Rabu, 17 Oktober 2012

How to Turn Your Bitterness Into Sarcasm

Sedikit Tentang Sesal
Dilontarkan pada berbagai kesempatan, sesal merupakan kata kambing hitam yang paling nista di muka bumi--paling tidak dalam Bahasa Indonesia yang sesuai EYD. Kita menyesali kematian kerabat/keluarga, kita menyesali perempuan/laki-laki yang tidak kita dekati, kita menyesali pekerjaan yang kita tinggalkan, kita menyesali sekolah yang tidak kita lolosi, kita menyesali memesan sambal ayam penyet yang paling pedas, kita menyesali meminum susu yang sudah kadaluwarsa, kita menyesali duduk di cat yang masih basah, kita menyesali lupa membawa celana dalam cadangan, dan yang paling fatal kita menyesali kita yang dilahirkan di muka bumi (*puk, puk). Mitos sesal ini dimulai dari asumsi bahwa apapun itu yang kita lewati/lupakan/tinggalkan/gagal/dsb bisa saja membawa kita pada--meminjam terminologi Arab--Sirat al-Mustaqim. Kata kunci yang perlu kita lihat di sini adalah bisa saja, sebuah kata yang biasa digunakan untuk probabilitas. Probabilitas, dalam bahasa awam, berarti ada kemungkinan benar dan salah. Dalam hal ini probabilitas di sini dapat mencapai 50% yang berarti bisa saja benar bisa saja salah. Ilusi bahwa apabila kita mengambil jalan yang lain maka hidup kita akan lebih baik telah berkumandang sejak ribuan tahun yang lalu, mungkin saja, belum ada rekam sejarah yang membuktikan pernyataan ini salah. Namun coba saja, buktikan bahwa andaikan menjadi: dokter, insinyur, pengacara, pelancong, kehidupan akan sepasti-pastinya lebih baik dari sekarang ini. Peningkatan status sosial? Mobilitas pendapatan finansial? Penemuan makna ilahiah? Moksa? ****

Pertanyaan yang tidak pernah selesai mengenai probabilita: Kalau kapitalisme modern adalah afinitas elektif dari asketisme golongan Kristen Calvinis yang memilih bersikap baik dan bekerja keras selama hidup di dunia, yang didorong oleh probabilita bahwa mereka bisa saja berakhir di surga atau neraka yang telah ditentukan sebelum mereka lahir, kenapa mereka memilih untuk tetap bersikap baik? Apa supaya tidak menyesal?

Tulisan ini masih mentah dan seharusnya dirahasiakan. Namun demi terwujudnya kewarasan kolektif yang makin langka akhir-akhir ini, tanpa persetujuan penulis saya tergerak untuk mempublikasikan sedikit cuplikannya. Selamat tertawa! (Kalau anda tertawa, artinya akal sehat anda masih jalan. Kalau tidak... silakan follow @aps2201). #FuckYeahAndaru

Dari Ubud #1

Pagi itu, tiga orang yang sedang menampilkan puisi diperlihatkan dalam video-video berbeda. Puisi pertama tentang orang Cina di Amerika yang dibacakan secara over-dramatis untuk memancing gelak tawa. Puisi kedua adalah kecaman terhadap kekerasan dan diskriminasi di Amerika. Saya lupa tentang apa puisi ketiga, tapi seseorang di ruang itu berkomentar tentang kesamaan di antara ketiganya.

"Universal fragility." sahutnya.

Dua kata itu dengan segera menyita perhatian saya, mungkin hingga saat ini. Jangan-jangan, setiap hari kita bukannya bangun tidur dan berpura-pura hidup normal? Barangkali sama seperti vas kristal, kita juga seharusnya ditempeli label "Awas Mudah Pecah" di dahi?

Minggu, 23 September 2012

Zizek Tells It Like It Is

"In Nanjing, half a decade ago, an elderly woman fell while getting on a bus. Newspaper reports tell us that the 65 year old woman broke her hip. At the scene, a young man came to her aid; let us call him Peng Yu, for that it his name. Peng Yu gave the elderly woman 200 RMB (at that time enough to buy three hundred bus tickets) and took her to the hospital. Then he continued to stay with her until the family arrived. The family sued the young man to be guilty and ordered him to pay 45,876 RMB. The court reasoned, 'according to common sense', that because Peng Yu was the first off the bus, in all probability he had knocked over the elderly woman. Further, he actually had admitted his guilt, the court reasoned, by staying with the elderly woman at the hospital. It being the case that a normal person would not be as kind as Peng Yu claimed he was."

