ending discussion, mate! Gak di kelas, gak di jalan berangkat dan pulang, gak di telepon! :)
***

Suatu kali, saya dan teman baik saya diam-diam mendiskusikan tentang telur-ayam. Bukan, bukan telur dan ayam secara harafiah dan kaitannya dengan kadar protein, tetapi telur dan ayam sebagai 'lingkaran-setan', sebuah analogi dari kasus-kasus yang entah mana awal, mana belakangan.

Mengapa diam-diam? Kami mendiskusikannya di tengah-tengah suasana kelas, sembari sedikit mendengarkan omongan si dosen. Dari kuliah Sistem Ekonomi Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang lebih dulu akan mendorong perekonomian, pertumbuhan ekonomi atau pemerataan pendapatan? Dari kuliah Filsafat Ilmu Sosial, kamu dapat pertanyaan, agama itu membentuk kebudayaan atau kebudayaan merupakan produk peradaban? Dan dari kuliah Sistem Politik Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang jadi 'panglima', kebijakan politik atau kebijakan ekonomi?

Sesuai namanya, saya memang akan bergumam dalam hati "Aah, setan!" lantas melirik kepada teman saya itu dan kami berdua sama-sama bergumam "Lagi-lagi telur-ayam nih.."
Tentu, biasanya teman saya ini, yang orangnya sangat normatif, akan berkomentar "Itu sesuatu yang resiprokal, kawan..". Namun menit-menit kemudian, kami berdua akan ngotot-ngototan, diakhiri dengan saya tetap setia pada pendapat saya, dia juga begitu. Hehehe..

Maaf-maaf saja. Saya tidak bisa terima kalau sesuatu ada karena memiliki fungsi. Saya lebih puas dengan penjelasan bahwa sesuatu itu menjadi berfungsi karena ada.

Maka itu, hal yang paling bikin saya kesal saat ini adalah tidak adanya hal di dunia ini yang dijelaskan dari satu sudut pandang saja, dan bagaimana banyak hal yang menuntut manusia untuk bebas-nilai, padahal itu tidak mungkin. Manusia adalah makhluk yang bernilai, bukan manusianya yang bernilai, tapi nilai itu sendiri.

Lantas, perdebatan kami pernah suatu kali berakhir sengit. Teman saya ini berkata, "Mungkin di masa depan kita jadi bermusuhan, ya?". Hahahahaha! Saya cuma berkomentar, "Hmm, kalau musuhan karena ideologi keren banget yah? Kayak Soekarno-Hatta dong."

Yaah, mau telur-ayam duluan mana, kek, saya sih tetap pilih ayam. Bukan karena apa-apa lho, soalnya saya lebih doyan ayam! :)


-M O O N Y

(ssttt, jangan-jangan teman saya itu bakal milih telur karena dia lebih doyan telur? wah, bisa debat kusir lagi nih, hihihihihi...)