Sabtu, 14 Juni 2014

Sesuatu yang "sepenuhnya melompat-lompat dalam kesadarannya sendiri"

Pagi ini, nyaris tidak merasa bersalah sama sekali pada tanah yang lembab dan hitam pekat, pada pakaian yang basah kuyup, dan pada berbagai macam serapah yang terlontar di udara atas padatnya jalan raya dan ruang-ruang di antaranya, saya duduk menikmati segelas teh dingin dan membaca esei Tagore yang berapi-api menerangkan tentang kesatuan kreatif. "Kebenaran adalah keindahan, keindahan adalah kebenaran," tuturnya. Siapa saja boleh berdebat panjang lebar tentang premis tersebut, terlebih di masa segala sesuatu terasa artifisial seperti saat ini. Tapi bagaimana jiwa menemukenali keindahan? Mungkin memang tidak rumit. Karena pada segala sesuatunya ada keindahan, jika kita melihat sesuatu adalah bagian yang tak terpisah dari sesuatu yang lain, semacam kesatuan dari hal-hal yang luput kita beri apresiasi. Tumpukan sampah, kerutan wajah, hari yang berputar terlalu cepat dan ketergesa-gesaan, karbon monoksida dan sumpah serapah, semuanya membentuk keindahan dari fragmen kehidupan sehari-hari. Melebihi segala hal, jangan ragu bahwa Tuhan adalah yang maha indah, dan inilah dunia, manusia, hidup, ciptaannya, manifestasinya.

Januari 2013. "Masa lampau adalah seperti mimpi," tulis Gie pada 17 Desember 1961.

Senin, 24 Maret 2014

Affinity

We live so close that we probably seen
the same bird,
the same time they solemnly scream

One day, I'll find just that friend who can see
all this weird beauty
thrown right at me


The Tallest Man on Earth

Sabtu, 22 Maret 2014

Dalam Sebuah Surat yang Diselipkan di Bawah Meja Makan

Kamu belum pernah tahu bahwa kakekku adalah satu-satunya orang yang ingin kuperkenalkan padamu. Simbah, kupanggil dia begitu. Simbah adalah orang yang selalu tampak kesepian--tetapi bukankah semua orang tua tampak seperti itu? Dulu, bertahun-tahun yang lalu, tak pernah kupahami betul kalimat-kalimat yang ia gumamkan setiap kali ia menjagaiku sementara ibu dan bapak pergi berladang. Aku hanya ingat yang paling mengesankan bagiku adalah kedua bola matanya yang memutih, hingga pada suatu hari kutanyakan bagaimana rasanya perlahan-lahan tak bisa lagi melihat. Ketika mendengar pertanyaanku, Simbah hanya menutup kedua matanya dan tersenyum. Ia terdiam lama sekali sampai-sampai aku gusar dan takut pertanyaanku melukai hatinya. Tetapi ia kemudian menjawab lirih, "Tak pernah aku percaya kepada mataku."

Aku tak tahu kenapa jawaban Simbah selalu terngiang di dalam kepalaku. Barangkali itu adalah pelajaran tentang hidup yang pertama-tama kuterima: ragukan segala sesuatu. Kadang kurasa, dengan begitu tak ada lagi yang terasa berat untuk dijalani. Kutelan segala macam falsafah dan omong kosong lainnya yang tampil di depan wajahku karena aku yakin tidak ada yang sungguh benar ataupun salah di dunia ini. Betul kata Simbah, aku serba terbatas dan dunia ini terlampau luas.

Tapi kamu ingat perjumpaan kita saat gulita malam meradang dan kita sebatas dua orang asing yang menumpang di atas bus yang melaju kencang? Saat mata kita beradu, wajah Simbah lah yang muncul dalam benakku. Simbah yang pernah berkata tak percaya pada matanya. Aku memohon maaf kepadanya karena aku tak lagi tidak percaya kepada mataku, karena akhirnya telah kusaksikan kesepian yang brutal di mata yang lain. Detik itu juga, aku percaya, ada sesuatu yang nyata dan benar adanya: keterasingan manusia.

Semoga kamu baik-baik saja, dimana pun kamu berada.

Selasa, 03 Desember 2013

Racau

Pada detik-detik menginjak usia 24 tahun berbulan-bulan yang lalu, ada dua doa yang saya ucapkan sendiri di tengah malam. Persis beberapa jam sebelumnya saya mendapat berita tentang kematian seorang teman lama, sehingga doa pertama terhantar untuk dia. Doa kedua adalah agar di usia ini, saya tak harus bangun setiap pagi untuk menghadapi fakta bahwa ada hal-hal yang tak bisa lagi saya percaya di dunia ini. Dan sekali lagi, misteri yang besar di atas sana--begitu suku Indian menyebutnya, terlalu serius menanggapi doa tersebut. 

Saya tidak tahu apakah kemampuan kita untuk percaya adalah sebuah anugerah atau kutukan. De omnibus dubitandum, kata Descartes. Doubt everything, usulnya, agar kita tak pernah berhenti untuk ingin tahu. Tapi saya pikir rasa percaya jugalah yang mendorong keragu-raguan itu. Dan sayangnya, setiap bentuk kepercayaan (entah itu trust, belief, atau faith) mempertaruhkan sesuatu yang sangat besar dan sesuatu itu lebih sering dicederai dibandingkan dijaga baik-baik. Orang tua, negara, media, sejarah, internet, tetangga sebelah, teman baik, dokter, United Nations, lembaga penyalur zakat, pengemis dan pengamen, dan Ya Tuhan.. jangan lupa Tuhan--seluruhnya kita percaya dan kita ragukan dari waktu ke waktu. Saya yakin tidak ada yang terlahir dan kepingin jadi nihilis, tapi apa boleh buat, kadang-kadang kita bingung juga kenapa matahari terbit setiap pagi tapi lalu tersadar ada dua puluh lima perempuan yang mengalami kasus pelecehan seksual tiap detik, atau Syiah yang masih saja digusur dari tempat mereka sendiri, atau hakim agung korup yang pernah menulis buku tentang anti gratifikasi... Lalu kita dipaksa menelan semua oksimoron yang bercampur dengan racun monoksida ini setiap hari. Dua puluh empat jam per hari, untuk berapa lama lagi? Tidak heran Sondang Hutagalung dulu membakar dirinya sendiri. 

Pasti ada alasan mengapa meme ini begitu populer

Begitulah, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat kuat namun sekaligus sangat rapuh. Ia juga entitas yang tak bisa hidup dalam kerumunan yang tidak pernah mendasari tindakannya dengan akal sehat. 

Selasa, 12 November 2013

"Awam Hakiki"



Kamis, 26 September 2013

Matari


And open wide the hymns you hide
You'll find renown while people frown
At the things that you say
But say what you'll say
About the farmers and the fun
And the things behind the sun
And the people 'round your head
Who say everything's been said
And the movement in your brain
Sends you out into the rain
- Nick Drake
Looking at the things behind the sun
from western to southern part of Java island

Minggu, 01 September 2013

Justifikasi

"Aku tidak butuh tokoh nyata untuk kukagumi," dia menjawab sederhana. "Sebesar-besarnya tokoh hidup, dia tetap manusia. Kita harus menyediakan maaf untuk kemanusiaannya. Bagiku memaafkan tokohku berarti menurunkan dia satu anak tangga. Tidak bisa. Dia tidak lagi di puncak kagumku."

Kembang Manggis (1985: 30)