Minggu, 11 Oktober 2015

Lupa

Ketika memindahkan buku-bukuku ke gudang di bagian belakang rumah Nenek, aku seketika teringat gudang milik Jose Arcadio Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. Jose Arcadio yang pendiam menghabiskan seluruh waktunya di dalam kamar di bagian belakang rumah keluarga Buendia untuk menguraikan logam atau mengukur jarak cahaya. Seluruh sisa hidupnya dihabiskan dengan berhalusinasi melihat hantu musuh lamanya atau bicara dengan dirinya sendiri, sambil duduk diam di bawah pohon di halaman belakang rumahnya. Kelak setelah ia mati, kamar itu digunakan oleh keturunan-keturunannya untuk membuat perhiasan berbentuk ikan dari emas, menguraikan berbagai zat-zat kimia, hingga menggambar peta perjalanan menuju dunia baru. Kamar itu menumbuhkan berbagai gagasan dan nyali yang membuat orang lupa bicara dan lupa yang mana yang nyata.

Apa rasanya lupa bicara?

Dancing Barefoot

The plot of our life sweats in the dark like a face
The mystery of childbirth, of childhood itself
Grave visitations
What is it that calls to us?
Why must we pray screaming?
Why must not death be redefined?
We shut our eyes, we stretch out our arms
And whirl on a pane of glass
An asphyxiation, a fix on anything
The line of life, the limb of a tree
The hands of he
and the promise that she is blessed among women

Jumat, 03 April 2015

Maret

Sejak kapan hidup jadi seperti ini peduli pada sepatu apa yang harus kau pakai kalau ketemu istri presiden. Sejak kapan hidup jadi seperti ini ikut lari dan ikut makan sehat seakan-akan hidup lebih panjang itu pasti lebih enak. Sejak kapan hidup seperti ini gelisah setiap kali baterai ponsel berubah garis tipis warna merah dan harus selalu menimpali percakapan dengan "hahaha" atau "hehehe". Sejak kapan hidup seperti ini yang penting program jalan, media sosial jalan dan jumlah likes atau retweet sesuai target. Sejak kapan hidup seperti ini harus bikin tulisan pendek yang mudah dibaca supaya apa yang kita buat diperhitungkan orang.

Sejak kapan seperti ini dan sejak kapan peduli. Sudah lama tak membaca untuk diri sendiri dan sudah lama lupa kapan terakhir kali ada percakapan yang tak cuma masuk lewat kuping kanan lalu keluar lewat kuping kiri.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Gelombang

Dua belas tahun setelah Akar terbit pertama kali, dua minggu setelah terakhir kali pembahasan tentang imata diulangi lagi di hari Minggu sore, beberapa jam setelah seorang kawan bertanya melalui Whatsapp, "Emang kamu nggak takut kawin?" dan kujawab "Aku lebih takut mati", dan dia bertanya "Kenapa?", yang kujawab "Bukan matinya, tapi setelahnya", dan dia bilang "Emang hidup abis mati betulan ada ya?", yang kujawab lagi setelah beberapa menit terdiam "Harusnya sih, kalau enggak hidup jadi pointless, kan?", aku menutup halaman terakhir novel berjudul Gelombang. Novel yang, tentu saja, bicara tentang mimpi, yang lupa, yang ingat dan yang ingin semua manusia tetap lupa. 

Jangan terkejut kalau pada halaman terakhirnya Kell muncul lagi dan bernyanyi: I am the eye in the sky, looking at youuu.. I can read your mind, karena dalam hidup ini memang tidak pernah ada yang kebetulan. Iya, kan, Tuhan? (Atau siapapun yang baca ini?)


-M O O N Y


Minggu, 05 Oktober 2014

August

This is an attempt of documenting one of the most random conversation I have ever had, one that seems to linger in my memory, on one night I met a very captivating soul. I remember we mentioned Jane Goodall, but can't remember who said the name first. Sitting face to face to each other, he told me and a friend of mine that he wished to be born in the 1960's, just to go back to Gombe Stream, Tanzania, and ask Jane Goodall to married him. The conversation then led to another topics, from human nature to why do we have to exist. I remember, with a tilted head, a half-crooked and half-disoriented smile, I said to myself, and silently to a person I probably won't have the chance to meet ever again: I think you are wonderful. Don't worry, my admiration has never been overwhelming. I'm content just by knowing that your kind of people are really alive.

