Senin, 10 Oktober 2011

Bewildered 2.0

".. his egocentricity is different, he hates himself intensely, whereas we do not. Hating himself as he does, hating his humankindness, he seeks new vision, a post-human post-intelligence. He wishes more than Nietzsche proscribed. He wants more than the next mutation--he wants a post-soul. Lord only knows what he wants!"

tentang Lucien Carr, dalam selembar surat kepada Allen Ginsberg yang ditulis Jack Kerouac.

(dan merdeka, otonom, liberate, menjadi muskil karena kita tak pernah meminta lahir).

Selasa, 20 September 2011

Foursome

Alkisah, seorang alumni Sastra Rusia, seorang alumni Manajemen, seorang mahasiswa Sosiologi, dan seorang mahasiswa Filsafat dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengerjakan tugas si mahasiswa Filsafat. Tugas tersebut bertema Keinginan. Bisa ditebak orang macam apa yang rela tugas filsafatnya (yang, omong-omong, diberikan oleh seorang Rocky Gerung, yang untuk masuk kelasnya saja ada seleksi awal dan berkuota 25 orang terpilih) diobrak-abrik oleh teman-temannya yang bahkan sulit mengeja raison d'etre dengan baik dan benar sesuai EYD bahasa Perancis. Tapi.. ah, sudahlah!

"Saya menulis ‘terpenuhi’ dan bukan ‘tercapai'', karena apa yang penting dalam pemenuhan keinginan adalah proses menuju suatu titik, bukan titik itu sendiri. Di sepanjang proses itulah terdapat berbagai muatan yang mendorong terciptanya suatu keinginan, serta yang menjadikan suatu hal yang mungkin tidak ada nilainya bagi satu orang menjadi bernilai dan pantas untuk dikejar oleh satu orang lainnya. Maka dari itu, saya akan melihat keinginan sebagai hasrat. Desire."
"Keinginan adalah sesuatu yang impulsif, instinctive, dan tidak selalu didasari alasan yang jelas. Keinginan tidak sejalan dengan kebahagiaan karena manusia tidak pernah merasa puas meskipun keinginannya terpenuhi. Keinginan merupakan penanda ketidaksempurnaan. Keinginan manusia tidak terbatas tapi kemampuan manusia terbatas. Bagaimanapun, keinginan adalah refleksi bahwa manusia tidak pernah berhenti berusaha untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik."
"Keinginan membuat sebagian orang menyukai mengkonsumsi steak yang berdarah di dalam tapi garing di luar, sementara sebagian orang lain—para vegan ekstrem, misalnya—tidak dapat melihat masakan daging tanpa merasa mual. Keinginan membuat masing-masing orang memiliki selera akan pasangan seksual yang berbeda: karena itulah terdapat orang dengan sado masokisme dan orang yang sulit mengalami ereksi."
"Keinginan adalah ilusi. Dalam masyarakat yang ramai, di mana kita tidak hidup seorang diri, kita tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu yang murni bagi diri sendiri. Kita menginginkan apa yang seharusnya diinginkan, sebuah set of standards. Pada akhirnya, kita membunuh keinginan yang asli dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kita seharusnya bahagia dengan keinginan-keinginan yang kita miliki. Lalu kita menyebut apa yang kita inginkan sebenarnya untuk terjadi sebagai kegilaan dan penyimpangan."


Paragraf-paragraf mumpuni--diselingi debat tentang cara mengucapkan Machiavelli, Barthes, dan Baudillard dengan baik dan benar--menghasilkan lima halaman sesuai permintaan yang mulia Rocky Gerung. Juga kado ulang tahun paling... entahlah. Pesan moral: Apapun bidang studi yang anda dalami, dalam keadaan kepepet ternyata anda bisa juga sok berfilosofi! Hehehe..


- M O O N Y

Rabu, 17 Agustus 2011

Bewildered

Pikiran bahwa tubuh kita dijalin dari jutaan hal yang serba membingungkan, rumit, bahkan ajaib sama memukaunya dengan pikiran bahwa tubuh yang sama juga ada karena sesuatu yang disebut gen-gen yang egois. Gagasan bahwa ada sesuatu di luar sekaligus di dalam diri kita yang menancapkan kehendak awal mula untuk hidup saja sudah nyaris membuat putus asa, ditambah kehendak-kehendak yang muncul sesudahnya setelah hidup itu sendiri: bertahan, bertaruh, bertarung, untuk hidup lagi dan lagi. Kita tak bisa mengontrolnya, mereka hidup sendiri dengan kehendak yang telah terakumulasi mungkin berabad-abad. Kata-kata seperti “hanya manusia” semakin jadi justifikasi saja atas hal-hal yang serba buruk tentang diri kita.

