Sabtu, 12 Desember 2015

Once,


When we were in love (if we were) / I was an eagle/ And you were a dove.


Mbak Laura, aku nggak ngerti kenapa orang lebih banyak dengerin Adele daripada kamu, padahal kamu itu kayak Joni Mitchell, Nick Drake dan Bob Dylan dijadiin satu.

Rabu, 28 Oktober 2015

Lorem Ipsum

"But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain of itself, because it is pain, but because occasionally circumstances occur in which toil and pain can procure him some great pleasure. To take a trivial example, which of us ever undertakes laborious physical exercise, except to obtain some advantage from it? But who has any right to find fault with a man who chooses to enjoy a pleasure that has no annoying consequences, or one who avoids a pain that produces no resultant pleasure?"

Minggu, 11 Oktober 2015

Lupa

Ketika memindahkan buku-bukuku ke gudang di bagian belakang rumah Nenek, aku seketika teringat gudang milik Jose Arcadio Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. Jose Arcadio yang pendiam menghabiskan seluruh waktunya di dalam kamar di bagian belakang rumah keluarga Buendia untuk menguraikan logam atau mengukur jarak cahaya. Seluruh sisa hidupnya dihabiskan dengan berhalusinasi melihat hantu musuh lamanya atau bicara dengan dirinya sendiri, sambil duduk diam di bawah pohon di halaman belakang rumahnya. Kelak setelah ia mati, kamar itu digunakan oleh keturunan-keturunannya untuk membuat perhiasan berbentuk ikan dari emas, menguraikan berbagai zat-zat kimia, hingga menggambar peta perjalanan menuju dunia baru. Kamar itu menumbuhkan berbagai gagasan dan nyali yang membuat orang lupa bicara dan lupa yang mana yang nyata.

Apa rasanya lupa bicara?

Dancing Barefoot

The plot of our life sweats in the dark like a face
The mystery of childbirth, of childhood itself
Grave visitations
What is it that calls to us?
Why must we pray screaming?
Why must not death be redefined?
We shut our eyes, we stretch out our arms
And whirl on a pane of glass
An asphyxiation, a fix on anything
The line of life, the limb of a tree
The hands of he
and the promise that she is blessed among women

Jumat, 03 April 2015

Maret

Sejak kapan hidup jadi seperti ini peduli pada sepatu apa yang harus kau pakai kalau ketemu istri presiden. Sejak kapan hidup jadi seperti ini ikut lari dan ikut makan sehat seakan-akan hidup lebih panjang itu pasti lebih enak. Sejak kapan hidup seperti ini gelisah setiap kali baterai ponsel berubah garis tipis warna merah dan harus selalu menimpali percakapan dengan "hahaha" atau "hehehe". Sejak kapan hidup seperti ini yang penting program jalan, media sosial jalan dan jumlah likes atau retweet sesuai target. Sejak kapan hidup seperti ini harus bikin tulisan pendek yang mudah dibaca supaya apa yang kita buat diperhitungkan orang.

Sejak kapan seperti ini dan sejak kapan peduli. Sudah lama tak membaca untuk diri sendiri dan sudah lama lupa kapan terakhir kali ada percakapan yang tak cuma masuk lewat kuping kanan lalu keluar lewat kuping kiri.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Gelombang

Dua belas tahun setelah Akar terbit pertama kali, dua minggu setelah terakhir kali pembahasan tentang imata diulangi lagi di hari Minggu sore, beberapa jam setelah seorang kawan bertanya melalui Whatsapp, "Emang kamu nggak takut kawin?" dan kujawab "Aku lebih takut mati", dan dia bertanya "Kenapa?", yang kujawab "Bukan matinya, tapi setelahnya", dan dia bilang "Emang hidup abis mati betulan ada ya?", yang kujawab lagi setelah beberapa menit terdiam "Harusnya sih, kalau enggak hidup jadi pointless, kan?", aku menutup halaman terakhir novel berjudul Gelombang. Novel yang, tentu saja, bicara tentang mimpi, yang lupa, yang ingat dan yang ingin semua manusia tetap lupa. 

Jangan terkejut kalau pada halaman terakhirnya Kell muncul lagi dan bernyanyi: I am the eye in the sky, looking at youuu.. I can read your mind, karena dalam hidup ini memang tidak pernah ada yang kebetulan. Iya, kan, Tuhan? (Atau siapapun yang baca ini?)


-M O O N Y


Minggu, 05 Oktober 2014

August

This is an attempt of documenting one of the most random conversation I have ever had, one that seems to linger in my memory, on one night I met a very captivating soul. I remember we mentioned Jane Goodall, but can't remember who said the name first. Sitting face to face to each other, he told me and a friend of mine that he wished to be born in the 1960's, just to go back to Gombe Stream, Tanzania, and ask Jane Goodall to married him. The conversation then led to another topics, from human nature to why do we have to exist. I remember, with a tilted head, a half-crooked and half-disoriented smile, I said to myself, and silently to a person I probably won't have the chance to meet ever again: I think you are wonderful. Don't worry, my admiration has never been overwhelming. I'm content just by knowing that your kind of people are really alive.

The chances of having random conversations and experiencing unexpected connections--aren't these all that make us go by, day by day, just to know that we are truly alive?