".. his egocentricity is different, he hates himself intensely, whereas we do not. Hating himself as he does, hating his humankindness, he seeks new vision, a post-human post-intelligence. He wishes more than Nietzsche proscribed. He wants more than the next mutation--he wants a post-soul. Lord only knows what he wants!"tentang Lucien Carr, dalam selembar surat kepada Allen Ginsberg yang ditulis Jack Kerouac.(dan merdeka, otonom, liberate, menjadi muskil karena kita tak pernah meminta lahir).
Senin, 10 Oktober 2011
Bewildered 2.0
Selasa, 20 September 2011
Foursome
"Saya menulis ‘terpenuhi’ dan bukan ‘tercapai'', karena apa yang penting dalam pemenuhan keinginan adalah proses menuju suatu titik, bukan titik itu sendiri. Di sepanjang proses itulah terdapat berbagai muatan yang mendorong terciptanya suatu keinginan, serta yang menjadikan suatu hal yang mungkin tidak ada nilainya bagi satu orang menjadi bernilai dan pantas untuk dikejar oleh satu orang lainnya. Maka dari itu, saya akan melihat keinginan sebagai hasrat. Desire."
"Keinginan adalah sesuatu yang impulsif, instinctive, dan tidak selalu didasari alasan yang jelas. Keinginan tidak sejalan dengan kebahagiaan karena manusia tidak pernah merasa puas meskipun keinginannya terpenuhi. Keinginan merupakan penanda ketidaksempurnaan. Keinginan manusia tidak terbatas tapi kemampuan manusia terbatas. Bagaimanapun, keinginan adalah refleksi bahwa manusia tidak pernah berhenti berusaha untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik."
"Keinginan membuat sebagian orang menyukai mengkonsumsi steak yang berdarah di dalam tapi garing di luar, sementara sebagian orang lain—para vegan ekstrem, misalnya—tidak dapat melihat masakan daging tanpa merasa mual. Keinginan membuat masing-masing orang memiliki selera akan pasangan seksual yang berbeda: karena itulah terdapat orang dengan sado masokisme dan orang yang sulit mengalami ereksi."
"Keinginan adalah ilusi. Dalam masyarakat yang ramai, di mana kita tidak hidup seorang diri, kita tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu yang murni bagi diri sendiri. Kita menginginkan apa yang seharusnya diinginkan, sebuah set of standards. Pada akhirnya, kita membunuh keinginan yang asli dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kita seharusnya bahagia dengan keinginan-keinginan yang kita miliki. Lalu kita menyebut apa yang kita inginkan sebenarnya untuk terjadi sebagai kegilaan dan penyimpangan."
Rabu, 17 Agustus 2011
Bewildered
Pikiran bahwa tubuh kita dijalin dari jutaan hal yang serba membingungkan, rumit, bahkan ajaib sama memukaunya dengan pikiran bahwa tubuh yang sama juga ada karena sesuatu yang disebut gen-gen yang egois. Gagasan bahwa ada sesuatu di luar sekaligus di dalam diri kita yang menancapkan kehendak awal mula untuk hidup saja sudah nyaris membuat putus asa, ditambah kehendak-kehendak yang muncul sesudahnya setelah hidup itu sendiri: bertahan, bertaruh, bertarung, untuk hidup lagi dan lagi. Kita tak bisa mengontrolnya, mereka hidup sendiri dengan kehendak yang telah terakumulasi mungkin berabad-abad. Kata-kata seperti “hanya manusia” semakin jadi justifikasi saja atas hal-hal yang serba buruk tentang diri kita.
Mau tak mau, kita jadi sedikit toleran dengan mereka yang nekat menghabisi diri mereka. Bukan, bukan bunuh diri, tapi mereka yang menghabisi generasi mereka, membabat sendiri pohon sejarah mereka, memastikan bahwa gen-gen egois yang telah mengaliri darah mereka habis musnah terserap tanah. Banyak sekali orang yang nyaris ketakutan dengan ide ini. Keterhabisan. Keselesaian. Jelas, kita tidak pernah dirancang untuk siap dengan sebuah akhir. Bagaimana mungkin kita bisa ketika segala akhir adalah sekaligus awal dari yang lain? Bahkan beragam jenis teknologi dan pengetahuan dibangun untuk dapat merevisi yang final, sehingga kata final akhirnya jadi tak masuk akal. Karena jika semudah itu untuk paham bahwa ada yang mesti selesai, siapa pun tak akan ribut-ribut untuk bicara tentang kiamat, kan?
Bagaimana mungkin mereka yang berharap atas ketidakterhinggaan dianggap hina, ketika mereka yang menghina juga menjunjung diri sedemikian tinggi dari ketidakterhinggaan itu sendiri?
-M O O N Y
Sabtu, 25 Juni 2011
Peregrine*
Jumat, 22 April 2011
Optimis Patologis
"Cars are easy. It's people you need a manual for."**
Minggu, 13 Februari 2011
(Not So) Cheesy Pop Song

Kamis, 06 Januari 2011
Malam Kudus
Dulu saya bertanya pada Ibu saya kalau-kalau ia pernah mendengar sebuah lagu yang lebih menyedihkan dari duet Utha Likumahuwa dan Trie Utami dalam Mungkinkah Terjadi. Sepertinya ya, jawab beliau. Judulnya Ayah, tapi saya lupa Ibu bilang penyanyinya siapa. Tapi, bu, bisakah lagu menjadi sesuatu yang begitu membuat depresi walau terlepas dari memori? Barangkali saya khawatir kita selamanya tetap tak bebas dari dugaan dan asumsi. Atau barangkali kita memanglah gabungan dari seluruh kehidupan yang telah kita jalani. We are the sum of our lives, kata Ethan Hawke di Before Sunset.
Ibu, kenapa orang suka berandai-andai, berharap waktu berjalan lima detik lebih cepat atau lebih lambat agar segala sesuatu lain jadinya? Rasa-rasanya, seperti banyak hal lain yang bisa kita cerna dalam makna dan rasa, memang banyak sekali hal yang tidak berjalan linear. Coba, tanya Ibu, berapa kali kau temukan dirimu menangis bahagia atau tertawa karena kesedihan yang tragis?
***
Tak ‘
***
***
00.12 am, 25 Desember 2010