Mau tak mau, kita jadi sedikit toleran dengan mereka yang nekat menghabisi diri mereka. Bukan, bukan bunuh diri, tapi mereka yang menghabisi generasi mereka, membabat sendiri pohon sejarah mereka, memastikan bahwa gen-gen egois yang telah mengaliri darah mereka habis musnah terserap tanah. Banyak sekali orang yang nyaris ketakutan dengan ide ini. Keterhabisan. Keselesaian. Jelas, kita tidak pernah dirancang untuk siap dengan sebuah akhir. Bagaimana mungkin kita bisa ketika segala akhir adalah sekaligus awal dari yang lain? Bahkan beragam jenis teknologi dan pengetahuan dibangun untuk dapat merevisi yang final, sehingga kata final akhirnya jadi tak masuk akal. Karena jika semudah itu untuk paham bahwa ada yang mesti selesai, siapa pun tak akan ribut-ribut untuk bicara tentang kiamat, kan?

Bagaimana mungkin mereka yang berharap atas ketidakterhinggaan dianggap hina, ketika mereka yang menghina juga menjunjung diri sedemikian tinggi dari ketidakterhinggaan itu sendiri?


-M O O N Y

Sabtu, 25 Juni 2011

Peregrine*

Di bangku kelas tiga SMA, seorang teman memperdengarkan sebuah lagu berjudul I Wish I Was a Punk Rocker (with Flowers in My Hair). Meski tak pernah sungguh-sungguh ingin menjadi penyanyi, bahkan tanpa kesukaan khusus terhadap musik rock, lirik lagu tersebut tanpa dikehendaki menjadi sebuah tuntunan di tahun terakhir sekolah saya. Tidak, coret itu. Lirik lagu tersebut, pertama-tama, mewujudkan dirinya menjadi salah satu kredo dalam hidup saya. I was born too late into a world that doesn't care. Dalam ambang kesadaran yang sederhana, potongan lirik tersebut menjadi justifikasi atas banyak hal yang saya rasakan atas diri saya sendiri.

Barangkali saya memang lahir terlambat ke dunia yang sudah tak peduli akan banyak hal yang dulunya pernah sangat berarti. Aneh, katanya dunia sudah sangat tua. Manusia lahir dan lahir kembali bersama jejak sejarah dalam dirinya. Kesadaran tersebut mau tidak mau membuat kita tercerabut dari artifisialitas hidup, kadang-kadang. Kalau memang kita telah hidup terlalu lama dan dunia telah terlalu tua, mestinya banyak hal tak lagi kita ributkan. Perang. Fashion. Bahkan kematian.

Di sinilah kita kembali diam sejenak. Kita bisa saja dua puluh tahun, tiga puluh tahun, seratus tahun.. dan masih tetap merasa muda sekaligus tua--tersadar bahwa hidup terlalu singkat. Lalu mengapa peduli? Tapi mengapa tak peduli?

Saya tak mengerti kompleksitas relasi tubuh, pikiran, dan jiwa, tapi saya tahu seluruhnya adalah yang besar sekaligus yang kecil. Besar karena ia terangkai menjadi satu kesatuan atas diri kita masing-masing sebagai seseorang yang diciptakan istimewa dan berbeda-beda. Kecil karena kini ia tak lagi terasa begitu istimewa. Dalam lautan manusia, dunia, jagat raya.. kita barangkali bukan apa-apa. In the scheme of things, we're nothing at all**.

Dalam kesadaran tersebut, semua rencana gugur. Semua keinginan tergagalkan. Kita tak punya kuasa atas apapun, terutama diri sendiri. Akhirnya hanya bisa percaya pada kebaikan semesta dengan hukumnya yang sebenarnya tak terlampau rumit: segalanya berjalan secara pasang-surut.

.. dan tak semua orang bisa kita harapkan untuk mengerti. Kadang-kadang, sikap diam dan tercerabut diidentifikasi sebagai sebuah simptom atas apa yang dengan banalnya kini disebut kegalauan. Ya, terlalu banyak distraksi dalam realita kita sehari-hari hingga kita lupa di dunia (yang menurut para ilmuwan, sejarawan, juga rohaniwan) yang telah tua ini, kita terpukau dengan keabadian dan menolak tua. Menolak untuk menjadi tiada. Banyak hal bermunculan, mengubah berbagai aspek dalam hidup manusia modern, membuat banyak hal yang tak otentik menjadi bernilai dan penting untuk dikejar hingga penyanyi-penyanyi punk-rock kini tak banyak tersisa.

