Selasa, 28 Mei 2013

Catatan dari Perjalanan

"Menurut lo, siapa yang bikin (candi) Borobudur?"

"Orang-orang yang taat."

Hari Sabtu, 25 Mei 2013 yang lalu, meski perayaan Waisak di Borobudur kacau karena ulah beberapa orang yang tidak tahu tata krama, saya terhenyak karena jawaban seorang teman yang keberadaannya harus dilestarikan di muka bumi ini. Jawaban yang ia berikan resmi mengakhiri kepercayaan saya terhadap alien sebagai pembuat Candi Borobudur, apalagi pekerja-pekerja yang mengangkut batu-batu satu per satu seperti yang dibayangkan rezim Soeharto dan dipajang diorama-nya di Monumen Nasional.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu persis apa yang saya cari dari sebuah perjalanan--sering kali hanya dimotivasi dari keinginan untuk kabur sejenak dan menari di tanah yang baru. Saya tidak sadar bahwa terdapat benang merah dari kota-kota yang saya datangi ini: sejarah, dari yang masih hidup dan yang sudah mati.

Beberapa bulan yang lalu saya mengunjungi nenek saya di Sumatra Barat. Beliau adalah seseorang yang kerap meminta saya, sejak di bangku SMA, untuk menuliskan kisah-kisah hidupnya sebelum beliau tiada. "Tugas" itu pernah terlaksana sebentar, sebelum akhirnya waktu dan segala hal lain membuatnya terhenti. Ketika menuliskan kisah hidup Oma--begitu saya memanggil beliau, saya sering terheran-heran karena terasa dari begitu jauh cerita-cerita itu datang. Tentang perang, tentang kain yang harus didagangkan dengan menempuh perjalanan berkilometer-kilometer jauhnya dengan berjalan kaki, juga tentang manusia yang bisa berjalan di antara hujan tanpa kebasahan. Hingga kini, saya tak pernah bisa memandangi wajah beliau tanpa bertanya dalam hati, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya hidup dan mengalami semua itu, lalu hidup di saat ini dan mengalami semua ini? Bagaimana rasanya melihat generasi yang malas, ketika pernah hidup di suatu masa saat hiduplah manusia-manusia yang bisa berjalan melewati hujan karena keutamaan hidup mereka?

Pada perjalanan yang belum lama kemarin, saya dan beberapa teman juga singgah di kampung halaman salah seorang teman dalam rombongan kami. Bertuturlah ia tentang seorang perempuan tua yang dipanggilnya Mbok, perempuan yang hidup lebih tua dari neneknya sendiri. Perempuan yang berkisah kepadanya tentang sosok Nyi Roro Kidul yang memberinya harta pusaka, sekaligus perempuan yang menemani nenek teman saya ini berdagang keliling kampung setiap hari. Teman saya datang untuk menemui si Mbok, yang memanggil semua cucunya dengan nama kecil teman saya. Tanpa disangka, si Mbok telah meninggal sebulan yang lalu. Teman saya termenung sebentar, sebelum akhirnya bercerita kepada kami bagaimana si Mbok meninggal. Melewati usia entah keberapa--mungkin delapan puluh, sembilan puluh atau seratus, si Mbok tak lagi mau makan menjelang hari-hari terakhirnya. Seorang ustadz datang ke rumah keluarga si Mbok dan bertanya apakah benar si Mbok telah meninggal dunia, karena ia mengaku didatangi si Mbok yang berkata, "Saya meninggal, tolong mandikan dan doakan".

Perjalanan pulang kami diisi berbagai kisah tentang keutamaan-keutamaan diri manusia--mengapa dalam hidup yang baru singkat kami jalani ini sudah begitu banyak kebingungan yang kami rasakan, mengapa itu semua sering menganggu pikiran padahal sesungguhnya tidak signifikan, hingga diri sebagai subjek yang bagaikan "butiran debu", sepenuhnya insignifikan dalam kerumunan.

Untuk apa sebenarnya kita semua ada di sini, dipertemukan dengan mereka yang masih hidup dan bergulat dalam kehidupan sehari-hari yang bising, namun juga mendengarkan kisah-kisah mereka yang sudah mati dalam keutamaan?


-M O O N Y

Rabu, 08 Mei 2013

Can I just have one dinner with you all?

What is it like to pick up with these characters after a long time away?
Linklater I don't know about you guys, but I feel like Jesse and Celine are alive in some parallel universe at all times.
Hawke I feel that way, too.
Delpy You guys are so New Age.

Yep, The New York Times' interview with the three of 'em.

Minggu, 31 Maret 2013

Dylan Says: On Time


No one can ever do that.
snapshots from No Direction Home (2005)

Minggu, 24 Februari 2013

Kepalaku dan Hal-Hal yang Tak Selesai

1. Ketika konsep rumah adalah sesuatu yang asing hingga tak ada yang dapat disebut rumah kecuali sepetak bumi yang kau injak, senantiasa bergerak, maka nyaris tak ada yang namanya perasaan yang disebut rindu rumah. Apakah ini yang namanya terbebas? Apakah ini yang sekaligus kutukan? Apa itu rumah? Temanku berkata rumah adalah suatu konsep yang mesianistik: yang diharapkan untuk datang pada akhirnya, meski entah kapan sehingga upayamu menanti kedatangannya menjadi ritual yang jauh lebih kau hayati dibanding kedatangan itu sendiri. 