Cited from Michael Yuen's "China and the Mist of Complicated Things", on Zizek's review of "The Act of Killing" movie, "Welcome to the Spiritual Kingdom of Animals: Slavoj Zizek on the Moral Vacuum of Global Capitalism."

Who's here just losing their faith in humanity again and again? Come and join. That's me in the corner, that's me in the spotlight.

Rabu, 19 September 2012

Dan Inilah yang Saya Lakukan Pada Sebuah Deadline

Menarasikan Ketololan
17/05/2010

Sudah berjam-jam mataku terpaku pada layar notebook sepuluh inchi. Sudah berjam-jam berkas-berkas sinarnya merusak mataku yang jarang berkedip jadinya karena sinar radiasi yang nyari menguarkan aura "TUGAS", seluruhnya kapital, ke setiap celah di otakku. Aku tahu seharusnya ancaman bahwa tugas ini harus dikumpulkan besok lusa dan setelah itu masih ada segunung tugas lainnya yang menanti untuk diselesaikan bisa membuatku ketar-ketir setengah mati dan mengetik secepat mungkin hingga jemariku terasa kebas dan aku tak lagi sadar apa yang tengah kuketikkan. Kadang kita hanya perlu membiarkan segalanya mengalir dan kita tidak perlu terlalu keras berpikir. Kasihan notebook ini. Ia sudah hampir dua belas jam bekerja keras dan aku baru menghasilkan separuh tugas. Aku berusaha keras untuk berkonsentrasi, sungguh. Hanya saja hatiku sedang tidak ingin diajak bekerja sama. Begitulah kalau kau menjadi makhluk yang bersenjatakan mood untuk menghadapi hari-harimu, sobat. Ia menjadi senjata yang memakan tuannya sendiri. Begitu banyak orang yang bisa berusaha keras demi satu tujuan tertentu. Begitu pula sebaliknya. Banyak orang yang bisa berusaha menjadi makhluk paling tidak produktif di muka bumi ketika tak ada satu pun tujuan dalam hidupnya. Aku tergolong yang mana, ya? Ada lima makalah yang menanti untuk diselesaikan. Prestasiku sejauh ini: setengah makalah. Dan alih-alih memicuku, hal itu membuatku malah semakin malas-malasan dan mengetik sesuatu yang sangat tidak penting seperti tulisan ini. Aku produktif? Ya, bisa dibilang. Produktif dalam menghasilkan sesuatu yang tidak penting. Sesuatu yang tidak akan meluluskanku dalam, katakanlah, mata kuliah Antropologi Gender. Tapi siapa peduli? Kenapa ada yang harus peduli kalau aku saja yang menjalaninya bahkan tidak peduli? ***

Dari sekian banyak kenangan dan tulisan yang berserak-serakan di notebook sepuluh inchi yang disebut-sebut di atas, tulisan ini yang paling membuat saya tertawa dan seketika merasakan kangen yang amat sangat pada kehidupan kampus. Pada rasa gugup dan ketar-ketir yang menyebar sampai ke ujung-ujung setiap jari di tangan dan kaki setiap kali tugas dan makalah harus dikumpulkan. Pada perjudian gila-gilaan dengan diri sendiri--bisa nggak sih aku nyelesein ini? Dan pada perasaan mengetik tanpa berpikir itu... dan terkagum-kagum, merasa diri sendiri sangat keren dan jenius karena tanpa berpikir, berlembar-lembar makalah bisa selesai! Mejik! 

2010. Dan pada tahun itu, segala hal harus dikonversi ke dalam tulisan yang diunggah ke dalam sebuah blog bernama Mengapa Terlalu Serius, yang sekarang sudah almarhum. Dan penulisnya juga sudah almarhum mahasiswa juga--fakta yang mau tidak mau harus disyukuri meski terasa jadinya banyak hal yang hilang dari diri si penulis sendiri. 