Saya tak berharap untuk menjadi seorang penyanyi punk-rock dengan riasan bunga di kepala. Mungkin hanya sedikit ruang bagi so-called meditasi yang tak terkooptasi realita.


-M O O N Y
*Peregrine, dalam beberapa terjemahan berarti Elang. Beberapa sumber mengacunya sebagai Pelancong, Orang dari Luar, atau Orang Asing.
**The Riddle-Five For Fighting (Album Two Lights, 2006).

Jumat, 22 April 2011

Optimis Patologis

Ada banyak moda untuk berkomunikasi. Maksud saya, bukan cuma verbal atau nonverbal, tapi juga bagaimana anda bereaksi dan membuat percakapan mengalir. Dulu sekali, saya dan seorang teman pernah membayangkan bagaimana rasanya jika kami bertemu orang yang persis kami. Bukan secara fisik, tapi dengan cara berpikir dan kepribadian yang persis serupa. Jika keserupaan sering dijadikan alasan bahwa seseorang bisa cocok dengan orang lainnya, maka dua orang yang persis sama pasti akan berujung kekacauan.

"Kalau gue ketemu orang yang persis sama kayak gue,
gue pasti ga bakal tahan sama dia."

"Err.. bener juga sih. Gue juga.
Gue aja sering ga tahan sama diri gue sendiri."

Bukan, di sini saya bukan sedang ingin mengamini apa yang namanya opposite attraction. Hanya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa sering rasanya kita kesulitan menghadapi diri sendiri--sampai-sampai perlu berlari kepada obat tidur atau buku-buku self-help.

"You fix your own car?"
"Cars are easy. It's people you need a manual for."**

Saya barangkali belum bertemu setiap manusia yang hidup di dunia, tapi cukuplah bertemu mereka yang punya tabiat antagonis (karena selalu mengcounter setiap pernyataan yang keluar dari lawan bicaranya dengan nada sarkastis), permisif (karena selalu bilang "maaf" di akhir kalimat dan selalu mengubah setiap bentuk pernyataan jadi bentuk pertanyaan), sampai yang rasanya harus sedikit dicurigai karena terlalu ramah (maklum, kalau ada satu doktrin urban yang nempel di kepala saya, maka itu adalah kebaikan seorang asing yang terasa palsu dan jadi menakutkan).

Lagi, ada banyak moda untuk berkomunikasi. Kalau sekarang, setiap lingkaran kecil baru terbuka jika ada satu topik hangat yang fasih kau sampaikan dengan mata membelalak, atau bicara dengan sikap terang-terangan tentang suatu hal yang masih buram, atau cercah cela halus di balik lelucon yang tadinya dimaksudkan-untuk-membuat-yang-lain-tertawa tapi nyatanya kerap-menyakiti-hati, terus kenapa?

(saya tetap kadang-kadang tidak tahan dengan diri sendiri kok, mau ada ataupun tidak orang yang serupa dengan saya).


- M O O N Y
Karena penggunaan kata romantis sepertinya sedikit salah kaprah (dan karenanya tidak diterima), saya memaksa frasa optimis patologis menjadi alternatif untuk menyebut diri sendiri. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah percakapan verbal nonlisan dengan seorang teman di Sabtu sore, dia yang lantas minta disebut seorang "sinis realistis". Frasa ini juga muncul di film Reality Bites (1994).

**dialog Greta Randolph, dari film Sisterhood of the Traveling Pants 2 (2008).

Minggu, 13 Februari 2011

(Not So) Cheesy Pop Song

"Well, I always kind of wanted to write a book that all took place within the space of
a pop song, you know, like 3 or 4 minutes long,,"

Saya rasa saya ketemu apa yang dimaksud Ethan Hawke dalam Before Sunset tersebut. Tipe lagu yang seketika didengar langsung membuat anda ingat berbagai macam rasa--dalam beberapa sisi heartwarming sekaligus melankolik. Padahal lagu itu begitu.. well, pop. Bukan lagu macam-macam tentang hidup yang dikemas dengan kata-kata rumit.

Jesse mendeskripsikan sebuah momen dalam momen, momen-momen yang bergerak secara simultan. Barangkali tanpa kita sadari, seperti itulah kerja lirik dalam sebuah lagu. Dengan cerita yang berjalan, tak harus linear, yang berawal dari sesuatu sesederhana tarian yang tak direncanakan. Dan tentu saja, esensi paling utama yang membentuk cerita: gagasan. Gagasan yang muncul dari kejernihan, yang lalu dari situ segala sesuatu selanjutnya berjalan dan berjalinan membentuk cerita keseluruhan.

"You put the beautiful in life."

*****

He knows he's not remembering this dance.
He's there!
He's there in both moments simultaneously.