2. "It's not a house. It's a home. Begitu dalam Bob Dylan, The Ballad of Frankie Lee and Judas Priest, yang ditulis pada tahun 1968. Barangkali tak ada terjemahannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Namun ada dalam bahasa Indonesia-Jawa: Ini bukan rumah. Ini omah." - Ayu Utami dalam Omah, kolom Kodok Ngorek koran Seputar Indonesia, circa 2007.

3. Tarian Cokek itu disandingkan dengan tari ronggeng, dianggap erotis dan tabu oleh masyarakat, meski faktanya ketika sekolah dasar dahulu aku dan teman-temanku satu kelas diajari tarian tersebut di aula sekolah yang jika hujan atapnya bocor itu. Katanya tari itu mesti dilakukan berpasangan. Meski kami selalu dibagi ke dua kelompok bersisian, laki-laki dan perempuan, tak pernah kami benar-benar menarikan tarian tersebut berpasang-pasangan. Cokek, apakah solider apakah soliter? Tapi menari adalah menemukan, menemukan, menemukan. Dan penari cokek itu, barangkali takdirnya adalah menunggu? Barangkali kita semua juga begitu? Dan di bawah rembulan yang bulat dan bercahaya terang, penari cokek dan sang penyanyi hanya memandang, hatinya luka.

4. "Tuhan tahu, tapi menunggu," katanya menyitir Tolstoy sore itu saat aku bertamu ke rumahnya. Istrinya, seorang hajjah nyentrik yang senang mengenakan selendang hitam dengan motif palu dan arit kecil-kecil, ikut duduk di hadapanku dan berseloroh, "Nah, kau ingin tuntunan rohani macam apa hari ini? Kewarasan a la Gandhi atau Nietzsche?"

5. Aku pikir, para tokoh dalam cerita-cerita tradisional dan mitologi kuno itu lebih suka menyerahkan segala sesuatu kepada pertanda, karena mereka tahu menjadi bebas yang sesungguhnya bukanlah keleluasaan dalam membuat pilihan, melainkan membebaskan diri dari pilihan-pilihan dan membiarkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya.

Minggu, 20 Januari 2013

Galau a la Gie

Aku tidak percaya akan sesuatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa. Aku tak percaya apa-apa. Tetapi aku sekarang masih mau hidup. 
Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri. 
Bagaimana bila memang hidup adalah keruntuhan demi keruntuhan? Apakah kita harus berpaling dari fakta-fakta ini?

Soe Hok Gie, 30 Maret 1962, dengan sedikit perubahan.

Kurang Lebih

Karena menulis tentang kesan di tahun 2012 sudah terlambat, sementara untuk menuliskan kesan di tahun 2013 jauh terlalu dini, saya memutuskan tulisan ini tidak ada pijakan kurun waktunya. Hanya semacam usaha untuk mulai menulis kembali saja, setelah berbulan-bulan merasa otak dan jari lumpuh oleh (sebut saja) rutinitas.

Bukan apa-apa, saya bukannya benci pergi bekerja setiap hari. Saya cuma semakin yakin saya tidak bisa kompromi dengan kenyataan bahwa saya mesti berjejalan dengan ratusan manusia setiap pagi dan sore, merasa sedang mengejar sesuatu yang tak sudah-sudah. Seperti gambaran ular Ouroboros yang memakan ekornya sendiri, seperti itu pula perasaan saya setiap hari.

Singkat cerita, saya berhasil melarikan diri. Tindakan tidak terpuji yang untuk melakukannya ternyata terasa sulit. Namun saya sendiri sering terheran-heran kini karena ternyata saya tidak merindukannya sama sekali. 2013 pun tidak buang-buang waktu untuk membayar semua hal yang terjadi pada tahun sebelumnya. Satu per satu masalah menyelesaikan diri-dirinya sendiri. Orang-orang datang, pergi, lalu datang lagi. Dan rasanya saya telah menemukan diri saya lagi. 

Suatu hari, seraya menonton televisi, seorang teman berkata bahwa pada usia ini--alias 20an, memang usia ternyampah. Saya ragu bahwa fase dan perasaan "nyampah" ini akan pernah usai (memangnya apa sih hal yang begitu penting yang pernah saya lakukan untuk kemaslahatan umat manusia?), tapi setelah saya membaca lagi tulisan-tulisan sejak SMA dan awal-awal kuliah dulu, saya teringat bahwa saya memang tak pernah punya ambisi yang muluk selain menjadi... bebas.

Dan inilah saya. Tidak ada lagi kewajiban untuk mengerjakan makalah dan memenuhi kuota absensi. Tidak ada lagi yang mengharuskan saya naik bus dan kereta setiap pagi untuk kemudian duduk menghadap komputer selama hampir delapan jam tanpa henti. Tidak ada lagi kiat-kiat memasang ekspresi tanpa esensi. Dan tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan setengah hati.

Bebas dan tak-bebas bisa diperdebatkan lagi. Namun dalam takaran tertentu, bebas itu ada dan nyata, bukan sekadar utopia. Saya kini merasakannya dari ujung kaki hingga kepala.


-M O O N Y
(To) lie down and get lazy, set all of your senses free. This is the time.

Kamis, 17 Januari 2013

XII

Pengembara mesti mengetuk tiap-tiap pintu orang asing supaya dapat menemui pintunya sendiri,

dan kita harus menjalani segala dunia supaya akhirnya sampai ke tempat batin suci.

Mataku mengembara jauh dan luas, sebelum aku menutupnya dan berkata: "Di sinilah engkau."

Pertanyaan dan seruan "Di mana?" cair dalam airmata beribu arus dan memenuhi dunia dengan pasang kepastian: "Aku ada."


Gitanjali (Rabindranath Tagore)