- M O O N Y

Sabtu, 01 September 2012

Supernova

Supernova, saya mulai malas pergi melayat. Saya sedih melihat orang-orang berdukacita akan sesuatu yang seharusnya membahagiakan.  
>> Saya juga malas, dengan alasan yang sama. Tapi pergilah untuk orang-orang yang merasa ditinggalkan itu. Anggaplah mereka menangis karena diri mereka belum terbangun dari mimpi sementara yang mati sudah. Sama malasnya saya pergi ke resepsi pernikahan. Kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan orang-orang malah turut bersukacita. Yang jelas mereka memang membutuhkan doa. Banyak doa. Datanglah untuk berdoa. 
Supernova, saya suka sekali membaca artikel Anda tentang budaya pop dan post-modernisme. Dari artikel-artikel Anda selama ini, apakah Anda sadar bahwa Anda adalah seorang post-strukturalis? Anda menentang semua struktur. 
>> Saya post terhadap apa pun yang Anda pegang tahun lalu, kemarin, bahkan detik yang barusan lewat. Kita sedang berevolusi. Anda bisa memperlancar prosesnya dengan berhenti menggolong-golongkan. Jangan repot-repot.
Supernova, kebencian dan ketakutan saya pada ortu saya tidak tertolong lagi. Saya tidak tahu mesti ngapain. Saya baru sadar, saya TIDAK TAHU APA-APA. Tidak bertujuan. Tidak punya cita-cita. Bertahun-tahun saya dibesarkan dan saya cuma bisa menghabiskan oksigen. Entah apa saja yang mereka jejalkan dalam otak saya. Mungkin cuma kentut. Jangan salahkan saya kalau saya lebih doyan drugs. Mereka yang marah-marah itu tidak tahu enaknya drugs dan sucks-nya hidup. Bisanya cuma masukin anak ke RSKO. Bolehkah saya ketemu kamu, Supernova? Saya mau kerja apa saja untuk kamu. Saya ingin jadi bermanfaat. 
>> Di Supernova, pikiran kamu didisinfeksi. Infeksi pertama yang harus kamu sembuhkan adalah: kebencian dan ketakutan kamu. Bukan pada orang tua kamu. Tapi pada diri kamu sendiri. Satu-satunya yang tidak diajarkan padamu adalah mengenal diri sendiri. Karena itu kamu benci dan takut kepada hidup. Satu-satunya hal yang dilakukan drugs untuk kamu adalah meminjamkan seremah surga dengan bayaran segumpal sel otak. Transaksi yang sama sekali tidak sepadan. Solusi yang benar-benar destruktif. Otak kamu dapat disegarkan tanpa harus dirusak fungsinya. Tergantung apa yang kamu pikirkan--yang MAU kamu pikirkan. Satu-satunya manfaat yang bisa kamu berikan pada Supernova adalah meledak bersama. Ledakkan pikiranmu. Segarkanlah ia dari virus-virus yang membuat arus hidup ini mampat. Supernova ada di mana-mana. Saya, kamu, kita lebih LUAS dari yang kamu duga. Jadi, percayalah, kehadiranmu di sini adalah manfaat terbesar. Tanpa kita harus bertemu muka. 
Supernova, kamu adalah VIRUS!! 
>> Memang. Baru sadar?


Re-reading all Supernovas and finding out that this paragraph pretty much sums up what I feel toward these books.  

Jumat, 24 Agustus 2012

Berburu Bodhi #1

"Gue pengen deh sekali-sekali nyuri. Pengen nyobain aja gitu rasanya."
"Yuk! Gue juga."
"Senior macem apa sih lu??"

(not) so random conversation. (not) that much kidding. #IHeartFadliaHana

Selasa, 21 Agustus 2012

Kafir

Kerumunan adalah tempat kita tak sempat menjadi titik.

Saya lupa membaca kutipan ini dari mana: "Tak ada tempat terbaik untuk menempa diri kecuali (di dalam) masyarakat." Karena itu, ide-ide fatalistik yang pernah numpang lewat di dalam kepala sebaiknya jangan pernah diberi waktu untuk terelaborasi. Sebab percuma saja. Mau tak mau di sinilah tempat untuk kita menyelesaikan diri kita sendiri.

Saya tersaruk-saruk. Sebab kerumunan--keluarga, pertemanan, tetangga, perusahaan, sekolah, masyarakat, negara sampai entah apa struktur lain-lainnya tak sudah-sudah, kadang tak mengizinkan kita menjadi titik yang bebas. Relasi selalu bergaris. Interaksi selalu berbumbu. Saya takut dengan senyum-senyum yang mereka pasang. Barangkali mereka juga takut dengan ketidak-tertebakan atas kami, anak-anak yang mereka saksikan tumbuh dengan kedua mata mereka. Mereka takut kami jadi begundal, sulit percaya bahwa kami bisa memilih untuk diri sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk setiap impian kodian yang dipaksakan dan jalan-jalan hidup yang layak dijadikan pilihan.

Pada suatu dunia yang paralel, saya membayangkan kerumunan-kerumunan ini adalah titik-titik yang mengapung bebas, berwarna-warni, bebas menjadi diri mereka sendiri. Tidak perlu ada mimpi yang dikuantifikasi.

Terima kasih, berkat kalian kini saya sangat sulit percaya.