The chances of having random conversations and experiencing unexpected connections--aren't these all that make us go by, day by day, just to know that we are truly alive?

Kamis, 28 Agustus 2014

Tentang Bulan yang Begitu Panjang

Dari satu berderet hingga tiga puluh satu. Rangkaian panjang dua puluh empat jam yang di dalamnya aku bergelut sengit dengan keinginan untuk hidup yang begitu kuat dan keinginan untuk berbaring diam yang sama kuatnya. Ada tangan-tangan panjang yang menarikku dari keinginan yang kedua, sesaat terasa seperti sebuah berkah yang muncul tiba-tiba. Ada sesuatu yang pasti, pasti dicecapkan paksa ke dalam diriku, hingga setiap hari melambat, gambaran-gambaran besar terlihat jelas, setiap orang dan topik jadi menarik, setiap momen jadi berarti, detik-detik yang kupikir, "Inilah dia, carpe diem." Naturally high. Aku takut untuk tidur berhari-hari, takut ketika terbangun aku sadar dan keinginan kuat yang bertentangan dengan vitalitas datang lagi. Apa ini, pikirku takut. Sementara tanggung jawab bertumpuk, ocehan-ocehan tentang menjadi dewasa terngiang di telinga tanpa jelas apa maunya, hebat sekali jika kewarasan tetap di garis ambang kesadaran setiap hari. Ini masih tanggal dua puluh saja, pikirku kelu. Naik, turun, akulah penumpang yang duduk paling depan di permainan roller coaster hari-hari ini. Di usia ini, apakah terlalu cepat jika berpikir tentang mati? Apakah terlalu tua untuk menggelinding saja dari hari ke hari, berharap andai saja itu kita yang mengejar daun kering di jalanan bekas hujan dan bukannya bekerja untuk sesuatu yang tak tahu apakah masih akan kita yakini esok hari?

Dua puluh delapan. Kita lihat siapa yang menang di tiga puluh satu nanti, Gus.

Sabtu, 21 Juni 2014

Lamun

Satu-satunya yang menarik buatku dari pertemuan sore itu adalah pemandangan kedua tas kami yang bersisian di atas kursi. Begitulah, sementara dia dan saudara-saudaraku yang lain bertukar cerita dengan seru, cerita yang awal dan tengahnya aku tak tahu karena terlambat hadir, cerita yang sepertinya akan agak panjang dan bercabang karena semua ingin ikut ambil bagian di dalamnya, aku tercenung memperhatikan tas kulit warna oranye berukuran sedang itu. Tas itu tidak mencolok karena warna atau ukurannya. Tas itu, sebaliknya, tampak lucu karena sepertinya hanya berisi dua atau tiga barang, sehingga sia-sialah sisa ruang dalam tas yang cukup bagus itu. Terkaanku tas itu hanya berisi dompet dan sisir, mungkin juga charger ponsel dan sebotol parfum. Aku melamun sendiri, mungkin akan menyenangkan sekali membawa-bawa tas yang di dalamnya berisi benda-benda yang sederhana. Tas yang di dalamnya tidak ada alat makan, sikat gigi, obat-obatan, jaket hujan, payung dan buku bacaan. Tas yang seakan-akan pemiliknya tidak siap untuk kabur kapan saja. Tas yang pemiliknya tidak perlu khawatir akan kehujanan atau terjebak dalam kerusuhan mendadak di jalanan sehingga tak bisa pulang. Tas yang pemiliknya tahu persis di mana rumahnya, di mana tempat barang-barangnya tersusun dan tidak akan diganggu oleh siapa-siapa. Tas yang pemiliknya tahu, tanpa susah payah, akan selalu ada yang membantunya dan dia tidak pernah sendirian dengan masalah-masalahnya saja. Kulirik saudara-saudaraku, seperti biasa terheran-heran betapa jauh kami telah tumbuh dewasa dan menjadi begitu berbeda. Semakin tersadarlah aku, satu-satunya ruang untukku adalah di dalam kepalaku sendiri.