And just like for an instance, all his life is just folding into itself,
and it's obvious to him that time is a lie.

That's it's all happening all the time,
and inside every moment is another moment.
All happening simultaneously.

(Jesse Wallace, Before Sunset)

*****

Banyak waktu terlewat tanpa kita pernah sadar atau ingat persis apa yang sebenarnya terjadi. Ann Brashares, dalam rangkaian seri Traveling Pants-nya, pernah berkata bahwa kita barangkali terlalu risau tentang yang "sebenarnya" dalam sebuah momen ketimbang perasaan kita sendiri saat mengalami momen tersebut. Jika kembali diingat-ingat, berapa persen dalam sehari kita sungguh-sungguh ingat apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan semata rekayasa perasaan kita sendiri?

Dalam setiap momen terdapat momen lainnya. Seperti saat ini, tepat saat menulis ini, saya mendengarkan lagu yang bercerita tentang sebuah lagu. Di dalamnya ada Jesse yang berkisah tentang seorang pria yang bermimpi menjadi petualang, bukan duduk di meja marmer dan memakan sepiring lobster. Bukan tentang seseorang yang.. kaku dalam memaknai peristiwa. Tetapi ia yang ada sekaligus tak ada dalam momen, membiarkan dirinya melompati waktu dan ruang yang kasatmata.


-M O O N Y
ditemani album Slice dari Five for Fighting dan termangu sesaat ketika mendengar track berjudul This Dance. Lagi-lagi mengingat potongan Before Sunset (rasa-rasanya setiap postingan tentang ini harus mulai diberi label "Before Sunset" sendiri). Teringat potongan percakapan dengan seorang teman juga, katanya, "Tahu nggak, kenapa kebanyakan cowok lebih suka Before Sunrise? Soalnya mereka tuh maunya cuma fooling around, tanpa ikatan." Ah, another words of wisdom from you, Miss Madeline! :)

Kamis, 06 Januari 2011

Malam Kudus

Dulu saya bertanya pada Ibu saya kalau-kalau ia pernah mendengar sebuah lagu yang lebih menyedihkan dari duet Utha Likumahuwa dan Trie Utami dalam Mungkinkah Terjadi. Sepertinya ya, jawab beliau. Judulnya Ayah, tapi saya lupa Ibu bilang penyanyinya siapa. Tapi, bu, bisakah lagu menjadi sesuatu yang begitu membuat depresi walau terlepas dari memori? Barangkali saya khawatir kita selamanya tetap tak bebas dari dugaan dan asumsi. Atau barangkali kita memanglah gabungan dari seluruh kehidupan yang telah kita jalani. We are the sum of our lives, kata Ethan Hawke di Before Sunset.

Ibu, kenapa orang suka berandai-andai, berharap waktu berjalan lima detik lebih cepat atau lebih lambat agar segala sesuatu lain jadinya? Rasa-rasanya, seperti banyak hal lain yang bisa kita cerna dalam makna dan rasa, memang banyak sekali hal yang tidak berjalan linear. Coba, tanya Ibu, berapa kali kau temukan dirimu menangis bahagia atau tertawa karena kesedihan yang tragis?

Dan seperti banyak hal yang sulit kau mengerti, pun banyak yang tak tersampaikan. Seperti cinta juga yang tak linear dengan bahagia, dengan merdeka. Kata Ibu, kadang-kadang sebatas bertukar udara dan sinar matahari yang sama sudah cukup, karena tak tahukah kamu semesta mendukungmu (jika kamu percaya)?

***

Tentang cinta yang menjadi rasa takutmu; mengejan dalam mimpimu; sengit dan selalu menikammu; setajam kebencianku padamu; memaksamu membunuh; mengejar dan terus mengikatmu.

Jika saja ada jendela dan segelas soda.

Tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu; betapa ku merindukanmu; benci dan kelam membisu; tak juga habis-habis.

Tak ‘kan juga habis-habis.[1]

***

Di antara banyak musisi yang mengingatkan betapa mengganggunya cinta, barangkali melancholic bitch bisa dianggap paling berhasil. Karena benar, tentu saja, cinta mengganggumu dalam seluruh level kesadaranmu—lalu kau mabuk untuk lari dari itu. Karena setiap kau nyalakan teve/radio/komputer di situ selalu ada cinta dengan segala jenisnya.

Syukurlah cinta tak perlu wiski atau bir oplosan.

Tapi barangkali cinta perlu warna yang lain selain merah muda. Mungkin biru tua, hitam, atau abu-abu.

***

00.12 am, 25 Desember 2010


[1] Tentang Cinta, lagu oleh Melancholic Bitch. Dari album Anamnesis.


-M O O N Y