I just got a very, very bad toothache :'(
Dan cara paling ampuh menghilangkannya, kata orang-orang, adalah makan Ponstan dan main Internet (oh, juga websitenya Raditya Dika, terimakasih banyak, hehe).
Dan satu lagi...
Yak! Nonton Before Sunset! Hahahaha.
Highly recommended for a toothache-caused insomnia! Peduli setan deh dengan komentar-komentar macam "Selera tipikal." dan lain-lainnya. Berlaku juga buat orang-orang yang lebih suka Before Sunrise. Sekalian, pengen bgt ngereview film ini dari dulu..

Ethan Hawke & Julie Delpy
Kadang-kadang saya suka kepikiran, tanda-tanda saya mulai maniak ama satu film apa aja ya? Let's see, selain punya dvdnya, menontonnya tiap minggu, dan selalu merekomendasikannya ke orang lain, gue baru sadar juga kalau ternyata tanda lainnya adalah:
it has become the voice in my head.
Banyak orang yang bilang, "
You are what you read", atau "
You are what you eat". Mungkin buat saya berlaku juga "
You are what you watch". Belakangan, saya tahu alasan mengapa, di saat banyaak sekali orang yang lebih menyukai Before Sunrise, saya selalu lebih memfavoritkan sekuelnya ini.
Lagi-lagi bertemu dengan kata ini,
Possibility. Ini kata yang jadi favoritnya Andrea Hirata (well, setidaknya pada seminar jurnalistik sastrawi di FISIP UI beberapa bulan yang lalu, saat dia menjadi bintang tamu). Ceritanya, seseorang pernah bertanya kepada Bang Andre ini. Katanya, bagaimana sebuah tulisan dapat disebut sebagai sebuah tulisan yang baik? Menurut dia, tulisan yang baik (dan dalam hal ini novel ya..) adalah tulisan yang dalam setiap paragrafnya mengandung banyak possibility. Saya, setuju dengan jagoan Laskar Pelangi ini, menganggap bahwa possibility memang syarat utama untuk mengikat pembaca dengan apa yang dibacanya.
Possibility ini juga mengikat penonton dengan film yang ditontonnya. Oke, memang kita semua adalah generasi pecinta akhir-yang-bahagia. Sepertinya mindset kita sudah diatur oleh Hollywood untuk mengharapkan bahwa, di akhir semua cerita, semua orang hidup bahagia. Di film-film psycho, si
nerdy akan jadi pahlawan dan akhirnya
make-out dengan gadis pirang yang pacarnya mati mengenaskan. La la.
That's how it all goes.
Di Before Sunset, Ethan Hawke berperan sebagai Jesse Wallace. Ikhtisarnya aja nih, dia adalah pengarang novel genre romantis yang isinya adalah true story tentang pengalaman one night stand Jesse dengan wanita Perancis, Celine (diperankan secara outstanding oleh Julie Delpy). Namun akhir novel itu sengaja dibuatnya 'menggantung'. Ketika pers yang meliput novel itu bertanya, "
Mr. Wallace, the book ends on an ambiguous note. We don't know, do you think they get back together in six months like they promise each other?".
Lantas, apa jawab Jesse? (Siap-siap..my favourite part, hehe)
"
It's a good test. Right? If you're a romantic or a cynic...so you're asking the question... Look, see, in the words of my grandfather, okay, to answer that would take the piss out of the whole thing."
Ah!
Possibility!Dan film ini, maaf agak sedikit spoiler, juga ber-ending ambigu.
Damn that Richard Linklater! Maka itu, selain sibuk merekomenkan film ini ke orang-orang, saya juga jadi sibuk bertanya kepada mereka setelah mereka menonton film ini. Hehe. Itu analisa psikologi paling asyik dan efektif. Ada yang romantis (dan jelas bermindset Hollywood), ada juga yang sinis (saya lebih suka menyebutnya hiper-realis), ada juga yang tidak mau ambil sikap (dan memilih untuk memfavoritkan Before Sunrise yang endingnya lebih bahagia itu, hahaha).
Before Sunset, tentunya selain dengan skripnya yang sangat ciamik dan kedua pemeran utamanya yang--meminjam komentar di belakang kotak vcd you've got mail--"
should have won the Nobel for Chemistry", menawarkan ending yang memiliki banyak kemungkinan untuk menganalisa diri. Dan tidak ada yang lebih menyenangkan dari menonton sebuah film yang selalu membuat kita ingin untuk nonton dan nonton lagi, sekadar untuk mengevaluasi diri. Sudah berubahkah kita dari romantis menjadi sinis, atau sinis menjadi romantis? Atau berubah haluan juga menjadi hiper realis karena banyak dikecewakan realita? Hahahahahaha.
Too much for a movie, eh? Yaaaah..ga ada salahnya nonton iseng-iseng dan ngeliat-liat pemandangan Paris. Asal jangan ikutan kena Paris Syndrome aja kayak saya dan beberapa orang teman, hehe. Tapi serius, boleh traktir saya kalau gak percaya, film ini selalu disukai oleh orang-orang yang sudah menontonnya. Well, at least people i know ;p
Ooo-kay.
It is already 1.11 AM dan besok pagi ada kuliah.
And in case any of you are wondering about my toothache? It is getting so much better :)
-M O O N Y
*Ada yang mau link full-scriptnya Before Sunset? Check on : http://www.script-o-rama.com/movie_scripts/b/before-sunset-script-transcript.html
**Dan soal blog-nya Raditya Dika? Serius, bener-bener hiburan, lho. Hehehe.
http://radityadika.com